Langkah Di Belakang: Surga yang Kita Abaikan

Oleh Saiful Bahri
Ada surga yang jalannya pelan. Ada malaikat yang tidak punya sayap. Ada doa yang tidak pernah berhenti, walau kita tidak pernah minta.
Namanya: *IBU*.
Kita baru sadar, setelah langkah yang selalu ada di belakang kita… berhenti selamanya.
*Isi 1 – Kisah Pasar perjalanan ke Pasar
Al kisah , seorang anak kecil jalan ke pasar bersama ayah dan ibunya.
Anak di depan. Ayah di samping. *Ibu… selalu berjalan di belakang anaknya”
Anak itu tidak pernah bertanya. Baginya itu hal “biasa”.
Tahun berganti. Anak itu tumbuh menjadi anak yang dewasa, merantau. Sibuk. “Nanti pulang Bu”… jadi kalimat yang diulang ketika sang ibu bilang “kangen” pada anaknya
Sampai suatu hari ibunya nelpon: _”Pulanglah nak, Ibu kangen”_.
Dia pulang. Rambut ibu sudah putih. Langkahnya melambat. Tapi pergi ke pasar, ibunya masih berjalan … *di belakangnya, beberapa langkah saja*.
Dia berhenti. Air matanya hampir jatuh.
_”Bu… kenapa dari dulu Ibu selalu di belakang saya?”_
Ibu tersenyum. Senyum yang capek tapi tenang:
*”Supaya kalau kamu terjatuh, Ibu lihat duluan dan menolong . Supaya kalau ada motor dari belakang, Ibu yang kena duluan. Supaya Ibu bisa memastikan kamu baik-baik saja… Nak.”*
Dunia anak seakan runtuh saat itu juga.
Pengorbanan yang Baru Kita pahami –
Baru dewasa kita paham…
1. *Saat kita demam 40°C*, ibu tidak tidur semalaman. Ngompres. Dzikir. Nangis dalam sujud.
2. *Saat kita lapar*, ibu bilang: _”Ibu sudah kenyang kok Nak”_. Padahal lauknya dia kasih semua kepada kita.
3. *Saat kita minta sepatu baru*, ibu bilang: _”Nanti ya…”_ Padahal sendalnya dia sudah bolong. Ibu tidak pernah bilang“tidak punya uang”
4. *Saat kita marah* karena dilarang pulang malam, dia cuma diam. Karena dia takut kehilangan, bukan cerewet atau mengatur.
Pengorbanan ibu itu tidak pernah minta nota. Tidak pernah minta KUM 40 poin.
*Dia cuma berdoa: “Ya Allah, jadikan anakku lebih baik dari aku.”*
– “Garam” Islamnya *
Rasulullah SAW ditanya: _”Siapa yang paling berhak aku berbakti?”_
Beliau jawab 3 kali: *”Ibumu… ibumu… ibumu”* baru bapakmu. HR. Bukhari.
Kenapa 3 kali? Karena 3 itu: *Hamil, Melahirkan, Menyusui*.
3 kali sakit yang tidak bisa digantikan oleh seorang ayah.
Allah berfirman: _”Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya…”_ QS. Al-Ahqaf: 15.
Jadi langkah ibu di belakang kita itu… *wujud ayat*.
*Penutup -*
Sejak hari itu, anak itu berubah. Berubah perilakunya, berubah pola pikirnya khususnya untuk ibunya, ia semakin sayang kepada ibunya.
Dia tidak menunggu “nanti” lagi.
Dia lebih sering nelpon. Lebih sering pulang. Lebih sering bilang: _”Makasih Bu”_ sambil memeluk ibunya erat.
Karena dia sadar: *Suatu hari nanti, langkah yang selalu di belakang itu akan berhenti*.
Dan saat itu… tidak ada lagi kesempatan buat bilang “maaf”, “makasih”, “aku sayang Ibu”.
…
*Kalau hari ini ibumu masih bisa mendengar suaramu, jangan tunggu hari raya.*
Telpon sekarang. Pulang sekarang. Bilang sayang sekarang.
Karena buat seorang ibu, hadiah termahal bukan emas.
*Hadiah termahal adalah: anaknya masih ingat dan menyayangi dia… selagi dia masih hidup*
*











