Senin, April 20, 2026

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181
Ilustrasi: Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

Oleh Nita Juniarti*

Komunitas Sigupai Mambaco kembali menghidupkan ruang literasi di Aceh Barat Daya (Abdya) melalui kolaborasi bernama Muda Literasi, program Buku Keliling dan “Mahota Buku” yang digelar di Lapangan Kodim 0110 Abdya, Minggu(19/4/2026). 

Mengusung tema khusus mengenai perempuan dalam rangka peringatan hari Kartini, kegiatan ini menjadi wadah diskusi lintas generasi yang diikuti oleh relawan, pegiat komunitas, hingga pelajar sekolah dasar.

Istilah “Mahota” diambil dari bahasa suku Aneuk Jamee yang berarti mengobrol atau membicarakan sesuatu. Dalam konteks ini, kegiatan difokuskan pada diskusi mendalam mengenai isi buku yang telah dibaca oleh para peserta. Agenda ini sebetulnya lebih kurang seperti mengulas buku versi ngobrol. Agenda ini paling banyak melakukan inovasi di Sigupai Mambaco, sekarang bentuknya semacam piknik buku.

Relawan Sigupai Mambaco, Nita, menjelaskan bahwa tema perempuan dipilih untuk bulan April ini dengan jadwal pertemuan sebulan sekali guna memberikan waktu bagi peserta untuk menuntaskan bacaan. Nita membuka diskusi dengan mengulas dua buku: 90 Nasehat Nabi untuk Perempuan karya Angga Priatna dan Mata dan Rahasia Pulau Gapi karya Okky Madasari.

“Saya menyukai buku komik bergambar karena perpaduan visual dan narasi mempermudah mencerna isi buku apalagi bukunya tentang hadist dan nasehat,” ujar Nita saat mengulas karya Angga Priatna. 

Sementara mengenai buku Okky Madasari, ia menyoroti pentingnya fiksi sejarah dalam menarik minat anak-anak untuk mempelajari masa lalu dengan cara yang lebih sastrawi.

Diskusi semakin menarik saat Awir, relawan lainnya, membedah kumpulan sajak Lumbung Perjumpaan karya Agus R. Sarjono. Buku yang berisi 159 nama orang sebagai judul sajak tersebut dinilai memberikan pengalaman sosial yang personal. “Saya menemukan sisi feminin dan maskulinitas seorang penyair besar dalam karya ini,” ungkap Awir.

Partisipasi unik datang dari Shabira, siswi kelas 5 SD, yang dengan percaya diri mengulas buku pengetahuan populer Dongeng Anatomi karya Eramayawati. Meski ulasannya keluar dari tema utama perempuan, kehadiran Shabira diapresiasi sebagai bentuk nyata keberanian perempuan dalam mengekspresikan diri sejak dini.

Tak hanya fiksi dan pengetahuan, diskusi juga menyentuh ranah kritik sosial melalui buku Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan. Mulia, pegiat dari Komunitas Muda Literasi, memaparkan bagaimana buku satir tersebut telah diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo dengan judul Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang sukses meraih berbagai penghargaan di tahun 2024.

Meski gerimis mengguyur lapangan Kodim Abdya hingga sore hari, antusiasme 13 peserta tidak surut. Kegiatan ditutup dengan sesi jejaring antar komunitas, sementara anak-anak di sekitar kompleks tetap asyik bermain di tengah suasana lapangan yang basah. 

Awir menambahkan bahwa fluktuasi jumlah peserta bukanlah hambatan utama bagi Sigupai Mambaco. “Saya terlibat sejak akhir 2024 dan melihat orang datang silih berganti. Meski tidak terbilang banyak pesertanya, bagi kami itu bukan masalah selama konsistensi diskusi tetap terjaga,” pungkasnya.

*Penulis merupakan penggiat di Sigupai Mambaco, Aceh Barat Daya

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist