Artikel · Potret Online

Jangan Suruh Guru Terus Tulus, Jika Negara Masih Pelit Memberi Fulus

Juli 4, 2026
3 menit baca 15
8e8aeb77-0b60-4436-b2a3-989b911a716d
Foto / IlustrasiJangan Suruh Guru Terus Tulus, Jika Negara Masih Pelit Memberi Fulus
Disunting Oleh


Oleh :Teuku Muhammad Jamil


Akademisi, Pengamat Sosial dan Guru pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Aceh.


“Guru harus ikhlas.” Kalimat. Ini begitu sering diucapkan. Bahkan telah menjelma menjadi semacam mantra moral yang terus diulang setiap kali guru berbicara tentang kesejahteraan. Ketika guru mengeluh karena gaji yang tak cukup, beban administrasi yang menumpuk, atau masa depan yang tak pasti, jawaban yang muncul hampir selalu sama: mengabdilah dengan tulus.


Pertanyaannya sederhana : mengapa hanya guru yang diwajibkan hidup dengan ketulusan, sementara banyak pengambil kebijakan justru menikmati kemewahan dari kekuasaan yang mereka kelola?


Ketulusan adalah nilai luhur. Namun, menjadikan ketulusan sebagai alat untuk membungkam kritik merupakan bentuk kekerasan simbolik. Dalam perspektif sosiolog , dominasi tidak selalu dilakukan melalui paksaan, tetapi juga melalui bahasa, simbol, dan narasi yang membuat pihak yang lemah menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar.


Ironisnya, bangsa ini sering memuliakan guru dalam pidato, tetapi melupakan guru dalam kebijakan. Setiap Hari Guru, pujian mengalir deras. Namun setelah seremoni selesai, banyak guru kembali bergelut dengan persoalan kesejahteraan, beban administrasi, ketidakjelasan karier, hingga tekanan psikologis yang semakin berat.


Padahal berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa kualitas sistem pendidikan tidak pernah melampaui kualitas gurunya. dan berulang kali menegaskan bahwa investasi terbesar dalam pendidikan bukan hanya membangun gedung sekolah, melainkan membangun martabat, kapasitas, dan kesejahteraan guru.


Sayangnya, di negeri ini guru sering dijadikan “pahlawan” justru agar mereka tidak menuntut haknya. Gelar itu terkadang berubah menjadi instrumen romantisme yang meninabobokan, seolah-olah pengabdian harus identik dengan kemiskinan.


Inilah paradoks bangsa. Guru diminta melahirkan generasi unggul, tetapi tidak selalu memperoleh kehidupan yang unggul. Guru diminta membangun karakter bangsa, tetapi karakter negara dalam menghargai guru justru masih dipertanyakan.


Lebih menyedihkan lagi, ketika guru mulai “curhat atau mengeluh”, sebagian orang menuduh mereka tidak ikhlas. Padahal keluhan bukanlah tanda lemahnya dedikasi. Keluhan sering kali merupakan alarm bahwa ada sistem yang sedang tidak sehat.


Dalam teori Recognition, manusia tidak hanya membutuhkan penghasilan, tetapi juga pengakuan atas martabatnya. Ketika pengakuan itu hilang, lahirlah keterasingan, frustrasi, dan menurunnya motivasi sosial.


Negara yang sehat bukanlah negara yang terus meminta rakyatnya berkorban, melainkan negara yang mampu menghormati setiap pengorbanan dengan kebijakan yang adil.


Guru memang harus tulus. Namun negara juga harus serius
.


Jangan hanya meminta guru mengabdi dengan tulus, sementara penghargaan yang diberikan tidak pernah benar-benar pantas. Sebab ketulusan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keadilan.


Bangsa ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan guru yang tulus. Yang kita kekurangan adalah pemimpin yang memiliki keberanian moral untuk memuliakan guru secara nyata, bukan sekadar melalui pidato.
Sebab sejarah telah mengajarkan bahwa kehancuran sebuah bangsa bukan hanya terjadi karena kurangnya orang pintar. Bangsa runtuh ketika terlalu banyak manusia berakal bulus, berotak fulus, dan kehilangan makna tulus.


Guru tidak sedang meminta dimuliakan.


Guru hanya meminta dihargai sebagai manusia yang sedang menyiapkan masa depan bangsa. Dan sesungguhnya, bangsa yang gagal menghormati gurunya sedang menulis sendiri bab awal dari kemundurannya.
Selamat Berakhir Pekan Bersama Keluarga Tercinta … !!!

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...