Artikel · Potret Online

Burung Pantau

Penulis Permata Fonna
Agustus 21, 2026
9 menit baca 28
c71d3152-f709-4889-8ee0-cc4e7a04f871
Foto / IlustrasiBurung Pantau

Oleh Permata Fonna

Tanggal 27 nanti, saya akan mengenakan toga. Saya membayangkan hari itu bukan hanya sebagai hari ketika sebuah jenjang pendidikan dinyatakan selesai, tetapi sebagai sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang. 

Saya ingin melihat kembali rumah tempat saya tumbuh, orang tua yang membesarkan saya, sekolah-sekolah yang pernah saya jalani, pekerjaan kecil yang pernah saya lakukan, kegagalan yang pernah saya rasakan, dan mimpi-mimpi yang dahulu terasa terlalu jauh. Dari sana saya ingin mengatakan kepada diri sendiri: ternyata sebagian mimpi itu benar-benar bisa menjadi kenyataan.

Saya tidak lahir dari keluarga yang memiliki banyak modal. Tidak ada harta besar yang menunggu diwariskan kepada kami. Tidak ada jabatan atau kekuasaan yang dapat menjadi jalan pintas menuju masa depan. Kami adalah keluarga sederhana, bahkan sangat dekat dengan apa yang hari ini disebut working class. 

Kalau ada pekerjaan, kami bekerja. Kalau ada pemasukan, kami makan. Kalau sedang tidak ada, kami mencari cara agar hari berikutnya tetap berjalan. Tetapi ada satu modal yang tidak pernah terasa kurang di rumah kami: keberanian untuk bermimpi.

Saya adalah anak pertama dari lima bersaudara. Semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa posisi sebagai anak pertama membawa tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Saya bukan hanya seorang anak yang sedang mengejar pendidikan. Tanpa saya sadari, saya juga sedang dilihat oleh adik-adik saya. Apa yang saya lakukan hari ini mungkin menjadi salah satu gambaran bagi mereka tentang apa yang mungkin dilakukan esok hari. 

Karena itu, perjalanan saya akhirnya bukan hanya tentang bagaimana saya ingin menjadi seseorang, tetapi juga tentang bagaimana saya dapat membuka sedikit jalan bagi mereka yang datang setelah saya.

Sejak sekolah dasar, hidup saya sudah membawa saya berpindah-pindah. Saya pernah ikut ayah hijrah ke luar negeri, mengalami lingkungan yang berbeda, kemudian kembali lagi ke Aceh. Ketika kembali, perjalanan pendidikan saya tidak serta-merta menjadi mudah. Saya pernah ditolak di beberapa sekolah atau madrasah di kawasan Bener Meriah. 

Pada akhirnya saya bersekolah di sebuah sekolah swasta di kawasan Kajhu, kawasan yang juga mempunyai sejarah panjang kehidupan masyarakat setelah tsunami.

Sekolah itu bukan sekolah yang dikenal sebagai sekolah unggulan. Tetapi justru di sanalah saya memperoleh salah satu pelajaran terpenting dalam hidup saya.

Ayah pernah mengatakan kepada saya, sekolah yang bagus memang penting, tetapi tidak semua keluarga mampu membayar harga untuk masuk ke sana. Sekolah unggulan biasanya berada di pusat kota. Ada biaya, transportasi, waktu, dan berbagai pengorbanan yang harus ditanggung. 

Bagi keluarga kami, semua itu tidak selalu mudah. Karena itu, ketika kami tidak mampu memilih sekolah yang dianggap unggul, ayah mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: kalau sekolah kita tidak unggul, maka diri kitalah yang harus unggul.

Kalimat itu sederhana, tetapi saya membawanya cukup jauh.

Saya mulai belajar dengan sungguh-sungguh. Di sekolah yang sederhana itu saya pernah mencapai peringkat kedua. Guru-guru mulai mempercayai saya untuk mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan dan perlombaan. Saya pernah mengikuti lomba pidato bahasa Inggris tingkat Aceh Besar dan beberapa kegiatan lainnya di wilayah Bener Meriah. 

Tidak semua berakhir dengan kemenangan. Banyak persaingan yang jauh lebih kuat. Ada saatnya saya pulang tanpa membawa hadiah.

Tetapi kemudian saya memahami bahwa tidak semua keberhasilan harus berbentuk piala.

Ada kemenangan ketika seorang anak yang awalnya takut, berani berdiri di depan orang banyak. Ada kemenangan ketika seseorang yang kalah masih mau kembali mengikuti perlombaan berikutnya. Ada kemenangan ketika kita mulai percaya bahwa kemampuan kita tidak ditentukan oleh nama sekolah yang tercetak di seragam.

Enam bulan sebelum saya menyelesaikan SMA, sebuah kesempatan datang. Saya diterima sebagai mahasiswa undangan bebas tes di salah satu program studi Fakultas Matematika dan Ilmu Alam. Bagi keluarga kami, itu bukan sekadar penerimaan mahasiswa. Itu seperti sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka dan menunjukkan bahwa jalan ke perguruan tinggi memang tersedia bagi saya.

Perjalanan itu kemudian membawa saya sampai ke Universitas Syiah Kuala. Bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana, saya mendapatkan kesempatan mengikuti program fast track menuju magister Ilmu Kimia dengan skema biaya yang lebih ringan. Semua itu tentu saya syukuri. 

Tetapi saya tidak ingin melihatnya sebagai bukti bahwa saya lebih hebat daripada orang lain. Saya justru melihatnya sebagai bukti bahwa kesempatan sering kali datang kepada orang yang terus mempersiapkan diri, bahkan ketika tidak ada yang menjanjikan bahwa kesempatan itu akan datang.

Di balik semua pencapaian pendidikan itu, ada kehidupan lain yang juga berjalan.

Kami pernah berada pada masa ketika uang keluarga benar-benar harus dihitung. Ketika keadaan seperti itu datang, saya dan adik-adik ikut membantu. Ada malam ketika kami menyiapkan keripik. Pagi harinya, sebelum berangkat sekolah, keripik itu digoreng dan dititipkan di kantin. Sepulang sekolah kami melihat berapa yang terjual. Kadang habis. Kadang masih tersisa. Besok kami lakukan lagi.

Saya tidak pernah menganggap pengalaman itu sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.

Sampai hari ini pun saya masih membuat mie dan bihun, membungkusnya, lalu menitipkannya di warung-warung kopi di kawasan Kajhu. Ada hari ketika semuanya habis. Ada hari ketika tidak. Tetapi saya belajar bahwa bekerja bukan sesuatu yang membuat seseorang menjadi rendah. Justru bekerja mengajarkan kita menghargai setiap rupiah, setiap kesempatan, dan setiap orang yang berjuang dengan tangannya sendiri.

Mungkin karena terbiasa hidup seperti itu, saya juga menemukan kegembiraan ketika dapat membantu teman-teman. Kadang ada yang membutuhkan bantuan mengerjakan tugas, menyusun tulisan kecil, memahami pekerjaan rumah, atau tiba-tiba harus tampil di depan orang banyak dan membutuhkan seseorang untuk menyemangati. Saya mencoba membantu sebisanya. Saya tidak selalu mempunyai jawaban terbaik, tetapi saya tahu bagaimana rasanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Coba saja. Jangan takut.”

Barangkali kebiasaan itu juga tumbuh dari lingkungan keluarga. Ayah saya sejak dulu sering membantu orang lain dalam belajar, menulis, dan berbagai urusan. Dari sana saya belajar bahwa ilmu tidak harus berhenti pada diri sendiri. Kalau kita mempunyai sedikit kemampuan, mungkin kemampuan itu menjadi lebih berarti ketika dapat membantu orang lain.

Ketika saya melihat perjalanan ini sekarang, saya semakin sadar bahwa tidak ada satu pun pencapaian saya yang berdiri sendiri.

Ada ibu yang sangat tabah di belakang saya. Ia seorang ibu rumah tangga sederhana, tetapi dalam kehidupan keluarga yang penuh keterbatasan, ia menjadi tulang punggung kedua setelah ayah. Ia mengurus rumah, anak-anak, kebutuhan sehari-hari, dan ikut memikirkan bagaimana keluarga dapat terus bertahan. Ia mungkin tidak pernah berdiri di podium menerima penghargaan, tetapi sebagian besar perjalanan saya sebenarnya juga merupakan perjalanan dirinya.

Ada pula adik-adik saya yang sekarang mulai menemukan jalan masing-masing. Rahman Adi Bintang, misalnya, mendapatkan kesempatan melalui beasiswa KIP dan kini menjadi mahasiswa di USK. Adik-adik lainnya masih berada di SMP dan SD. Mereka memiliki kemampuan dan bakat masing-masing. Saya tidak ingin mereka merasa harus menjadi seperti saya. Saya justru ingin mereka menemukan bentuk terbaik dari diri mereka sendiri.

Di sinilah saya menemukan makna sebuah istilah yang sangat saya sukai: burung pantau.

Dalam pemahaman saya, burung pantau adalah burung yang dipelihara dan dilatih bernyanyi untuk menarik burung-burung lain mendekat. Saya melihatnya sebagai metafora yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga kami. Anak pertama mungkin tidak harus menjadi anak yang paling hebat. Ia hanya perlu berani terbang lebih dahulu, agar adik-adiknya tahu bahwa ada langit yang lebih luas daripada yang selama ini mereka lihat.

Saya ingin menjadi burung pantau bagi adik-adik saya.

Bukan karena saya sudah berhasil sepenuhnya. Bukan karena saya sudah sampai di tempat tertinggi. Bahkan saya sadar, perjalanan saya masih sangat panjang. Tetapi saya ingin mereka melihat bahwa seseorang dari keluarga sederhana bisa mencoba. Bahwa sekolah yang tidak unggul bukan berarti kehidupan seseorang juga tidak boleh unggul. Bahwa bekerja sambil belajar bukanlah aib. Bahwa gagal dalam perlombaan bukan akhir. Bahwa keadaan ekonomi keluarga boleh membatasi sebagian pilihan, tetapi tidak harus membatasi ukuran cita-cita.

Saya juga menulis ini untuk anak-anak lain yang mungkin sedang berada dalam keadaan seperti saya dahulu. Mungkin mereka sedang duduk di sekolah yang tidak terkenal. Mungkin orang tuanya sedang menghitung uang belanja untuk esok hari. Mungkin mereka merasa minder karena teman-temannya memiliki fasilitas yang lebih baik. Mungkin mereka berpikir bahwa mimpi besar hanya milik anak-anak dari keluarga berada.

Saya ingin mengatakan: jangan mengecilkan mimpi hanya karena modal kita kecil.

Kita memang tidak selalu dapat memilih dari mana kita memulai. Tetapi kita masih dapat memilih ke mana kita akan berjalan.

Saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan sekolah mana yang kita masuki atau gelar apa yang kita peroleh. Pendidikan adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan ketika keadaan sedang menunjukkan keterbatasan. Pendidikan membuat kita berani berkata, “Saya mungkin tidak memiliki semuanya hari ini, tetapi saya masih bisa berusaha menjadi sesuatu.”

Tanggal 27 nanti, ketika saya mengenakan toga, saya akan membawa semua cerita itu bersama saya. Saya akan membawa cerita tentang sekolah yang sederhana, tentang perlombaan yang tidak selalu menang, tentang keripik yang digoreng sebelum sekolah, tentang mie dan bihun yang masih saya titipkan sampai sekarang, tentang guru-guru yang pernah percaya kepada saya, tentang ayah dan ibu yang terus mendoakan, dan tentang adik-adik yang mudah-mudahan kelak terbang lebih tinggi.

Saya tidak ingin menjadikan wisuda ini sebagai pernyataan bahwa saya telah berhasil.

Saya ingin menjadikannya sebagai pernyataan bahwa satu bagian dari mimpi telah tercapai.

Masih banyak yang belum saya tahu. Masih banyak yang harus saya pelajari. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Masih ada kemungkinan gagal, kecewa, dan harus memulai kembali. Tetapi saya tidak lagi takut kepada perjalanan itu.

Sebab saya tahu dari mana saya berasal.

Saya berasal dari rumah sederhana, dari keluarga yang bekerja keras, dari orang tua yang tidak mempunyai banyak harta tetapi mempunyai mimpi besar untuk anak-anaknya.

Saya membawa doa seorang ibu.

Saya membawa pelajaran dari seorang ayah.

Saya membawa harapan empat orang adik.

Dan saya membawa keyakinan bahwa kehidupan tidak harus dimulai dengan kemewahan untuk menghasilkan sesuatu yang berarti.

Mimpi saya sebagian telah tercapai.

Setelah tanggal 27, saya akan mulai mengejar mimpi berikutnya.

Dan kalau suatu hari nanti adik-adik saya berdiri jauh lebih tinggi daripada saya, saya tidak akan merasa mereka meninggalkan saya. Justru saat itulah saya merasa perjalanan saya benar-benar berhasil.

Sebab barangkali begitulah arti menjadi burung pantau.

Bukan menjadi burung yang paling tinggi terbangnya.

Tetapi menjadi burung yang terbang lebih dahulu, sehingga burung-burung setelahnya berani mengepakkan sayap.

Saya ingin terbang lebih dahulu.

Agar mereka tahu bahwa langit itu luas.

Agar mereka tahu bahwa keterbatasan bukan akhir.

Agar mereka tahu bahwa dari rumah sederhana pun, seseorang boleh mempunyai mimpi yang besar.

Dan agar suatu hari nanti, ketika mereka terbang lebih tinggi daripada saya, mereka tidak lupa bahwa perjalanan itu pernah dimulai dari sebuah keluarga kecil yang hanya mempunyai dua hal: doa dan keberanian untuk bermimpi.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Permata Fonna
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...