POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sayap yang Tak Bisa Kupeluk

RedaksiOleh Redaksi
June 7, 2025
Sayap yang Tak Bisa Kupeluk
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Di Pegunungan Floraria, desa kecil bernama Sembada hidup dalam ketenangan yang nyaris beku. Di sanalah Maria tinggal bersama adiknya, Fabiela—gadis kecil lincah berusia tujuh tahun yang menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kedua orang tua mereka meninggal dalam longsor tiga tahun silam. Sejak itu, Maria tak pernah meninggalkan desa, tak pernah benar-benar bermimpi. Sampai hari itu datang.

Saat kabut pagi belum sepenuhnya sirna, Fabiela mengejar seekor kupu-kupu berwarna biru langit hingga ke tepi jurang. Jeritannya menggema. Maria berlari, napasnya memburu—dan dari langit, sesosok pria bersayap turun menyambarnya sebelum tubuh mungil itu jatuh.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Alberto—seorang manusia bersayap yang menyebut dirinya “pengembara langit”. Tubuhnya tegap, matanya hangat, dan senyumnya… entah mengapa membuat dada Maria terasa sesak.

“Terima kasih,” kata Maria pelan.

Alberto hanya tersenyum. “Aku hanya singgah. Tapi mungkin… aku ingin tinggal sedikit lebih lama.”

Hari-hari berikutnya, Maria menemukan dirinya menantikan suara langkah ringan Alberto setiap sore. Dia akan muncul entah dari mana, dengan sebatang bunga liar di tangan, atau sekeranjang apel curian dari kebun utara yang dia anggap sebagai “hadiah langit.”

Dia humoris, namun penuh perhatian. Saat Fabiela demam, Alberto terbang mencari tumbuhan obat ke puncak gunung. Saat Maria merasa lelah, ia duduk di dekatnya, hanya diam, mendengarkan.

Dan tanpa sadar, Maria jatuh cinta.

Namun cinta tak pernah sederhana.

Suatu malam, di tengah sinar bulan dan bisik angin, Alberto mengajak Maria naik ke tebing tinggi tempat mereka biasa berbicara tentang langit dan bumi. Di sana, ia berbicara dengan nada yang tak biasa.

“Aku tak bisa tinggal selamanya, Maria.”

Maria membeku. “Kau… akan pergi?”

📚 Artikel Terkait

Mengapa Mahasiswa Wajib Magang?

HABA Si PATok

Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

e-tikbroh.yak Kegiatan Pengelolaan Sampah untuk Anak-Anak

“Aku bukan bagian dari dunia ini. Tubuhku bisa bertahan, tapi jiwaku milik langit. Jika aku tinggal terlalu lama, aku akan kehilangan segalanya—sayapku, kekuatanku… hidupku.”

Maria menunduk. “Kalau begitu… ajak aku pergi.”

Alberto menoleh cepat, matanya membelalak. “Tidak. Kau punya Fabiela. Dia masih kecil. Dia butuhmu. Aku… aku tak bisa egois.”

“Aku mencintaimu, Alberto…” bisik Maria, suaranya nyaris tak terdengar.

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan aku mencintaimu lebih dari dunia manapun yang pernah kulintasi. Tapi cinta yang sejati… kadang harus tahu kapan melepaskan.”

Maria menangis malam itu. Alberto memeluknya erat, dengan sayap-sayapnya melingkupi tubuhnya seperti tirai hangat. Tak ada kata perpisahan. Hanya isak tertahan dan angin yang membelai rambutnya.

Namun keesokan paginya, Alberto masih ada.

“Aku menunggu,” katanya. “Sampai kau yakin. Aku tahu kau tak bisa memilih dengan mudah. Tapi bila kau ingin ikut bersamaku, aku akan terbang bersamamu, membawa Fabiela, mencari dunia baru.”


Konflik mulai muncul. Penduduk desa mulai bertanya-tanya, lalu mencurigai. Alberto dianggap pembawa malapetaka. Beberapa mengancam akan mengusirnya, bahkan melukai Fabiela jika Maria tidak segera menjauh dari pria bersayap itu.

Maria bingung. Hatinya terkoyak. Haruskah ia mempertahankan cinta, atau menjaga satu-satunya keluarga yang tersisa?

Pada suatu malam yang dingin, Maria duduk di samping Fabiela yang tertidur. Air matanya mengalir tanpa suara. Di luar jendela, sayap-sayap putih membentang dalam kegelapan.

Alberto menatapnya, tak berkata-kata.

Maria berdiri. “Aku tak bisa pergi sekarang.”

Alberto mengangguk, matanya memerah. Ia meraih tangan Maria, menciumnya pelan. “Kalau begitu… izinkan aku tinggal sedikit lebih lama. Sampai luka ini tak terasa sepedih malam ini.”

Dan sejak malam itu, tak ada perpisahan, tak ada kepastian. Hanya dua hati yang saling mencinta dalam diam, dan janji dalam bisu: bahwa jika suatu saat sayap tak lagi menjadi batas, mereka akan terbang bersama.

TAMAT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

4 Pulau Itu Milik Siapa?- Bincang Sore POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00