• Latest
Cita cita Anak Negeri Merdeka - 1000529164_11zon | Cerpen | Potret Online

Cita cita Anak Negeri Merdeka

April 24, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Cita cita Anak Negeri Merdeka - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Cita cita Anak Negeri Merdeka - 1000529164_11zon | Cerpen | Potret Online

Cita cita Anak Negeri Merdeka

Ilhamdi Sulaiman by Ilhamdi Sulaiman
April 24, 2025
in Cerpen
Reading Time: 4 mins read
0
596
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook



Oleh Ilhamdi Sulaiman.

Sepulang mengajar dari PAUD Kuntum Berseri, istriku tak seperti biasanya. Wajahnya redup, matanya kosong, seolah sinar yang biasa menyala di sana telah padam.
Aku menatapnya dari ambang pintu, bertanya-tanya dalam hati: apa yang telah merampas semangatnya hari ini? Padahal, setiap pagi ia berangkat dengan senyum yang menular, dengan langkah ringan membawa harapan bagi anak-anak kecil yang ia ajari dengan sepenuh cinta


Tanpa banyak kata, ia masuk ke kamar, mengganti seragam kerjanya dengan daster rumahan yang sudah usang, namun selalu membuatnya tampak paling nyaman. Tak lama, ia muncul lagi, memanggilku pelan.
“Ayo makan siang,” ucapnya datar, nyaris tanpa nyawa.


Di meja makan, lauk-pauk tersaji seperti biasa telah ia siapkan pagi tadi. Tapi kali ini, ada yang berbeda, Ia hanya makan sedikit, tak pula lahap berselera seperti biasa.


Ada keinginanku untuk bertanya,namun aku tahan keinginan itu sampai istriku sendiri yang bercerita. Seperti biasanya setiap hari bercerita sepanjang perjalanannya pergi dan pulang siang hari.


Ada saja yang ia ceritakan ketika pulang. Anak muda yang bawa motor ugal ugalan, Pak polisi yang menilang motor yang salah arah atau ibu anak muridnya yang menunggu anaknya seperti mau kondangan layaknya dengan make up dan perhiasan berlebihan. Tapi siang ini tidak. Ia murung dan lelah tampaknya.Rasa penasaranku setelah makan akhirnya tak bisa aku tahan lagi.


Di meja makan, lauk-pauk tersaji seperti biasa—sudah ia siapkan sejak pagi. Tapi ada yang berbeda kali ini. Ia hanya makan sedikit, tanpa lahap, tanpa selera seperti biasanya.
Ada dorongan dalam diriku untuk bertanya, namun kutahan. Aku memilih menunggu sampai ia sendiri yang bercerita. Seperti kebiasaannya setiap hari, ia akan mengisahkan banyak hal sepanjang perjalanan pergi dan pulang mengajar.


Selalu ada cerita darinya. Tentang anak muda yang ugal-ugalan di jalan, tentang Pak polisi yang menilang pengendara yang salah arah, atau tentang ibu-ibu yang menjemput anaknya dengan dandanan berlebihan, seperti hendak menghadiri pesta.
Namun siang ini, semuanya sunyi. Ia duduk diam, murung, dan tampak letih.
Rasa penasaranku semakin menyesak. Setelah makan, akhirnya aku tak bisa menahannya lagi.

Aku menatap wajahnya sejenak, memastikan bahwa pertanyaanku tak terdengar seperti tudingan. Dengan suara pelan, hampir menyatu dengan desir angin siang itu, aku berkata,
“Ada apa? Kenapa tak ada cerita tentang anak-anak di meja makan ini, seperti biasanya?

”
Ia tak segera menjawab. Hanya helaan napas panjang yang terdengar, seperti suara angin melewati celah pintu yang tak pernah tertutup sempurna.
“Anak-anak tadi menggambar cita-cita mereka,” ucapnya lirih, nyaris tanpa nyawa.
Aku mencoba menghidupkan suasana dengan senyum dan nada ringan.
“Pasti ada yang ingin jadi presiden, dokter, polisi… atau jangan-jangan tak satupun yang ingin jadi pengangguran seperti aku?”

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026


Ia tak tertawa. Tak juga tersenyum. Hanya menggeleng pelan.
“Tidak, Mas… Cita-cita mereka jauh dari yang pernah kupikirkan.”
Aku mencondongkan tubuh, dikuasai rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi kecemasan.
“Maksudmu?”


Ia menatap kosong ke dinding, lalu bercerita seperti membaca puisi yang kehilangan iramanya.
“Toni hanya menggambar sehelai dasi. Ketika kutanya, ia menjawab, ‘Ini dasi, Bu… kayak yang dipakai koruptor di televisi.’
Ardiansyah lain lagi. Ia menggambar kepala Singa—entah maknanya apa. Tapi katanya, ‘Aku ingin jadi pemimpin ormas, Bu… biar bisa jaga-jaga para pejabat yang kena masalah hukum.’
Dan Sri… Sri hanya menulis angka-angka yang tak berurutan. Saat kutanya, ia tersenyum santai dan berkata, ‘Aku ingin jadi Menteri Keuangan, Bu… biar bisa ambil uang pajak dari rakyat.’”


Kata-katanya menggantung di udara seperti kabut yang enggan hilang.
Aku menatapnya. Hening. Tak tahu harus menanggapi bagaimana.
Di usia yang seharusnya penuh harapan dan pelangi, anak-anak itu sudah belajar melihat dunia dari jendela yang retak.


Seketika aku teringat dasi lain—dasi yang kupakai saat hari pernikahan kami, dua puluh lima tahun lalu.
Masih tergantung rapi di rak baju, di lemari kayu yang kini mulai lapuk dimakan usia dan rayap kecil yang tak pernah diundang.


Kutarik dasi itu pelan. Kusentuh kainnya yang dingin, kusam, penuh debu kenangan.
Kukenang janji-janji yang dulu kuucap dengan suara gemetar dan mata penuh harap. Janji yang kini terasa seperti bisikan dari masa silam yang tak utuh lagi artinya.


Tiba-tiba, ada sesuatu dalam dadaku yang pecah.
Kugenggam dasi itu erat-erat. Kugenggam seperti menggenggam masa lalu yang tak bisa lagi kuselamatkan.
Lalu aku meremasnya…
Meremasnya sekuat tenaga, seolah bisa kuhancurkan semua yang membuat dunia ini begitu tak masuk akal bagi anak-anak.
Dan aku berteriak—teriakan panjang, lepas, seperti luka yang akhirnya menemukan suara.
“Apa yang kalian ajarkan pada anak-anak kami!?”
22 April 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238Tweet149
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post
Cita cita Anak Negeri Merdeka - REVISI | Cerpen | Potret Online

Perempuan Harus Tetap Cerdas, Apapun Perannya.

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com