Republik Para Penjilat

Ketika Jabatan Dikerumuni Pedagang Loyalitas
Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Pengamat Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala
Setiap kali seorang pemimpin dilantik, pemandangan yang sama selalu berulang. Telepon berdering tanpa henti. Pesan WhatsApp berdatangan dari berbagai penjuru. Karangan bunga memenuhi halaman kantor. Spanduk ucapan selamat terbentang di sudut-sudut kota. Media memberitakan pelantikan. Mereka yang dahulu terasa jauh mendadak menjadi sangat dekat.
Hari itu, seorang pejabat merasa dirinya begitu dihormati. Namun sejarah mengajarkan bahwa tidak semua yang datang membawa ucapan selamat datang membawa ketulusan.
Sebagian hadir karena persahabatan. Sebagian lagi datang karena harapan. Dan tidak sedikit yang datang karena kepentingan.
Inilah awal dari sebuah ironi yang hampir selalu menyertai lahirnya kekuasaan.
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin ramai orang-orang yang mengelilinginya. Tetapi semakin ramai lingkungan kekuasaan, belum tentu semakin banyak orang yang benar-benar ikhlas berada di sisinya.
Dalam sosiologi, tindakan manusia tidak selalu digerakkan oleh nilai moral. Max Weber menjelaskan bahwa banyak tindakan lahir dari rasionalitas instrumental, yaitu tindakan yang didasarkan pada perhitungan untung dan rugi. Ketika logika seperti ini memasuki ruang kekuasaan, kedekatan dengan pemimpin sering berubah menjadi investasi sosial. Relasi tidak lagi dibangun semata-mata atas dasar pengabdian, melainkan sebagai jalan memperoleh akses, pengaruh, jabatan, proyek, atau berbagai keuntungan lainnya.
Di sinilah lahir kelompok yang saya sebut sebagai pedagang loyalitas. Mereka menjadikan kesetiaan sebagai komoditas.
Hari ini mereka menjual loyalitas kepada pemimpin yang baru. Besok mereka menawarkan loyalitas yang sama kepada penggantinya. Lusa mereka mengaku sejak awal berada di pihak yang menang.
Kesetiaan mereka bukan kepada institusi. Bukan kepada rakyat. Bukan pula kepada nilai-nilai. Kesetiaan mereka mengikuti perpindahan kursi kekuasaan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika pribadi. Ia adalah persoalan budaya organisasi.
Ketika meritokrasi melemah, ruang kosong akan segera diisi oleh patronase. Kompetensi mulai dikalahkan oleh kedekatan. Integritas kalah bersaing dengan kemampuan menyenangkan hati atasan. Orang-orang yang bekerja dalam diam perlahan tersingkir, sementara mereka yang mahir membangun citra semakin dekat dengan pusat keputusan.
Pierre Bourdieu menyebut bahwa kekuasaan sering dipertahankan melalui modal sosial dan kekuasaan simbolik. Pengaruh tidak selalu lahir dari kompetensi, tetapi juga dari kemampuan menguasai jaringan, memperoleh pengakuan, dan membangun kedekatan. Dalam situasi seperti itu, pujian berubah menjadi alat transaksi. Senyum menjadi strategi. Bahkan loyalitas pun dapat diperdagangkan.
Inilah saat ketika seorang pemimpin memasuki ruang yang paling sunyi. Kesunyian itu bukan karena tidak ada orang di sekelilingnya.
Justru sebaliknya. Ruangan penuh. Telepon terus berbunyi. Tamu silih berganti. Tetapi suara yang jujur mulai menghilang. Yang terdengar hanyalah gema pujian. Sungguh, begitulah “Republik Para Penjilat”.
Padahal gema tidak pernah menunjukkan arah. Ia hanya mengulang apa yang ingin didengar oleh pemilik kekuasaan.
Dalam dunia organisasi, keadaan seperti ini dikenal sebagai groupthink, ketika keberanian mengoreksi dikalahkan oleh keinginan menyenangkan pemimpin. Kritik dianggap ancaman. Perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai ketidaksetiaan. Padahal organisasi yang kehilangan kritik sedang kehilangan masa depannya.
Karena itu, pemimpin yang bijaksana tidak membutuhkan lebih banyak penjilat. Ia membutuhkan lebih banyak sahabat yang berani mengatakan, “Maaf, keputusan ini perlu dipertimbangkan kembali.”
Seorang pemimpin yang hanya mendengar pujian sesungguhnya sedang kehilangan kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Sementara mereka yang setiap hari membisikkan pujian belum tentu sedang menyelamatkan pemimpinnya.
Boleh jadi mereka sedang menyelamatkan kepentingan mereka sendiri. Jabatan pada hakikatnya bukanlah hadiah. Ia adalah amanah publik. Ia bukan milik keluarga. Bukan pula milik kelompok pendukung. Apalagi milik para pemburu rente.
Jabatan adalah titipan rakyat yang kelak dipertanggungjawabkandan bukan hanya di hadapan sejarah, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Karena itu, janganlah terlalu cepat merasa dicintai hanya karena banyak orang datang mengucapkan selamat.
Tunggulah hingga masa jabatan berakhir. Ketika papan nama telah diturunkan. Ketika ruang kerja telah ditempati orang lain. Ketika telepon mulai sunyi. Ketika tidak ada lagi karangan bunga yang berdiri di halaman.
Lihatlah siapa yang masih datang tanpa membawa kepentingan. Di situlah engkau akan mengenal arti persahabatan. Di situlah engkau akan memahami bahwa loyalitas sejati tidak pernah menunggu imbalan.
Pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat berapa banyak karangan bunga yang berdiri di depan kantor seorang pejabat. Sejarah hanya mengingat apakah kekuasaan itu melahirkan keadilan, menghadirkan kemaslahatan, memperkuat institusi, dan meninggalkan jejak pengabdian.
Janganlah mengejar jabatan hingga kehilangan kehormatan. Sebab jabatan hanyalah persinggahan, sedangkan kehormatan adalah tempat nama kita akan pulang. Karena bukan jabatan yang membuat seseorang menjadi besar. Justru cara ia memperlakukan jabatannyalah yang akan membesarkan atau mengerdilkan namanya di hadapan manusia, di hadapan sejarah, dan di hadapan Allah SWT. Wallahu ‘Aklam Bisshawab.












