Oleh : Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.
Mahasiswa Program Doktor, S3 Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Aceh sebagai provinsi paling barat di Indonesia dikenal memiliki kekayaan budaya yang menyatu erat dengan nilai-nilai Islam dan kehidupan sosial masyarakatnya. Salah satu tradisi yang hingga kini terus dijaga adalah Tet Leumang, yakni kegiatan membuat dan menyantap leumang secara bersama-sama menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini berkembang luas, khususnya di wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela) yang meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, hingga Subulussalam. Di kawasan ini, Tet Leumang tidak hanya dipahami sebagai momen tahunan, tetapi juga sebagai penanda kesiapan spiritual, sarana mempererat kebersamaan, serta penguat hubungan sosial antarwarga dalam menyambut Ramadan.
Sejak dahulu hingga kini, Tet Leumang menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat Aceh pada umumnya. Pelaksanaannya dilakukan pada hari menjelang meugang sebelum Ramadan, serta pada momentum Idul Fitri dan Idul Adha. Hampir di seluruh wilayah Aceh, tradisi ini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Dalam hal ini, masyarakat Barat Selatan Aceh memiliki cara pandang tersendiri terhadap Tet Leumang, sebagaimana tercermin dalam ungkapan, “uroe get, buleun get, leumang mak peuget hana meuteumè rasa”, yang bermakna bahwa hari dan bulan yang baik, leumang buatan ibu belum di rasakan. Ungkapan ini menegaskan bahwa leumang bukan sekadar makanan, melainkan simbol kehangatan keluarga, kerinduan pada kampung halaman, serta ikatan batin antara anak dan orang tua.
Melalui praktiknya, Tet Leumang dilakukan bersamaan dengan tradisi meugang dan melibatkan keluarga serta tetangga. Warga bekerja sama menyiapkan bahan, membakar leumang, hingga menyajikannya untuk dimakan bersama atau dibagikan kepada tamu serta jamaah di meunasah dan masjid. Praktik ini mencerminkan nilai peumulia jamee (memuliakan tamu) sekaligus memperkuat rasa kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Di beberapa wilayah Barsela, tradisi ini dikenal dengan sebutan berbeda, seperti malamang di Aceh Selatan dan leumang padé di Nagan Raya serta Abdya. Dan di Aceh Singkil hingga Kota Subulussalam, ini dikenal sebagai Simemalum atau Simanis.
Meskipun memiliki ragam penamaan dan variasi rasa, makna yang dikandung tradisi ini tetap sama, yakni kebersamaan, saling menghormati, serta penguatan ikatan sosial dalam kehidupan masyarakatnya.
Sejarah Tet Leumang
Tradisi meugang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam dan terus dijalankan hingga hari ini, baik melalui catatan sejarah maupun tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat. Praktik ini juga tersimpan dalam manuskrip-manuskrip lama Aceh yang menjelaskan tentang kearifan lokal dalam perayaan adat dan hari besar keagamaan. Dalam konteks tersebut, Teut Leumang hadir sebagai bagian dari uroe meugang dan berbagai momentum keagamaan dan praktik adat lainnya, Ia berfungsi sebagai sarana peumulia jamee (memuliakan tamu) sekaligus simbol persaudaraan dan gotong royong. Meugang bukan sekadar aktivitas memasak dan makan bersama, melainkan momen berkumpulnya keluarga, pulangnya para perantau, serta berbagi rezeki dengan sesama. Di sinilah leumang sebagai penanda kebersamaan dan solidaritas sosial dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat di Aceh.
Tradisi Tet Leumang sendiri, sudah lama tumbuh dari sejarah panjang budaya kuliner Aceh yang menyatu erat dengan praktik keagamaan dan sosialnya. Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan antargenerasi, leumang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi meugang dalam menyambut bulan suci Ramadan. Bagi banyak keluarga di Aceh, meugang terasa belum lengkap tanpa kehadiran leumang sebagai hidangan khas yang wajib di nikmati pada hari meugang.
Secara budaya, leumang berkembang melalui praktik Tet Leumang, yaitu kegiatan membakar leumang secara bersama-sama menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tradisi ini mengandung nilai religius dan sosial, seperti ungkapan syukur atas rezeki, keharmonisan manusia dengan alam, serta penguatan silaturahmi. Proses memasak dan membagikan leumang kepada keluarga, tetangga, dan kerabat menjadikan makanan ini bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol identitas dan solidaritas sosial masyarakat Aceh.
Di wilayah Barat Selatan Aceh, tradisi membuat leumang menjelang Ramadan masih terus hidup dan dinantikan setiap tahun. Proses pembuatannya melibatkan kerja sama keluarga dan tetangga, mulai dari menyiapkan bahan hingga menjaga leumang selama berjam-jam. Aktivitas ini menjadi ruang sosial yang memperkuat nilai gotong royong sekaligus menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.
Secara antropologis, leumang merupakan bagian dari warisan budaya Melayu yang telah dikenal sejak lama. Teknik memasak beras ketan dalam bambu berkembang dalam masyarakat agraris yang memanfaatkan alam sekitar dan dapat dijumpai di berbagai wilayah seperti Sumatra Barat, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Di Aceh, tradisi ini tetap hidup melalui praktik adat dan tradisi lisan, menjadikan leumang sebagai simbol budaya yang menghubungkan sejarah, nilai keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat hingga kini.
Cara Pembuatan Leumang
Istilah Tet Leumang merujuk pada kegiatan membakar leumang secara bersama-sama oleh keluarga atau warga gampong. Proses ini dimulai dari menyiapkan bahan hingga memanggang leumang di atas bara api selama beberapa jam, sehingga menuntut kesabaran dan kerja sama. Aktivitas tersebut menjadi ruang kebersamaan tempat warga saling membantu, berbincang, dan mempererat hubungan sosial, terutama menjelang datangnya bulan Ramadan.
Leumang merupakan makanan tradisional khas Aceh yang terbuat dari beras ketan, santan kelapa, dan ubi. Adonan dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang, kemudian dibakar perlahan hingga matang. Cara memasak tradisional ini menghasilkan aroma khas dan cita rasa gurih yang menjadi identitas leumang.
Leumang hadir dalam beragam jenis, seperti leumang ketan putih, ketan hitam, dan leumang ubi. Hidangan ini umumnya disantap bersama rendang, gulai ikan, atau sambal khas Aceh, serta pada momen tertentu disajikan dengan srikaya atau durian. Keragaman ini mencerminkan fleksibilitas leumang dalam menyesuaikan selera dan konteks sosial masyarakat.
Dalam praktik sosial, leumang tidak hanya disajikan menjelang Ramadan, tetapi juga hadir pada berbagai momentum penting seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, kenduri, dan pesta pernikahan. Kehadirannya dipahami sebagai simbol penghormatan kepada tamu sekaligus cerminan kemuliaan tuan rumah.
Selama bulan puasa, leumang mudah dijumpai sebagai menu takjil, khususnya di wilayah Barat Selatan Aceh, dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, Tet Leumang tidak sekadar tradisi kuliner, melainkan praktik budaya yang memadukan nilai spiritual, kebersamaan sosial, dan penguatan ekonomi lokal masyarakat Barsela.
Filosofi Lemang
Tradisi Tet Leumang bukan sekadar kegiatan memasak lemang, tetapi mengandung nilai filosofi dan makna sosial yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Aceh. Setiap unsur pembuatannya merepresentasikan pandangan hidup yang selaras dengan alam, agama, dan relasi sosial.
Bambu sebagai wadah memasak melambangkan kedekatan manusia dengan alam, beras ketan yang lengket dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan persatuan, sementara santan kelapa menggambarkan keberkahan, kesuburan, dan kelimpahan rezeki. Karena itu, menyantap lemang tidak hanya dipahami sebagai aktivitas konsumsi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya dan warisan leluhur. Lemang berfungsi sebagai media simbolik yang merekatkan hubungan sosial serta menghubungkan generasi masa kini dengan nilai-nilai tradisi masa lalu.
Makna ini semakin kuat ketika Tet Leumang dikaitkan dengan tradisi meugang, yakni momen berkumpulnya keluarga, pulangnya para perantau, dan penguatan ikatan sosial menjelang Ramadan. Menyiapkan lemang bersama tradisi meugang dapat dipahami sebagai tanda kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan ibadah, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diterima.
Selain bernilai filosofis dan sosial, lemang juga memiliki potensi sebagai daya tarik wisata kuliner. Teknik memasaknya yang unik dengan bambu dan pembakaran tradisional kerap dijadikan atraksi dalam berbagai festival budaya Aceh. Dalam konteks ini, Tet Leumang tampil sebagai tradisi hidup yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, leumang juga memiliki nilai ekonomi yang penting. Menjelang Ramadan dan hari besar Islam, leumang banyak dijual di pasar tradisional dan pusat oleh-oleh dengan ukuran beragam.

















Komentar