POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cita cita Anak Negeri Merdeka

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
April 24, 2025
🔊

Dengarkan Artikel



Oleh Ilhamdi Sulaiman.

Sepulang mengajar dari PAUD Kuntum Berseri, istriku tak seperti biasanya. Wajahnya redup, matanya kosong, seolah sinar yang biasa menyala di sana telah padam.
Aku menatapnya dari ambang pintu, bertanya-tanya dalam hati: apa yang telah merampas semangatnya hari ini? Padahal, setiap pagi ia berangkat dengan senyum yang menular, dengan langkah ringan membawa harapan bagi anak-anak kecil yang ia ajari dengan sepenuh cinta


Tanpa banyak kata, ia masuk ke kamar, mengganti seragam kerjanya dengan daster rumahan yang sudah usang, namun selalu membuatnya tampak paling nyaman. Tak lama, ia muncul lagi, memanggilku pelan.
“Ayo makan siang,” ucapnya datar, nyaris tanpa nyawa.


Di meja makan, lauk-pauk tersaji seperti biasa telah ia siapkan pagi tadi. Tapi kali ini, ada yang berbeda, Ia hanya makan sedikit, tak pula lahap berselera seperti biasa.


Ada keinginanku untuk bertanya,namun aku tahan keinginan itu sampai istriku sendiri yang bercerita. Seperti biasanya setiap hari bercerita sepanjang perjalanannya pergi dan pulang siang hari.


Ada saja yang ia ceritakan ketika pulang. Anak muda yang bawa motor ugal ugalan, Pak polisi yang menilang motor yang salah arah atau ibu anak muridnya yang menunggu anaknya seperti mau kondangan layaknya dengan make up dan perhiasan berlebihan. Tapi siang ini tidak. Ia murung dan lelah tampaknya.Rasa penasaranku setelah makan akhirnya tak bisa aku tahan lagi.


Di meja makan, lauk-pauk tersaji seperti biasa—sudah ia siapkan sejak pagi. Tapi ada yang berbeda kali ini. Ia hanya makan sedikit, tanpa lahap, tanpa selera seperti biasanya.
Ada dorongan dalam diriku untuk bertanya, namun kutahan. Aku memilih menunggu sampai ia sendiri yang bercerita. Seperti kebiasaannya setiap hari, ia akan mengisahkan banyak hal sepanjang perjalanan pergi dan pulang mengajar.

📚 Artikel Terkait

GURU MENGHADAPI GEMPURAN TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA SOCIETY 5.0

Aku Membutuhkanmu

Saman Gayo

INNALILLAH MENJADI ALHAMDULILAH


Selalu ada cerita darinya. Tentang anak muda yang ugal-ugalan di jalan, tentang Pak polisi yang menilang pengendara yang salah arah, atau tentang ibu-ibu yang menjemput anaknya dengan dandanan berlebihan, seperti hendak menghadiri pesta.
Namun siang ini, semuanya sunyi. Ia duduk diam, murung, dan tampak letih.
Rasa penasaranku semakin menyesak. Setelah makan, akhirnya aku tak bisa menahannya lagi.

Aku menatap wajahnya sejenak, memastikan bahwa pertanyaanku tak terdengar seperti tudingan. Dengan suara pelan, hampir menyatu dengan desir angin siang itu, aku berkata,
“Ada apa? Kenapa tak ada cerita tentang anak-anak di meja makan ini, seperti biasanya?

”
Ia tak segera menjawab. Hanya helaan napas panjang yang terdengar, seperti suara angin melewati celah pintu yang tak pernah tertutup sempurna.
“Anak-anak tadi menggambar cita-cita mereka,” ucapnya lirih, nyaris tanpa nyawa.
Aku mencoba menghidupkan suasana dengan senyum dan nada ringan.
“Pasti ada yang ingin jadi presiden, dokter, polisi… atau jangan-jangan tak satupun yang ingin jadi pengangguran seperti aku?”


Ia tak tertawa. Tak juga tersenyum. Hanya menggeleng pelan.
“Tidak, Mas… Cita-cita mereka jauh dari yang pernah kupikirkan.”
Aku mencondongkan tubuh, dikuasai rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi kecemasan.
“Maksudmu?”


Ia menatap kosong ke dinding, lalu bercerita seperti membaca puisi yang kehilangan iramanya.
“Toni hanya menggambar sehelai dasi. Ketika kutanya, ia menjawab, ‘Ini dasi, Bu… kayak yang dipakai koruptor di televisi.’
Ardiansyah lain lagi. Ia menggambar kepala Singa—entah maknanya apa. Tapi katanya, ‘Aku ingin jadi pemimpin ormas, Bu… biar bisa jaga-jaga para pejabat yang kena masalah hukum.’
Dan Sri… Sri hanya menulis angka-angka yang tak berurutan. Saat kutanya, ia tersenyum santai dan berkata, ‘Aku ingin jadi Menteri Keuangan, Bu… biar bisa ambil uang pajak dari rakyat.’”


Kata-katanya menggantung di udara seperti kabut yang enggan hilang.
Aku menatapnya. Hening. Tak tahu harus menanggapi bagaimana.
Di usia yang seharusnya penuh harapan dan pelangi, anak-anak itu sudah belajar melihat dunia dari jendela yang retak.


Seketika aku teringat dasi lain—dasi yang kupakai saat hari pernikahan kami, dua puluh lima tahun lalu.
Masih tergantung rapi di rak baju, di lemari kayu yang kini mulai lapuk dimakan usia dan rayap kecil yang tak pernah diundang.


Kutarik dasi itu pelan. Kusentuh kainnya yang dingin, kusam, penuh debu kenangan.
Kukenang janji-janji yang dulu kuucap dengan suara gemetar dan mata penuh harap. Janji yang kini terasa seperti bisikan dari masa silam yang tak utuh lagi artinya.


Tiba-tiba, ada sesuatu dalam dadaku yang pecah.
Kugenggam dasi itu erat-erat. Kugenggam seperti menggenggam masa lalu yang tak bisa lagi kuselamatkan.
Lalu aku meremasnya…
Meremasnya sekuat tenaga, seolah bisa kuhancurkan semua yang membuat dunia ini begitu tak masuk akal bagi anak-anak.
Dan aku berteriak—teriakan panjang, lepas, seperti luka yang akhirnya menemukan suara.
“Apa yang kalian ajarkan pada anak-anak kami!?”
22 April 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Perempuan Harus Tetap Cerdas, Apapun Perannya.

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00