Membaca Ulang Sejarah Lamuri Melalui Bukti Arkeologi

Oleh: Nurul Hikmah
Kerajaan Lamuri (Lamuria) merupakan salah satu kerajaan tertua di Asia yang telah dikenal oleh dunia internasional sejak awal abad pertengahan. Nama Lamuri atau Rāmnī disebut dalam berbagai catatan pelaut dan geograf dari dunia Arab sebagai negeri yang kaya akan kapur barus, hasil hutan, serta menjadi pelabuhan penting di jalur perdagangan Samudra Hindia.
Letaknya yang strategis dengan Selat Malaka sebagai ‘jalur vital,’ menjadikan Lamuri sebagai tempat persinggahan para pedagang Arab, Persia, dan India Muslim yang berlayar menuju Tiongkok maupun kembali ke Timur Tengah.
Keberadaan para pedagang Muslim tersebut tidak hanyamembawa aktivitas perdagangan, tetapi juga memperkenalkanbudaya, ilmu pengetahuan, kuliner dan tradisi arsitektur yang berkembang di dunia Islam. Oleh karena itu, tidakmengherankan apabila bukti-bukti arkeologi yang ditemukan di kawasan Lamuri justru lebih banyak menunjukkan jejakperadaban Islam dibandingkan peninggalan keagamaan Hindu.
Salah satu bukti terpenting berasal dari kawasan Lamreh yang diyakini sebagai pusat dari wilayah Kerajaan Lamuri. Penelitian arkeologi menemukan ratusan batu jirat dan batu nisan kuno yang berasal dari sekitar abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.
Batu-batu nisan tersebut memuat kaligrafi Arab, dua kalimat syahadat, ayat-ayat Al-Qur’an, doa-doa Islam, serta pujian kepada Allah Ta’ala. Beberapa nisan juga mencantumkan gelar seperti Sultan, Malik, Amir, Syekh, dan Qadhi yang menunjukkan telah berkembangnya sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat bercorak Islam.
Temuan epigrafi tersebut merupakan bukti langsung yang dapat diteliti secara ilmiah dan menjadi salah satu indikator kuat bahwa Lamuri memiliki hubungan erat dengan perkembangan Islam di Nusantara.
Selain itu, ada Masjid Tuha Indrapuri yang merupakan salah satu situs sejarah yang paling sering dikaitkan dengan kerajaan Lamuri. Selama bertahun-tahun berkembang pendapat bahwa masjid ini dibangun di atas bekas candi Hindu.
Namun, hingga kini belum ditemukan bukti arkeologi yang secara meyakinkan menunjukkan bahwa struktur tersebut merupakan sebuah candi Hindu.
Jika dibandingkan dengan karakter umum percandian Hindu, terdapat sejumlah perbedaan yang cukup mencolok.
Candi Hindu umumnya menghadap ke arah timur atau utara sesuai konsep kosmologi Hindu, sedangkan Masjid Tuha Indrapuri menghadap ke arah kiblat (barat).
Bangunan utama candi biasanya berada di bagian belakang kompleks dan memiliki bentuk yang ramping serta menjulang, sedangkan bangunan utama di area Masjid Tuha berada di bagian tengah dengan denah berbentuk persegi menyerupai benteng.
Perbedaan lain yang sangat penting adalah tidak ditemukannya arca, relief pahatan, maupun ornamen religius yang menjadi ciri khas percandian Hindu maupun Buddha. Pada hampir seluruh kompleks candi Hindu di Asia, unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting dari bangunan sebagai media penyampaian ajaran keagamaan. Hingga saat ini, unsur-unsur tersebut tidak ditemukan pada struktur batu Masjid Tuha Indrapuri.
Di bagian depan kompleks juga terdapat kulah atau kolam yang digunakan sebagai tempat bersuci sebelum melaksanakan salat. Tata ruang seperti ini justru lebih dekat dengan tradisi arsitektur masjid-masjid klasik di Persia (Iran) maupun kompleks Istana Taj Mahal yang dibangun pada masa Kaisar Shah Jahan, di mana kolam wudu menjadi bagian penting dari halaman masjid.
Kemiripan struktur tersebut juga terlihat pada Benteng indra Patra di pesisir Aceh Besar. Benteng ini memiliki bentuk dasar berupa bangunan bertembok batu berbentuk persegi dengan tata ruang yang sangat mirip dengan kompleks Indrapuri.
Di dalam kawasan benteng ditemukan beberapa sumur tua yang menjadi bagian dari sistem penyediaan air. Sebagian sumur tersebut ditutup menggunakan bangunan batu beratap kubah, bentuk arsitektur yang lebih lazim ditemukan pada bangunan-bangunan Islam dibandingkan percandian Hindu.
Yang menarik, sebagaimana di Indrapuri, hingga kini di Benteng Indrapatra juga tidak ditemukan arca, relief pahatan, maupun ornamen khas percandian Hindu dan Buddha. Kesamaan karakter kedua situs tersebut menunjukkan adanya kesinambungan tradisi arsitektur yang berkembang di Aceh dan layak dikaji lebih lanjut melalui penelitian arkeologi.
Selain relief bangunan, salah satu alasan yang sering digunakan untuk mengaitkan Lamuri dengan kerajaan Hindu adalah penggunaan nama “Indra” pada Indrapuri, Indra Patra ataupun Indrapurwa.
Padahal, kata “Indra” berasal dari bahasa Sanskerta yang pada masa itu merupakan bahasa kebudayaan, sastra, ilmu pengetahuan, dan administrasi yang digunakan secara luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk oleh kerajaan-kerajaan Islam.
Di Kesultanan Aceh sendiri, penggunaan nama Sanskerta tetap dipertahankan oleh kalangan bangsawan. Salah satu contohnya adalah Putri Indra Wangsa, ibu Sultan Iskandar Muda. Fakta ini menunjukkan bahwa penggunaan nama Sanskerta tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan agama suatu kerajaan.
Dalam penelitian sejarah, suatu kesimpulan seharusnya dibangun berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di wilayah tersebut. Hingga saat ini, penelitian arkeologi di kawasan Lamuri belum menemukan arca Hindu maupun Buddha, relief pahatan, prasasti pemujaan dewa, lingga, yoni, ataupun atribut ritual Hindu lainnya yang lazim dijumpai pada pusat-pusat percandian di Nusantara.
Sebaliknya, bukti yang justru banyak ditemukan adalah batu jirat bertulisan Arab, kaligrafi syahadat, ayat-ayat Al-Qur’an, doa kepada Allah Ta’ala, gelar-gelar kesultanan Islam, kompleks masjid, sistem kulah untuk bersuci, serta pola arsitektur yang memiliki kemiripan dengan bangunan-bangunan Islam di kawasan Persia dan India.
Temuan-temuan tersebut memberikan gambaran bahwa Lamuri memiliki hubungan yang sangat erat dengan jaringan perdagangan dan peradaban Islam yang berkembang di Samudra Hindia.
Sejarah Lamuri masih terus menjadi objek penelitian. Namun, berdasarkan data arkeologi yang tersedia saat ini, terdapat alasan yang kuat untuk memandang Lamuri sebagai salah satu pusat awal berkembangnya peradaban Islam yang tumbuh melalui jaringan perdagangan internasional bersama para pedagang Arab, Persia, India Muslim dan dari seluruh bagian dunia lainnya.
Kajian-kajian lanjutan tetap diperlukan agar sejarah Aceh dapat direkonstruksi berdasarkan bukti ilmiah yang semakin lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan.












