Esai · Potret Online

Oro-oro Ombo: Kirab yang Mengarak Ingatan Kebudayaan 

Juli 24, 2026
6 menit baca 24

Oleh: Fileski Walidha Tanjungu

Kita semakin pandai membangun ruang, tetapi semakin gagap merawat asal-usul. Kita mendirikan bangunan yang menjulang, menata jalan yang rapi, menggelar panggung yang megah, namun sering lupa pada satu hal yang paling mendasar: ingatan. Padahal sebuah wilayah tidak pernah lahir hanya karena batas administrasi. Ia lahir dari jejak langkah manusia pertama yang berani berdialog dengan alam, dari cerita yang diwariskan, dari nilai yang terus dipelihara. Ketika ingatan itu memudar, sesungguhnya yang hilang bukan sekadar sejarah, melainkan identitas.

Kesadaran itulah yang saya rasakan ketika mengikuti rangkaian Bersih Desa dan Kirab Budaya Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kota Madiun, yang berlangsung selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 3–4 Juli 2026. Acara ini bukan hanya perayaan tahunan yang dipenuhi kirab, pertunjukan seni, dan doa bersama. Di balik seluruh prosesi itu, saya melihat sebuah masyarakat yang sedang berusaha menjaga percakapan dengan masa lalunya.

Hari pertama dimulai sejak pagi. Buceng diantarkan menuju Punden Mbah Mburi, kemudian masyarakat berkumpul dalam doa bersama. Saya menemukan sesuatu yang semakin langka pada kehidupan modern: kesediaan manusia untuk berhenti sejenak dan mengingat. Doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual. Ia adalah pengakuan bahwa kehidupan hari ini tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang lebih dahulu membuka jalan.

Keesokan harinya, suasana berubah menjadi semarak. Kirab budaya bergerak dari Jalan Telasih menuju Kantor Kelurahan. Hadrah menyambut para tamu. Sambutan lurah disampaikan dengan penuh harapan. Santunan diberikan kepada anak-anak yatim sebagai pengingat bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang kepedulian kepada sesama. Setelah doa bersama, panggung budaya menampilkan berbagai kesenian masyarakat, mulai dari pencak silat PSHT, tari Banyuwangi dari RT 19, pencak silat PSHW, hingga monolog yang saya bawakan berjudul Sebuah Kirab Ingatan, dan ditutup oleh pentas campursari yang menyatukan warga dalam kegembiraan.

Semua itu tampak seperti sebuah pesta budaya. Namun saya justru melihatnya sebagai sebuah pertanyaan besar yang sedang diajukan kepada kita semua: apa sebenarnya yang sedang kita arak dalam sebuah kirab?

Kirab sering dipahami sebagai arak-arakan benda. Buceng diangkat. Gunungan dipikul. Barisan berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan. Tetapi bukankah yang paling penting justru sesuatu yang tidak tampak? Yang sesungguhnya sedang diarak adalah ingatan kolektif. Tradisi bukan benda mati yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tradisi adalah makna yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itulah saya merasa tersentuh ketika Budayawan Titus Tri Wibowo menyampaikan kegelisahannya. Menurut beliau, kirab budaya tahun ini berlangsung sangat meriah. Partisipasi masyarakat luar biasa. Semangat gotong royong terasa begitu hidup. Akan tetapi, ada satu ruang yang masih belum terisi, yakni hadirnya ikon budaya yang benar-benar lahir dari sejarah Oro-Oro Ombo sendiri.

Beliau mengingatkan bahwa kelurahan ini memiliki sosok Mbah Mburi, tokoh yang dipercaya sebagai pembabat wilayah tersebut. Dahulu kawasan Oro-Oro Ombo bukanlah permukiman seperti sekarang. Ia berupa hamparan rawa yang dihuni banyak biawak. Masyarakat setempat menyebutnya nyambik. Dari bentang alam itulah kehidupan perlahan bertumbuh hingga menjadi kampung yang kita kenal hari ini.

Pernyataan itu membuka perspektif yang menarik. Selama ini banyak daerah berlomba menghadirkan ikon budaya yang spektakuler. Namun sering kali ikon itu lahir dari imajinasi yang terlepas dari akar sejarahnya sendiri. Padahal sebuah identitas tidak perlu diciptakan dari nol. Ia sudah ada, tinggal dibaca kembali.

Dari sanalah lahir gagasan yang menurut saya layak mendapat perhatian lebih serius. Bersama rekan-rekan seniman Jaringan Kesenian Madiun, kami mengembangkan konsep kesenian “Nyambikan”. Jika daerah lain memiliki bantengan, caplokan, atau reog’an sebagai representasi sejarah dan kosmologi masyarakatnya, maka Oro-Oro Ombo sesungguhnya memiliki potensi menghadirkan kesenian yang berpijak pada narasi lokalnya sendiri.

Namun Nyambikan tidak seharusnya dipahami sebagai pertunjukan tentang manusia melawan biawak. Tafsir semacam itu justru terlalu dangkal. Dalam pembacaan yang lebih filosofis, Mbah Mburi bukanlah sosok yang menaklukkan alam melalui kekerasan. Ia adalah manusia yang berhasil membangun keselarasan antara keberanian dan kebijaksanaan. Sementara nyambik bukan sekadar satwa penghuni rawa. Ia melambangkan alam liar, naluri purba, sekaligus kekuatan yang telah lebih dahulu mendiami ruang sebelum manusia datang.

Dengan demikian, perjumpaan Mbah Mburi dan nyambik merupakan simbol lahirnya peradaban. Peradaban yang sejati tidak dimulai ketika manusia mengalahkan alam, melainkan ketika manusia belajar membaca bahasa alam, memahami batasnya, lalu hidup berdampingan dengannya. Nyambikan menjadi representasi dialog antara manusia dan lingkungan, bukan kisah penaklukan.

Visualisasi Mbah Mburi yang menghadapi kawanan nyambik dapat dimaknai sebagai pergulatan batin setiap manusia. Nyambik adalah ketakutan, keserakahan, dan kekacauan yang selalu muncul setiap kali sebuah kehidupan baru hendak dibangun. Sementara Mbah Mburi melambangkan kebijaksanaan yang mampu mengubah ketakutan menjadi pijakan untuk melangkah. Dalam konteks hari ini, Nyambikan dapat menjadi kritik terhadap cara pandang modern yang sering memisahkan manusia dari alam. Ketika rawa dianggap sekadar lahan kosong yang harus ditimbun, pohon hanya dipandang sebagai kayu, dan sungai diperlakukan sebagai saluran limbah, sesungguhnya kita sedang kehilangan kemampuan membaca simbol-simbol kehidupan.

Mungkin inilah saatnya kebudayaan tidak lagi dipahami hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai cara sebuah masyarakat mengingat dirinya sendiri. Sebuah pertunjukan yang lahir dari sejarah lokal memiliki daya hidup yang jauh lebih panjang daripada pertunjukan yang sekadar mengejar kemeriahan. Ia menjadi ruang pendidikan, ruang refleksi, sekaligus ruang tempat generasi muda menemukan akar identitasnya.

Punden Mbah Mburi hari ini memang masih berdiri, tetapi tetenger utamanya telah tumbang. Pohon tua yang selama puluhan tahun menjadi penanda situs itu telah rebah dimakan usia. Pemandangan tersebut terasa seperti sebuah metafora. Jangan-jangan yang sedang tumbang bukan hanya pohon, melainkan juga kesadaran kita untuk menjaga jejak-jejak yang membentuk peradaban. Barangkali yang paling mendesak bukan sekadar memperbaiki situsnya sebagai ikon budaya, melainkan menghidupkan kembali narasi yang dikandungnya. Sebab sebuah punden tanpa cerita hanyalah sebidang tanah, sementara sebuah cerita yang terus dirawat mampu menghidupkan sebuah kampung lintas generasi.

Pada akhirnya, Bersih Desa bukan hanya membersihkan ruang, melainkan membersihkan cara kita memandang masa lalu. Kirab budaya bukan sekadar arak-arakan, melainkan perjalanan batin untuk mengembalikan ingatan yang tercerai-berai. Dan Nyambikan, apabila kelak benar-benar lahir sebagai kesenian khas Oro-Oro Ombo, bukan hanya akan menjadi tontonan, tetapi juga pengetahuan yang bergerak, menghubungkan rawa dengan kota, leluhur dengan anak-anak, serta sejarah dengan masa depan.

Lalu pertanyaan yang patut kita renungkan bukanlah apakah tradisi masih relevan pada zaman yang berubah begitu cepat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: jika sebuah masyarakat berhenti mengingat asal-usulnya, dari mana ia akan belajar mengenali arah masa depannya? Sebab setiap peradaban yang kehilangan ingatan pada akhirnya hanya akan menjadi keramaian yang pandai berjalan, tetapi tidak lagi tahu ke mana seharusnya melangkah.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...