Artikel · Potret Online

Satu Lagi Gugur, Korban Pelatihan Calon Manajer KDMP Menjadi Empat

Penulis  Rosadi Jamani
Juni 26, 2026
3 menit baca 5
47055ee7-9c2d-40ec-a60a-bb2a80896e37
Foto / IlustrasiSatu Lagi Gugur, Korban Pelatihan Calon Manajer KDMP Menjadi Empat

Oleh Rosadi Jamani

Saya kira tiga korban jiwa sudah menjadi batas. Saya salah. Kini jumlahnya menjadi empat. Duh, sedihnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Empat anak bangsa berangkat membawa mimpi, tetapi tak semuanya diberi kesempatan untuk pulang. Empat keluarga awalnya menyiapkan doa untuk menyambut keberhasilan, kini hanya mampu menyambut peti jenazah dengan air mata yang tak kunjung kering.

Program ini disebut sebagai upaya membentuk karakter, kepemimpinan, dan integritas. Sebanyak 30 ribu calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran di berbagai satuan pendidikan militer. Mereka datang dengan semangat. Mereka datang dengan sukarela. Mereka percaya sedang menjemput masa depan.

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan pun datang dengan keyakinan yang sama.

Peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia 2026 itu ditempatkan di Satuan Pendidikan Batalyon Komando 465 Pasgat, Jakarta Timur. Ia datang bukan untuk berperang. Ia datang untuk belajar menjadi manajer koperasi yang kelak diharapkan menggerakkan ekonomi desa.

Namun pada Kamis, 25 Juni 2026, Rifki mengeluhkan sesak napas. Tim kesehatan memberikan penanganan, kondisinya sempat membaik sehingga kembali mengikuti aktivitas. Siapa sangka, beberapa jam kemudian tubuhnya justru tak lagi mampu bertahan.

Ia dilarikan ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Dokter berusaha sekuat tenaga di ruang ICU. Semua ikhtiar dilakukan. Namun pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB, Rifki mengembuskan napas terakhir.

Yang paling menyayat bukan hanya kabar kematiannya.

Yang paling menyayat adalah membayangkan seorang ibu melepas anaknya dengan doa agar kelak pulang membawa prestasi, tetapi yang kembali justru jenazah. Membayangkan seorang ayah mungkin masih menyimpan pesan terakhir anaknya di telepon genggam, tanpa pernah menyangka itulah percakapan terakhir mereka.

Ironi itu terasa semakin pahit karena sebelum mengikuti program, Rifki telah melewati seluruh tahapan seleksi, termasuk pemeriksaan kesehatan. Ia dinyatakan memenuhi syarat.

Namun takdir sering kali tidak membaca hasil tes kesehatan.

Rifki bukan yang pertama.

Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada 17 Juni 2026 saat mengikuti latihan di Pusat Latihan dan Tempur Kodiklatad Baturaja akibat henti jantung.

Sehari kemudian, 18 Juni, Anisa Muyassaroh wafat di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan akibat heat stroke.

Pada 23 Juni, Novia Rahmadhani Sihotang meninggal di Kodiklatau Jakarta akibat tuberkulosis.

Kini Rifki menjadi korban keempat. Empat nama. Empat kehidupan yang berhenti terlalu cepat. Empat keluarga yang mungkin selamanya akan mengingat hari ketika telepon itu berdering, lalu dunia mereka runtuh hanya dalam beberapa kalimat.

Kementerian Pertahanan telah menyampaikan belasungkawa, mengantar jenazah ke daerah asal, memenuhi hak-hak peserta, serta menjanjikan evaluasi, penguatan seleksi kesehatan, deteksi dini, dan peningkatan pengawasan.

Semoga semua itu benar-benar menjadi pelajaran yang diwujudkan, bukan sekadar rangkaian kalimat dalam siaran pers.

Sebab tidak ada evaluasi yang mampu membangunkan seorang anak yang telah tertidur untuk selamanya. Tidak ada ucapan belasungkawa yang dapat menghapus tangis seorang ibu. Tidak ada kata “sukarela” yang mampu mengisi kembali kursi makan yang kini kosong di rumah mereka.

Tiga puluh ribu peserta masih menjalani pelatihan. Seluruh bangsa tentu berharap mereka kembali ke rumah dengan senyum, bukan dengan kabar duka.

Selamat jalan, Rifki. Selamat jalan, Yonanda. Selamat jalan, Anisa. Selamat jalan, Novia.

Semoga kalian menjadi empat nama terakhir yang harus dikenang dengan air mata. Sebab setiap anak bangsa yang gugur bukan sekadar kehilangan bagi keluarganya, melainkan luka bagi negeri yang seharusnya menjaga mereka tetap hidup untuk membangun masa depan.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...