Yang Suka Korupsi Ada Baiknya Baca Tausiyah Ini

Oleh Rosadi Jamani
Masih suasana Tahun Baru Islam. Ada ustaz mengirimi saya sebuah tausiyah. Keren sekali isinya. Saya coba ulas dengan gaya camanewak. Simak ulasannya sambil seruput Koptagul, wak!
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H akhirnya datang. Kalender berganti. Ucapan selamat bertebaran. Grup WA mendadak religius. Foto profil yang kemarin masih pose di depan mobil dinas hari ini berubah menjadi gambar masjid dengan tulisan “Mari Hijrah Menuju Kebaikan.”
Indah sekali.
Begitu indah sampai beberapa koruptor mungkin ikut terharu sambil menghitung saldo rekening yang jumlah digitnya lebih panjang dari doa akhir tahun.
Di tengah suasana itu, Ustaz Harjani Hefni, dosen IAIN Pontianak, alumni Ponpes Ushuluddin Singkawang, lulusan Universitas Islam Madinah, serta doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan tausiyah tentang lima bidang perbaikan hidup yang harus menjadi arah hijrah di tahun baru. Pesannya sederhana. Perbaiki agama, perbaiki dunia, perbaiki akhirat, perbanyak kebaikan, dan jauhi segala fitnah serta keburukan.
Sederhana. Tapi bagi sebagian pejabat yang hobinya mengunyah APBD seperti kerupuk udang, tausiyah ini bisa terasa lebih mengerikan dari surat panggilan penyidik.
Poin pertama adalah perbaikan agama. Tandanya semakin ikhlas beramal dan semakin memahami syariat. Nah, di sinilah beberapa orang mulai gelisah.
Mereka selama ini memang rajin beramal. Sangat rajin malah. Hanya saja amalannya agak unik. Anggaran masuk lewat pintu depan, keluar lewat pintu samping, lalu mampir sebentar ke rekening sepupu sebelum menghilang ke dimensi lain.
Kalau mendengar kata “ikhlas”, mereka mungkin salah paham. Mereka mengira ikhlas adalah singkatan dari “Ikut Keluarga Langsung Hidup Aman Sentosa.”
Poin kedua adalah perbaikan dunia. Rezeki harus halal, keluarga baik, rumah nyaman. Di sini suasana semakin panas.
Sebab ada orang rumahnya sudah seperti resort internasional. Pagar rumahnya lebih mahal dari pembangunan pos ronda satu kecamatan. Kolam ikannya bisa dipakai latihan renang atlet nasional. Tapi ketika ditanya sumber uangnya, jawabannya berputar-putar seperti kipas angin rusak.
“Usaha sampingan.”
Usahanya apa?
“Ya… usaha.”
Lalu diam. Lebih misterius dari hilangnya Silpester;
Poin ketiga, perbaikan akhirat. Semakin mudah beramal dan berharap husnul khatimah. Masalahnya, ada manusia yang begitu sibuk mengejar dunia sampai akhirat cuma dianggap iklan yang bisa dilewati setelah lima detik.
Mereka hafal nomor rekening, tapi lupa nomor halaman Al-Qur’an. Mereka tahu harga tanah per meter, tapi tidak tahu harga sebuah kejujuran.
Poin keempat, memaksimalkan hidup untuk menambah kebaikan. Jangan buang waktu untuk hal yang sia-sia. Kalau poin ini diterapkan, mungkin banyak rapat bisa dipangkas. Rapat pembentukan tim. Tim pembentukan tim. Tim evaluasi tim. Tim pengawasan evaluasi tim. Tim khusus untuk memastikan semua tim tadi mendapat uang perjalanan dinas. Sebuah ekosistem yang begitu rumit sampai semut pun menyerah memahaminya.
Poin terakhir adalah menjauhi fitnah dan keburukan. Semakin tua semakin menjauhi perbuatan yang merusak agama dan masyarakat. Sayangnya, ada sebagian orang yang semakin tua justru semakin sakti. Udah tua, nafi korupsi, eh malah ngajari adab pada anak muda. “Belum dapat komisaris, pak?” Ups.
Rambut memutih. Perut membuncit. Muka tembem. Pidato semakin bijak. Tapi cara mengakali anggaran masih selincah pemain sirkus.
Mereka berbicara tentang pengabdian kepada rakyat sambil menggenggam proposal proyek seperti naga menjaga harta karun.
Karena itu, tausiyah Ustaz Harjani ini layak dibaca terutama oleh mereka yang merasa APBN adalah warisan keluarga dan APBD adalah rekening bersama yang bisa dicolek kapan saja.
Muharram adalah bulan hijrah. Hijrah dari buruk menjadi baik. Hijrah dari rakus menjadi amanah. Hijrah dari mencuri uang rakyat menjadi takut kepada Tuhan.
“Bang, bahaya juga kalau semua koruptor tobat, KPk pasti bubar. Jaksa hanya nangani kasus kere.”
“Betul juga, wak. KPK bubar, tanda berakhirnya negeri ini dikuasai koruptor.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar












