Artikel · Potret Online

Suporter Jepang Dan Kantong Plastik Biru Menjadi Cermin Peradaban

Penulis  Yani Andoko
Juni 28, 2026
6 menit baca 28
IMG_1848
Foto / IlustrasiSuporter Jepang Dan Kantong Plastik Biru Menjadi Cermin Peradaban

Oleh Yani Andoko 

“Yang kalian anggap istimewa, sebenarnya bagi kami itu hal biasa.”

Itulah jawaban Danno, seorang suporter Jepang, kepada Al Jazeera di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2022. Jawaban sederhana yang justru menggema di seluruh dunia. Sebab di saat ribuan penonton lain berebut keluar stadion, Danno dan ribuan orang berbaju biru itu malah membungkuk, memunguti botol plastik dan bungkus makanan dari bawah kursi. 

Kantong plastik biru yang tadi mereka kibarkan sebagai alat dukung, kini berubah fungsi menjadi kantong sampah.

Fenomena ini bukan baru. Ini adalah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad tepatnya sejak Piala Dunia 1998 di Prancis, saat Jepang pertama kali tampil di panggung sepak bola terbesar. Namun tahukah Anda, kebiasaan mengagumkan ini ternyata berawal dari sebuah kekalahan pahit dan inspirasi dari musuh bebuyutan?

Asal-Usul Yang Tak Terduga Dari Kekalahan Dan Inspirasi Dari Korea

Banyak yang mengira tradisi ini murni berasal dari budaya Jepang. Faktanya, ada cerita menarik di baliknya.

Pada September 1986, Stadion Nasional Tokyo menjadi saksi laga sengit Kualifikasi Piala Dunia Meksiko antara Jepang dan Korea Selatan. Jepang kalah 1-2. Kekecewaan memuncak. Sebagian suporter Jepang melemparkan botol dan sampah ke arah sekitar 5.000 suporter Korea yang hadir.

Namun yang terjadi selanjutnya justru membalikkan keadaan. Para suporter Korea tidak membalas. Mereka diam-diam memunguti sampah yang berserakan di sekitar mereka dan membersihkan area tribun.

Seorang remaja berusia 15 tahun bernama Ueda Asahi menyaksikan semuanya dari kejauhan. Adegan itu membekas dalam ingatannya. Bertahun-tahun kemudian, Ueda menjadi pendiri kelompok suporter Jepang “Ultras Nippon”. 

Dari pengalaman masa kecil itulah ia mulai mengampanyekan ide sederhana: bawa kantong plastik, bersihkan setelah pertandingan.

Pada September 1997, ketika Jepang dan Korea kembali bertemu di kualifikasi Piala Dunia Prancis, Ueda mengajak para suporter membawa kantong plastik biru warna tim nasional “Samurai Biru”. Selain menciptakan lautan biru untuk memberi semangat, kantong itu juga berguna untuk membersihkan setelah laga.

Sejak saat itu, tradisi ini lahir dan terus hidup hingga sekarang.

Lebih Dari Sekadar Bersih-bersih Ini Sidik Jari Budaya

Apa yang membuat kebiasaan ini begitu mengakar? Jawabannya terletak pada tiga pilar budaya:

1. Pepatah “Tatsu Tori Ato wo Nigosazu”

Ini adalah peribahasa Jepang yang berarti “burung yang terbang tidak mengotori tempat hinggapnya” . Filosofinya: ketika kamu pergi, tinggalkan tempat itu setidaknya sebersih saat kamu menemukannya.

2. Prinsip “Tidak Merepotkan Orang Lain”

Dalam budaya Jepang, menyusahkan orang lain (meiwaku) adalah sesuatu yang sangat dihindari. Suporter Jepang tidak ingin membebani petugas kebersihan dengan tumpukan sampah. 

Pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu, dengan tegas menyatakan: “Ketika Anda meninggalkan suatu tempat, Anda harus membuatnya lebih bersih dari sebelumnya”.

3. Pendidikan Sejak Dini

Di sekolah-sekolah Jepang, ada rutinitas harian yang disebut “waktu membersihkan” (souji). Selama 10 hingga 20 menit setiap hari setelah makan siang, siswa dari guru hingga murid membersihkan ruang kelas, koridor, dan bahkan toilet mereka sendiri. Ini bukan sekadar “kerja kasar”, melainkan pendidikan karakter: menghargai fasilitas bersama dan belajar tanggung jawab.

Profesor Koichi Nakano dari Sophia University menjelaskan, “Para penggemar olahraga Jepang sering berperilaku di ajang internasional seperti saat mereka pertama kali belajar olahraga di sekolah”. Tradisi membersihkan yang diajarkan di bangku sekolah terbawa hingga dewasa dan menjadi kebiasaan di mana pun mereka berada.

Konsistensi Yang Menggetarkan Menang, Kalah, atau Bukan Laga Jepang.

Yang membuat tradisi ini begitu istimewa adalah konsistensinya:

Saat menang usai kemenangan comeback 2-1 melawan Jerman di Piala Dunia 2022, para suporter tetap membersihkan stadion.

Saat kalah setelah kekalahan adu penalti yang menghancurkan dari Kroasia di babak 16 besar, mereka tetap memunguti sampah dengan kepala tertunduk.

Bahkan saat tim Jepang tidak bertanding pada laga pembuka Qatar vs Ekuador di Piala Dunia 2022, suporter Jepang yang hadir tetap membersihkan tribun.

Bahkan Timnas Jepang sendiri melakukan hal serupa. Usai dikalahkan Belgia di Piala Dunia 2018, ruang ganti mereka ditemukan dalam kondisi berkilau lantai disapu, sampah dirapikan, jendela dibuka untuk sirkulasi udara lengkap dengan sepucuk kartu bertuliskan “TERIMA KASIH” dalam bahasa Rusia.

Menginspirasi Dunia Saat Sidik Jari Menular

Tindakan ini menuai pujian dari berbagai penjuru. FIFA mengunggah video dengan tulisan, “Kami menunjukkan rasa hormat kami”. Media ESPN bahkan menerbitkan artikel khusus berjudul “Mengapa Fans Jepang Membersihkan Stadion?”.

Yang lebih penting, kebiasaan ini menular.

Pada 17 Juni 2026, suporter Portugal di Houston mengikuti jejak Jepang, membersihkan tribun usai pertandingan melawan Republik Demokratik Kongo. Sebelumnya, suporter Brasil, Senegal, dan Maroko juga terlihat melakukan hal serupa di berbagai ajang.

Seorang suporter Jepang berbasis di New York, Kayo Kita, menjelaskan bahwa mereka bahkan menjalin hubungan baik dengan pendukung tim lawan. “Kami menjadi teman dengan para pendukung Meksiko. Tentu saja, kami saling bertarung di lapangan, tetapi kami juga menjalin hubungan dengan lawan kami”.

Kritik dan Kontroversi Sisi Lain Dari “Kebiasaan yang Sewajarnya”

Namun, di balik pujian global, ada perdebatan sengit di dalam negeri Jepang sendiri.

Sebuah unggahan yang dilihat hampir 1,9 juta kali melontarkan kritik pedas: “Pria Jepang menghabiskan waktu paling sedikit untuk pekerjaan rumah tangga di antara negara-negara OECD. 

Tolong lakukan itu di rumah”. Data dari Kantor Kabinet Jepang menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan waktu 5,5 kali lebih lama dari pada pria untuk pekerjaan tidak berbayar, termasuk pekerjaan rumah tangga, belanja, dan pengasuhan.

Sebuah poster satir bahkan beredar viral, menggambarkan seorang suporter yang dengan bangga membersihkan stadion, tetapi di rumah ia duduk santai di sofa sementara istri atau ibunya mencuci piring di belakangnya.

Kritik lain muncul: “Apakah mereka melakukan hal yang sama setelah pertandingan J-League?” dan “Apakah ini hanya pencitraan untuk dipuji orang asing?”.

Barbara Holthus dari German Institute for Japanese Studies mengingatkan agar tidak menempatkan masyarakat Jepang di atas pedestal. “Perilaku sosial dibentuk oleh pola asuh dan keinginan untuk menghindari ketidaknyamanan bagi orang lain,” katanya. “Tetapi setiap negara menghadapi tantangan dan kekurangannya masing-masing”.

Namun para pendukung tradisi ini membela: kebiasaan membersihkan stadion bukanlah pencitraan, melainkan refleksi kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, bukan keinginan akan pengakuan publik.

Tradisi suporter Jepang membersihkan stadion adalah fenomena budaya yang kompleks. Ia berawal dari kekalahan dan inspirasi dari musuh. Ia tumbuh dari pendidikan sekolah dan pepatah kuno. Ia bertahan selama 28 tahun, melintasi generasi dan benua. Ia menginspirasi dunia, tetapi juga menuai kritik di dalam negeri.

Namun satu hal yang tak terbantahkan: olahraga adalah cermin budaya. Cara kita berteriak, cara kita berpakaian, cara kita merayakan kemenangan, dan cara kita menerima kekalahan semuanya adalah sidik jari yang ditinggalkan bangsa kita di mata dunia.

Suporter Jepang mengajarkan bahwa di luar skor, ada hal yang lebih abadi: karakter. Bahwa meninggalkan tempat lebih baik dari saat kita datang adalah bentuk penghormatan paling sederhana namun paling bermakna.

Seorang suporter Jepang pernah berkata kepada wartawan asing, “Kami datang untuk memenangkan pertandingan. Kami tidak ingin hanya dikenal karena membersihkan stadion”.

Mungkin itulah pelajaran paling berharga: lakukan hal baik karena itu benar, bukan karena ingin dipuji. Dan ketika kebaikan itu menjadi “kewajaran”, di situlah peradaban sejati terbentuk.

                  Batu, 21 Juni 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...