Esai · Potret Online

Langkah Di Belakang: Surga yang Kita Abaikan

Penulis Saiful Bahri
Juli 2, 2026
3 menit baca 12
IMG_1917
Foto / IlustrasiLangkah Di Belakang: Surga yang Kita Abaikan

Oleh Saiful Bahri

Ada surga yang jalannya pelan. Ada malaikat yang tidak punya sayap. Ada doa yang tidak pernah berhenti, walau kita tidak pernah minta.

Namanya: *IBU*. 

Kita baru sadar, setelah langkah yang selalu ada  di belakang kita… berhenti selamanya.

*Isi 1 – Kisah Pasar  perjalanan  ke  Pasar 

Al kisah , seorang anak kecil jalan ke pasar bersama ayah dan ibunya. 

Anak di depan. Ayah di samping. *Ibu… selalu berjalan di belakang anaknya”

Anak itu tidak pernah bertanya. Baginya itu hal “biasa”. 

Tahun berganti. Anak itu tumbuh menjadi anak yang  dewasa, merantau. Sibuk. “Nanti pulang Bu”… jadi kalimat yang diulang ketika sang ibu bilang “kangen” pada anaknya 

Sampai suatu hari ibunya nelpon: _”Pulanglah nak, Ibu kangen”_. 

Dia pulang. Rambut ibu sudah putih. Langkahnya melambat. Tapi pergi ke  pasar, ibunya masih berjalan … *di belakangnya, beberapa langkah saja*.

Dia berhenti. Air matanya hampir jatuh. 

_”Bu… kenapa dari dulu Ibu selalu di belakang saya?”_

Ibu tersenyum. Senyum yang capek tapi tenang: 

*”Supaya kalau kamu terjatuh, Ibu lihat duluan dan menolong . Supaya kalau ada motor dari belakang, Ibu yang kena duluan. Supaya Ibu bisa memastikan kamu baik-baik saja… Nak.”*

Dunia anak  seakan  runtuh saat itu juga.

Pengorbanan yang Baru Kita pahami – 

Baru dewasa kita paham…

1.  *Saat kita demam 40°C*, ibu tidak tidur semalaman. Ngompres. Dzikir. Nangis dalam sujud.

2.  *Saat kita lapar*, ibu bilang: _”Ibu sudah kenyang kok Nak”_. Padahal lauknya dia kasih semua kepada kita.

3.  *Saat kita minta sepatu baru*, ibu bilang: _”Nanti ya…”_ Padahal sendalnya dia sudah bolong. Ibu tidak pernah bilang“tidak punya uang” 

4.  *Saat kita marah* karena dilarang pulang malam, dia cuma diam. Karena dia takut kehilangan, bukan cerewet atau mengatur.

Pengorbanan ibu itu tidak pernah minta nota. Tidak pernah minta KUM 40 poin. 

*Dia cuma berdoa: “Ya Allah, jadikan anakku lebih baik dari aku.”*

– “Garam” Islamnya *

Rasulullah SAW ditanya: _”Siapa yang paling berhak aku berbakti?”_ 

Beliau jawab 3 kali: *”Ibumu… ibumu… ibumu”* baru bapakmu. HR. Bukhari.

Kenapa 3 kali? Karena 3 itu: *Hamil, Melahirkan, Menyusui*. 

3 kali sakit yang  tidak bisa  digantikan oleh seorang ayah.

Allah berfirman: _”Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya…”_ QS. Al-Ahqaf: 15.

Jadi langkah ibu di belakang kita itu… *wujud ayat*. 

*Penutup -*

Sejak hari itu, anak itu berubah. Berubah perilakunya, berubah pola pikirnya khususnya untuk ibunya, ia semakin sayang kepada ibunya.

Dia tidak  menunggu “nanti” lagi. 

Dia lebih sering nelpon. Lebih sering pulang. Lebih sering bilang: _”Makasih Bu”_ sambil memeluk ibunya erat.

Karena dia sadar: *Suatu hari nanti, langkah yang selalu di belakang itu akan berhenti*. 

Dan saat itu… tidak ada lagi kesempatan buat bilang “maaf”, “makasih”, “aku sayang Ibu”.

… 

*Kalau hari ini ibumu masih bisa mendengar  suaramu, jangan tunggu hari raya.* 

Telpon sekarang. Pulang sekarang. Bilang sayang sekarang.

Karena buat seorang ibu, hadiah termahal bukan emas. 

*Hadiah termahal adalah: anaknya masih ingat dan menyayangi dia… selagi dia masih hidup* 

*

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Motivator berdomisili di Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...