Esai · Potret Online

Berkunjung ke Madiun; Pulang Bersama Sebuah Novel 

Juli 4, 2026
4 menit baca 2
17ee2eed-6802-472a-a552-2fc7a55ce2fc
Foto / IlustrasiBerkunjung ke Madiun; Pulang Bersama Sebuah Novel 

Oleh Fileski Walidha Tanjung

Berkunjung ke Madiun; Pulang Bersama Sebuah Novel 

Madiun selama ini dikenal melalui rasa. Orang membawa pulang sambal pecel, brem, madumongso, bluder cokro, kerupuk puli, manco, hingga kerajinan topeng Penthul Tembem sebagai buah tangan yang mengingatkan mereka pada kota ini. Namun, ada satu hal yang sering luput dari daftar oleh-oleh: cerita. Padahal, sebuah kota tidak hanya dikenang melalui lidah, tetapi juga melalui ingatan. Dan ingatan paling panjang biasanya lahir dari sebuah kisah.

Kesadaran itulah yang melahirkan novel Tanah Terbelah 1948. Saya tidak sedang menulis sejarah yang dingin, tetapi menghadirkan denyut kehidupan masyarakat Madiun yang pernah mengalami masa-masa paling menentukan. Saya ingin pembaca mengenal Madiun bukan hanya sebagai kota pecel atau Kota Pendekar, melainkan sebagai ruang yang pernah melahirkan cinta, harapan, kehilangan, dan kemanusiaan. Sebab setiap kota besar di dunia memiliki novel yang menjadi jendela untuk memahami jiwanya. Mengapa Madiun tidak?

Bagi saya, wisata bukan lagi sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah perspektif. Seseorang yang pulang dari Madiun membawa sekotak brem akan mengingat rasanya selama beberapa hari. Namun seseorang yang membawa pulang sebuah novel akan terus membawa Madiun di dalam pikirannya selama bertahun-tahun. Ketika ia membaca tentang Sumber Wangi, Balai Kota, Alun-Alun Madiun, atau jalan-jalan tua yang masih berdiri hingga kini, ia tidak sedang membaca fiksi semata, tetapi sedang membangun hubungan emosional dengan sebuah kota.

Saya percaya, masa depan oleh-oleh tidak lagi hanya berbentuk makanan atau kerajinan. Kota-kota di dunia telah lama menjual pengalaman, memori, dan cerita. Madiun memiliki semua bahan itu. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengubah cerita menjadi identitas budaya. Novel adalah salah satu cara paling sederhana sekaligus paling abadi untuk melakukannya.

Tanah Terbelah 1948 saya tulis dengan riset sejarah yang panjang, dipadukan dengan kisah cinta yang menghangatkan sekaligus menggetarkan hati. Saya ingin pembaca tidak hanya mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi juga merasakan bagaimana rasanya hidup pada masa itu. Saya ingin mereka menangis bersama Marni, berharap bersama Darmawan, dan akhirnya memahami bahwa di balik setiap peristiwa besar, selalu ada manusia biasa yang memikul luka luar biasa.

“Saya tidak sedang mengajak pembaca kembali kepada masa lalu. Saya justru ingin mengajak mereka melihat masa kini melalui cermin sejarah. Karena sering kali, yang terbelah bukan hanya tanah, melainkan juga cara kita memahami sesama. Jika setelah menutup halaman terakhir novel ini pembaca ingin datang ke Madiun untuk melihat sendiri tempat-tempat yang diceritakan, maka saya merasa cerita ini telah menemukan rumah keduanya.”

Pernyataan itulah yang selalu saya pegang sebagai penulis. Sebab sebuah novel akan berhasil bukan ketika selesai ditulis, melainkan ketika mampu membuat pembacanya ingin berjalan menyusuri kota yang melahirkannya.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Ariyanti Maudara Harum setelah membaca Tanah Terbelah 1948. Menurutnya, novel tersebut membuat Madiun terasa jauh lebih hidup dibandingkan sekadar membaca buku sejarah. “Saya sampai membeli tiga eksemplar. Satu untuk koleksi pribadi, dua lagi saya jadikan oleh-oleh untuk teman dari luar kota. Saya ingin mereka mengenal Madiun bukan hanya dari sambal pecel atau brem, tetapi juga dari kisah yang menyentuh hati. Setelah membaca novel ini, rasanya ingin mendatangi satu per satu lokasi yang ada di dalam cerita.”

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Madiun, membawa pulang oleh-oleh kini memiliki makna yang lebih lengkap. Sambal pecel tetap menjadi pilihan utama dengan cita rasa kacang yang khas. Brem menghadirkan manis yang lembut sebagai warisan kuliner yang telah dikenal luas. Bluder Cokro menjadi roti legendaris yang selalu diburu pelancong. Madumongso, manco, kerupuk puli, dan aneka olahan tradisional lainnya melengkapi kekayaan rasa dari tanah Madiun. Bagi pencinta seni, topeng Penthul Tembem menjadi cendera mata yang merepresentasikan identitas budaya lokal dan tradisi pertunjukan rakyat yang masih lestari.

Kini, daftar oleh-oleh khas Madiun bertambah satu lagi: sebuah novel yang membawa pembacanya berjalan menembus ruang dan waktu. Tanah Terbelah 1948 bukan hanya buku yang dibaca, melainkan pengalaman yang dibawa pulang.

Novel Tanah Terbelah 1948 karya Fileski Walidha Tanjung dapat diperoleh di Toko Buku NBS, Jalan Biliton, Manguharjo, Kota Madiun, tepat di depan distributor Bluder Cokro di Jalan Biliton. Pembaca dari luar kota juga dapat memesan langsung melalui Penerbit MNC melalui WhatsApp di +62 812-3334-0088.

Mungkin, oleh-oleh terbaik bukanlah sesuatu yang habis dimakan atau disimpan di etalase. Mungkin oleh-oleh terbaik adalah sesuatu yang terus hidup di dalam ingatan, mengajak kita kembali, bahkan sebelum kita benar-benar pulang. Dan bukankah setiap kota pada akhirnya dikenang bukan karena apa yang kita beli, melainkan karena cerita yang berhasil kita bawa pulang.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...