Esai · Potret Online

Ketika Messi Diam, Argentina yang Berbicara

Penulis Saiful Bahri
Juli 16, 2026
3 menit baca 9
IMG_2171
Foto / IlustrasiKetika Messi Diam, Argentina yang Berbicara

Oleh Saiful Bahri


Dari Maradona 1986 ke Messi 2026, Warisan Mega Bintang yang Tak Pernah Mati
Bedah Semifinal Piala Dunia 2026: Argentina 2-1 Inggris

PEMBUKA
Ada yang unik dari Argentina. Setiap 20 tahun sekali, Tuhan seolah “mengirim” 1 manusia istimewa untuk tim Tango.
1986 ada Diego Maradona. 2022-2026 ada Lionel Messi.
Dan di tengah tuduhan “Argentina anak emas FIFA” yang ramai di grup WA, kita perlu bertanya: Mungkinkah ini hanya kebetulan? Atau memang ada warisan mental yang tidak dimiliki tim lain?

ISI 1: SEMALAM BUKAN TENTANG GOL, TAPI TENTANG PENGORBANAN


Rabu, 15 Juli 2026 dini hari di Atlanta. Skor 0-1 sampai menit 85.
Banyak tim sudah menyerah. Tapi tidak untuk Argentina.

  1. Menit 85: Enzo Fernandez. Tembakan jarak jauh. 1-1.
  2. Menit 90+2: Lautaro Martinez. Sundulan dari umpan Messi. 2-1.

Tidak ada penalti. Tidak ada hadiah. Yang ada hanya 1 tim yang percaya sampai peluit akhir, dan 1 tim yang mundur setelah unggul.
Itulah mental juara. Bertanding 90 menit penuh. Karena bagi Argentina: “Menyerah berarti kalah”

ISI 2: KETIKA MESSI DIAM, RUANG TERBUKA


Messi semalam memang tidak mencetak gol. Tapi apakah dia “diam”?
Tebtu tidak.
Dia dikawal 3 pemain Inggris setiap kali dia menguasai bola. Dan itu strategi yang benar. Karena semua pelatih tahu: vetapw vahaya bila membiarkan seorang Messi bebas 1 detik saja bisa fatal.
Tapi justru di situlah “magic”-nya. Saat 3 orang mengejar Messi, ruang gerak ubtuk penain lain seoerti Enzo dan Lautaro jadi kosong.
Saya teringat tahun 1986. Saat itu Maradona juga dikawal ketat , dikawal habis -habisan. Dia tidak cetak gol di Final, tapi karena dia ditarik ke tengah, ruang untuk Jorge Burruchaga dan Caniggia terbuka. Argentina juara.
40 tahun kemudian, skenarionya sama. Messi jadi “umpan” agar timnya menang. Assist menit 92 ke Lautaro adalah bukti.
Ini bukan settingan FIFA. Ini warisan DNA Argentina: punya 1 pemain yang rela “berkorban” demi tim.

ISI 3: JANGAN NODAI SEJARAH DENGAN TUDUHAN


Yang paling keras bilang “FIFA sudah atur” biasanya dari fans yang timnya sudah pulang lebih dulu. Jerman, Brasil. Wajar, kecewa.
Tapi mari jujur. Dari 1978, 1986, 2022… Argentina juara karena mereka punya 3 hal: Skill, Mental, dan Momen.
FIFA tidak bisa menciptakan Messi. FIFA tidak bisa menciptakan mental 90+2.
Kalau semua “diatur”, kenapa Argentina harus tertinggal dulu di menit 55? Kenapa harus nunggu sampai detik – detik terakhir untuk mengejar ketinggalan? bersikap adil

Allah berfirman: “…dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil…” QS. Al-Maidah: 8
Sebagai penonton, mari adil. Hormati kerja keras para pemain di lapangan

PENUTUP: WARISAN YANG TAK PUTUS
Dari Maradona ke Messi. Dari Caniggia ke Lautaro.
Argentina mengajarkan kita 1 hal: Bintang boleh berganti, tapi mental juara tidak pernah mati.
Minggu depan mereka lawan Spanyol di Final. Entah Messi angkat trofi lagi atau tidak, yang pasti: Argentina sudah membuktikan. Mereka menang karena mereka tidak pernah berhenti berjuang.
Bukan karena “anak emas”. Tapi karena mereka “anak yang tak pernah menyerah”.

VAMOS ARGENTINA! VAMOS FUTBOL!

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...