Esai · Potret Online

Mengenang Lian Sahar: Dari Aceh ke Panggung Seni Rupa Indonesia dan Dunia

Penulis  Ir Azhar
Juni 24, 2026
9 menit baca 11
20c6ba1e-f263-4514-aa3d-373d9511142f
Foto / IlustrasiMengenang Lian Sahar: Dari Aceh ke Panggung Seni Rupa Indonesia dan Dunia
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.

Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung

Rumahnya terletak di Jalan Bumijo Lor nomor 22 Kota Yogyakarta. Pagar rumahnya sederhana, ditanami beberapa jenis tanaman setinggi pagarnya sekira satu meter. Artinya dari jalanan rumah itu terlihat asri. Struktur atapnya agak tinggi dan runcing. Setelah turun dari angkot warna kuning, dengan penuh keyakinan saya tarik pintu gerbang yang terbuat dari rangkaian besi kecil ke arah kanan, lalu saya tutup kembali. 

Jarak dari gerbang ke teras rumahnya sekitar lima meter. Saya ketuk pintu rumah, seorang anak gadis membukanya dan mempersilakan saya masuk setelah ditanya siapa dan dari mana.

Ruangan tamu lumayan terbuka, saya duduk di sebuah sofa di antara banyak kursi lainnya. Sambil menunggu yang punya rumah, saya menerawang ke seisi ruangan itu. Ada banyak lukisan yang dipajang dan digantung pada sisi-sisi dinding. Ada yang berukuran besar, menengah, dan kecil; tanpa bisa saya tebak lagi berapa ukuran panjang (tinggi) dan lebarnya. 

Di atas sebuah meja kayu ada perangkat untuk melukis, ada beberapa kuas yang berbeda ukuran dan beberapa cat aneka warna, lengkap dengan palet. Ada banyak lemari buku juga di ruangan itu. 

Begitulah kesan pertama saya tentang rumah dan isi rumah dari Lian Sahar pada bulan Maret 2001. Orangnya kalem, memakai topi, tutur bicaranya lembut, iramanya lambat; dan menurut pengalaman saya tidak ada kalimat yang sia-sia dari mulutnya. Sederhana tapi berwibawa. 

Sebetulnya saya tidak mengenal beliau, tetapi karena diminta oleh keponakannya, maka saya datangilah rumahnya itu. Setelah saya memperkenalkan diri dan latar belakang saya tentunya, beliau menjadi bersemangat untuk bercerita dan bercerita termasuk tentang Aceh. Beliau bertanya apakah saya mengenal AD Pirous yang dosen di ITB? Tidak, jawab saya. Itu teman saya, lanjutnya lagi. Kalau dengan Tisna Sanjaya kenal? Saya jawab, kenal. Saya tinggal di rumah ibunya Pak Tisna, lanjut saya. 

Ternyata kemudian, mereka bertiga ini adalah orang seprofesi, pelukis. Dari sinilah kemudiannya saya mencoba mencari lebih jauh lagi tentang AD Pirous dan Lian Sahar. Kalau Tisna Sanjaya saya sudah kenal bahkan dengan keluarga besarnya seutuh-utuhnya, tetapi tidak demikian dengan AD Pirous dan Lian Sahar. 

Saya sendiri sebenarnya adalah awam tentang dunia lukis-melukis, namun karena nama Lian Sahar sangat membekas di kepala saya saat bertamu ke rumahnya, apalagi saya dihadiahi sebuah buku yang berjudul “Perang Kolonial Belanda Di Aceh”, maka saya susunlah tulisan singkat ini dengan mengandalkan sejumlah bacaan.

Lian Sahar (bin Baharuddin) adalah Putra Aceh tulen kelahiran Kutacane pada 25 Januari 1933, wafat di Yogyakarta pada 18 Agustus 2010. Lian Sahar dikenal sebagai pelukis, desainer grafis dan interior.

Di antara deretan nama penting dalam sejarah seni rupa modern Indonesia, Lian Sahar mungkin bukan sosok yang paling sering disebut. Namun, perupa kelahiran Aceh ini memiliki jejak perjalanan kesenian yang panjang, mulai dari Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya hingga berbagai panggung seni rupa di Asia dan Amerika Serikat. 

Melalui bahasa abstraksi yang khas, Lian Sahar meninggalkan warisan artistik yang memperkaya perkembangan seni rupa Indonesia.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Lian Sahar memperoleh beasiswa pendidikan sebagai anggota Tentara Pelajar. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Medan, ia sempat menempuh studi di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta. 

Ketertarikannya pada dunia seni kemudian membawanya memasuki Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan mengikuti pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pilihan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai perupa, desainer, dan pendidik seni.

Sebagian besar hidupnya dijalani di Yogyakarta. Di kota inilah ia tidak hanya berkarya sebagai pelukis, tetapi juga mengajar desain interior di ASRI, yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain itu, ia mendirikan dan mengelola Studio Pualam Timur (SPT), sebuah perusahaan desain yang mengerjakan berbagai proyek interior, relief, mural, dan elemen artistik untuk kantor pemerintahan, kediaman gubernur, kementerian, galeri, serta berbagai bangunan publik di Indonesia.

Namun, di balik kehidupan dan kariernya yang berkembang di Yogyakarta, Lian Sahar tidak pernah tercerabut dari akar ke-Aceh-annya. Meskipun tumbuh besar di Medan dan menghabiskan sebagian besar proses kreatifnya di Yogyakarta, ia tetap dikenal sebagai putra Aceh yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni dan kebudayaan daerah asalnya. 

Ia senantiasa menunjukkan antusiasme terhadap berbagai kegiatan kesenian yang diselenggarakan di Aceh maupun oleh masyarakat Aceh di luar daerah. 

Keterlibatannya tidak hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai pemikir dan perancang. Salah satu kontribusinya yang penting adalah memberikan gagasan intelektual dalam pendirian Anjong Mon Mata serta merancang Tenda Desah Arafah pada penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Kutaraja (Banda Aceh) pada tahun 1982. 

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa identitas keacehan tidak pernah lepas dari perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai seniman.

Kiprahnya sebagai seniman dimulai sejak dekade 1950-an. Sejak tahun 1956, Lian Sahar aktif mengikuti berbagai pameran seni rupa di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Denpasar, Banda Aceh, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Pameran tunggal pertamanya berlangsung pada tahun 1968 di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. 

Sejak saat itu, namanya mulai dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia yang konsisten mengembangkan seni abstrak dan abstrak-ekspresionis.

Pada awal dekade 1970-an, aktivitas keseniannya meluas ke tingkat internasional. Ia mengikuti pameran keliling Asia Tenggara, pameran di Amerika Serikat, serta pameran seni rupa di Fukuoka, Jepang. Ia juga berpartisipasi dalam pameran Young Artists di New York, pameran peringatan 25 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, serta berbagai kegiatan seni internasional lainnya. Pada tahun 1990–1991, ia menjadi peserta Kesenian Indonesia di Amerika Serikat (KIAS-USA) atau Festival of Indonesia, sebuah program diplomasi budaya yang memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat Amerika Serikat.

Di tingkat nasional, nama Lian Sahar semakin diperhitungkan melalui keterlibatannya dalam Pameran Besar Seni Lukis Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang kemudian berkembang menjadi Biennale Jakarta. Ia mengikuti perhelatan tersebut sejak tahun 1974. Pada Biennale Seni Lukis Indonesia II tahun 1976, ia terpilih sebagai salah satu pelukis terbaik bersama Ahmad Sadali, Zaini, Oesman Effendi, dan A.D. Pirous. 

Penghargaan serupa kembali diraihnya pada Biennale Seni Lukis Indonesia III tahun 1978. Ia terus mengikuti berbagai penyelenggaraan biennale hingga Biennale Jakarta tahun 2006.

Selain aktif berpameran, karya-karya Lian Sahar juga menjadi bagian dari berbagai koleksi penting. Lukisan dan reliefnya menghiasi kantor dan kediaman Gubernur Aceh serta Gubernur Kalimantan Timur, Kantor Kehutanan di Banda Aceh dan Samarinda, Banking Hall BRI Surakarta, Museum Istana Presiden Republik Indonesia di Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Galeri Taman Ismail Marzuki, Podium Bank Exim Jakarta, hingga ruang kerja Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kepatihan Yogyakarta.

Meski memiliki rekam jejak yang panjang dan prestasi yang diakui secara nasional maupun internasional, nama Lian Sahar relatif kurang dikenal dibandingkan sejumlah seniman sezamannya. Dalam pembukaan pameran tunggal Diam yang Bergerak di Lawangwangi Creative Space, Bandung Barat, pada tahun 2025, kurator Heru Hikayat menyebut Lian Sahar sebagai salah satu seniman penting yang cenderung terpinggirkan dalam narasi besar sejarah seni rupa Indonesia. 

Padahal, keterlibatannya dalam berbagai pameran penting menunjukkan posisinya yang tidak dapat diabaikan dalam perkembangan seni modern Indonesia.

Dalam konteks seni rupa modern Indonesia, Lian Sahar dikenal sebagai pelukis yang memusatkan perhatian pada ungkapan abstrak liris. Seperti banyak modernis Indonesia lainnya, ia menempatkan pengalaman personal sebagai sumber utama penciptaan. 

Karya-karyanya tidak berupaya menggambarkan realitas secara literal, melainkan mengungkapkan pengalaman emosional, intelektual, dan spiritual melalui permainan garis, bidang, bentuk, dan sapuan kuas yang ekspresif.

Karya-karyanya memperlihatkan keyakinan bahwa seni tidak harus selalu menjelaskan sesuatu secara langsung. Bentuk-bentuk abstrak yang dihadirkannya memberi ruang bagi imajinasi dan penafsiran yang beragam. 

Dalam banyak karya, yang tampil bukanlah objek yang mudah dikenali, melainkan energi, gerak, suasana batin, dan pengalaman hidup yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

Salah satu contoh yang menunjukkan kecenderungan tersebut adalah karya berjudul Perjalanan

Secara visual, lukisan ini merupakan abstraksi murni yang tidak menghadirkan representasi bentuk tertentu. Namun, melalui susunan garis dan bentuk yang bergerak serta berkelindan dalam ritme yang puitis, karya tersebut dapat dibaca sebagai simbol perjalanan manusia. 

Perjalanan itu tidak hanya berlangsung dalam ruang fisik, tetapi juga dalam ruang batin dan spiritual. Di dalamnya terkandung kesan kegelisahan, pergulatan, pencarian, sekaligus harapan yang menyertai perjalanan panjang kehidupan manusia.

Pilihan Lian Sahar terhadap abstraksi juga menunjukkan posisinya yang khas dalam sejarah seni rupa Indonesia. Meskipun pada suatu masa ia pernah mengalami stigma politik dan diasosiasikan dengan kelompok kiri, sejumlah pengamat seni menilai bahwa orientasi estetikanya justru lebih dekat pada gagasan kebebasan ekspresi individual atau “seni untuk seni”. Karena itu, karya-karyanya lebih banyak berbicara tentang pengalaman manusia secara universal dibandingkan narasi ideologis yang bersifat langsung.

Pameran tunggal terakhirnya bertajuk Di mana tak Di mana diselenggarakan di Balai Rupa Tembi, Yogyakarta, pada tahun 2006. Sementara pameran bersama terakhir yang diikutinya adalah Manifesto di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada tahun 2008. 

Lian Sahar wafat pada tahun 2010, meninggalkan seorang istri, empat orang anak, serta ratusan karya yang menjadi bagian penting dari sejarah seni rupa Indonesia.

Lima belas tahun setelah kepergiannya, perhatian terhadap karya-karya Lian Sahar kembali tumbuh melalui pameran Diam yang Bergerak yang diselenggarakan Lawangwangi Creative Space pada tahun 2025. Pameran tersebut tidak hanya menghadirkan kembali karya-karya seorang maestro yang lama berada di pinggir perhatian publik, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah seni rupa Indonesia dibangun oleh banyak nama penting yang layak terus dikenang. 

Di antara nama-nama penting dalam sejarah seni rupa Indonesia, Lian Sahar menempati tempat yang istimewa. Ia bukan hanya seorang pelukis abstrak-ekspresionis yang berhasil menembus panggung seni rupa nasional dan internasional, tetapi juga seorang putra Aceh yang tetap menjaga hubungan batin dengan tanah kelahirannya. 

Melalui karya-karya, gagasan, dan pengabdiannya, Lian Sahar menunjukkan bahwa identitas lokal dan wawasan global dapat berjalan beriringan. Dari Aceh, Bandung, Yogyakarta, hingga berbagai kota di dunia, ia meninggalkan jejak yang memperkaya khazanah seni rupa Indonesia.

Daftar Bacaan:

https://rri.co.id/bandung/hobi/1340604/goresan-abstrak-karya-lian-sahar-terpampang-di-lawangwangi

https://repositori.kemendikdasmen.go.id/13321/1/KATALOGUS%20LUKISAN%20WISMA%20SENI%20NASIONAL.pdf

https://gudeg.net/direktori/889/lian-sahar.html
https://bandungraya.inews.id/read/560156/karya-lian-sahar-dipamerkan-di-lawangwangi-creative-space
https://www.tempo.co/teroka/galeri-lawangwangi-bandung-gelar-pameran-tunggal-karya-lian-sahar-1211728

—-*

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...