Artikel · Potret Online

Apa yang Kita Kejar Mati-Matian, Pasti Akan Kita Tinggalkan

Penulis  Ririe Aiko
Juli 6, 2026
4 menit baca 3
f414f5e3-242c-4053-a826-cda54c4e4b50
Foto / IlustrasiApa yang Kita Kejar Mati-Matian, Pasti Akan Kita Tinggalkan

Oleh: Ririe Aiko

_Penulis dan Konten Kreator_

Di tahun 2006, dari rekaman Google Earth, tampak sebuah rumah klasik bergaya kolonial tropis di sudut Kota Bandung. Rumah itu berdiri kokoh di antara pepohonan dan jalanan yang ramai. Cat dindingnya masih tampak terawat. Halamannya bersih, dipenuhi tanaman dan bunga-bunga yang sedang mekar. Sebuah mobil Honda Civic terparkir rapi di garasi.

Di teras depan, seorang bapak lansia duduk di atas kursi roda. Pandangannya tertuju pada seorang perempuan lansia yang sedang menyiram bunga di halaman rumah. Tak ada percakapan yang terdengar. Namun, dari rekaman itu, keduanya tampak menikmati hari-hari tua dengan cara yang sederhana.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 2016, rekaman Google Earth kembali memperlihatkan rumah yang sama.

Rumah itu masih berdiri kokoh.

Mobil Honda Civic itu masih terparkir di garasi. Namun, ada sesuatu yang berubah.

Di teras depan kini hanya tampak seorang perempuan lansia duduk sendirian di atas kursi roda.

Tak ada lagi sosok yang memandanginya dari teras. Lelaki yang sepuluh tahun lalu duduk di kursi roda sambil memperhatikannya menyiram bunga kini tak lagi terlihat. Entah sejak kapan ia pergi, tetapi kini kursi roda yang dahulu didudukinya telah menjadi tempat perempuan itu menghabiskan hari-harinya seorang diri.

Tak ada lagi bunga yang disiram. Yang tersisa hanyalah seorang perempuan, duduk dalam diam, memandangi jalan yang sama.

Dua puluh tahun kemudian, tahun 2026, citra satelit kembali memperlihatkan rumah yang sama. Namun kali ini pemandangannya benar-benar berbeda.

Rumput liar tumbuh tinggi menutupi halaman. Cat dinding mulai mengelupas. Lumut merambat di pagar yang dulu kokoh. Jendela-jendela tertutup rapat.

Namun, mobil Honda Civic itu masih berada di tempatnya.

Tetapi kini ia seperti monumen kesunyian.

Ban-ban mulai tenggelam oleh rumput. Debu dan hujan bergantian menyelimuti bodinya. Tak ada lagi yang memanaskan mesin setiap pagi. Tak ada lagi tujuan yang hendak didatangi.

Rumah besar itu masih berdiri. Honda Civic itu pun masih terparkir di tempat yang sama. Namun, kehidupan tak lagi tampak di sana. Tak ada lagi manusia yang menghuni rumah itu. Yang tersisa hanyalah kesunyian, seolah waktu perlahan mengambil semua yang pernah menghidupkannya.

Pemandangan itu membuat saya merenung cukup lama. Di balik rumah yang kian sunyi itu, tersimpan sebuah pengingat bahwa pada akhirnya, semua yang kita kejar mati-matian hanyalah sesuatu yang kelak akan kita tinggalkan.

Rumah yang dibangun dengan kerja keras puluhan tahun. Mobil yang dulu dibeli dengan angsuran panjang. Perabot yang dipilih dengan penuh kebanggaan. Lemari yang penuh pakaian. Rekening yang terus bertambah.

Semuanya pada akhirnya hanya akan berganti kepemilikan atau perlahan berubah menjadi benda-benda tua yang usang dan kehilangan makna, karena pemiliknya telah tiada.

Tanpa disadari, kita kadang menghabiskan sebagian besar usia untuk mengejar sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar abadi menjadi miliknya. Kita bekerja lebih keras, mengumpulkan lebih banyak, dan terus merasa belum cukup, hingga terus berupaya keras demi sesuatu yang tidak bisa dibawa melewati batas kehidupan.

Seketika saya terdiam dan merenung cukup lama saat melihat langsung kondisi rumah itu. Rumah yang cukup besar, dengan sebuah Honda Civic klasik yang masih setia terparkir di garasinya. Saya membayangkan begitu banyak kehidupan yang pernah tumbuh di sana. Tawa, percakapan, rutinitas, dan harapan yang kini telah berganti menjadi keheningan.

Saya membayangkan, mungkin suatu hari akan ada orang lain yang membelinya. Dindingnya dicat ulang, rumput liarnya dibersihkan, dan halamannya kembali ditanami bunga.

Akan lahir cerita-cerita baru di sana, sementara nama-nama yang pernah memenuhi rumah itu perlahan memudar bersama waktu. Rumah itu tetap berdiri, tetapi tak lagi mengenal siapa yang pernah tertawa, menangis, atau menua di dalamnya.

Begitulah hidup berjalan. Kita datang, mengisi ruang dengan mimpi, kerja keras, dan berbagai hal yang kita anggap milik kita. Namun suatu hari kita semua akan pergi dan dunia pasti akan tetap melanjutkan langkahnya.

Pada akhirnya, yang tinggal dalam kenangan bukanlah apa yang pernah kita miliki, melainkan kebaikan apa yang pernah kita lakukan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...