Indonesia Tak Akan Selamat?

Oleh Yudi Latif
Saudaraku, Indonesia tidak akan selamat jika terus membiasakan hidup melampaui batas kemampuannya. Jika hasrat untuk mengonsumsi tumbuh lebih cepat daripada kemampuan untuk menghasilkan. Jika pengeluaran terus melampaui pendapatan. Jika utang terus digunakan untuk membiayai kenikmatan hari ini tanpa memperbesar kemampuan menciptakan kemakmuran esok hari.
Kecuali bangsa ini kembali menegakkan disiplin yang menjadi dasar setiap kemajuan: menghasilkan lebih banyak daripada yang dikonsumsi, menabung lebih banyak daripada yang dihamburkan, dan memastikan bahwa utang digunakan untuk memperbesar kapasitas produktif bangsa, bukan beban yang membelenggu masa depan.
Indonesia tidak akan selamat jika terus menggantungkan harapan pada apa yang tersimpan di bawah tanah. Minyak akan habis. Tambang akan menipis. Harga komoditas akan naik dan turun mengikuti gelombang dunia. Tidak ada bangsa yang dapat membangun masa depannya hanya dengan menjual warisan alam yang tidak dapat diperbarui.
Kecuali kita mampu mengubah kekayaan alam menjadi kekayaan pengetahuan, mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi, dan menjadikan inovasi sebagai sumber utama daya saing bangsa.
Indonesia tidak akan selamat jika jumlah penduduk yang besar hanya menjadi kebanggaan statistik. Sebab jumlah manusia tidak otomatis melahirkan kekuatan. Bonus demografi dapat menjadi berkah, tetapi juga dapat berubah menjadi beban.
Kecuali pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan pembentukan karakter ditempatkan sebagai investasi nasional yang paling utama. Sebab yang menentukan masa depan bukan berapa banyak manusia yang kita miliki, melainkan berapa banyak manusia yang mampu berpikir, berkarya, dan menciptakan nilai bagi sesamanya.
Indonesia tidak akan selamat jika ilmu pengetahuan kehilangan tempat terhormat dalam kehidupan bangsa. Jika sensasi lebih dihargai daripada prestasi. Jika keramaian lebih dipuja daripada pemikiran. Jika jawaban lama terus diulang ketika zaman sedang melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru












