“Uji Warisan”: Apa yang Tinggal Sesudah Gas Habis?

Oleh: Teuku Johar Gunawan
Setelah Hamdalah dan Shalawat.
Setiap ladang gas pada akhirnya pasti habis.
Tidak masalah seberapa besarpun cadangannya atau reserve-nya. Tidak peduli seberapa canggih teknologinya. Suatu hari, maka produksi gas akan menurun, dan produksi akan berhenti, dan semua peralatannya akan jadi besi berkarat dan tidak dipakai lagi.
Jadi pertanyaan yang sebenarnya bukan hanya:
Seberapa banyak gas yang bisa kita produksi.
Pertanyaan yang lebih mendalam adalah:
Apa yang tinggal setelah gas habis?
Dua Hasil Yang Berbeda
Mari kita bayangkan ada dua wilayah yang punya cadangan gas yang sama.
Di wilayah pertama, proyek gas berjalan dengan lancar. Produksinya cepat mulai. Lalu uangnya mengalir kepemerintah pusat. Proyek dianggap sukses.
Tetapi hampir semua peralatannya, servis atau jasa, dan pekerjaan datang dari luar wilayah tersebut.
Perusahaan lokal tidak dilibatkan secara nyata. Ketika gas habis, proyek ditutup, dan sebagian besar aktivitas yang tadinya ada di sana, menghilang bersama habisnya gas.
Di wilayah kedua, proyek didesain dengan cara yang berbeda. Memang lebih banyak usaha dan perjuangan di awalnya. Tapi banyak perusahaan lokal lahir dan dilibatkan. Lebih banyak pekerja yang bisa dilatih. Dan lebih banyak infrastruktur yang berhasil dibangun yang masih bisa digunakan dan berfungsi bahkan setelah proyek berakhir dan gas habis.
Sekolah dibangun, universitas, industri lokal, pusat pelatihan dan pendidikan, ekonomi lokal bukan hanya tumbuh tapi berkembang dengan dasar yang kuat untuk ke depannya.
Maka ketika gas habis. Situasinya sangat berbeda.
Sumber daya alam gas itu sama-sama telah habis di kedua wilayah itu. Tapi di satu wilayah semuanya hilang juga bersama habisnya gas. Sementara di satu wilayah lain, gas boleh pergi tapi ada sesuatu yang tetap tinggal.
Ini adalah ujian sesungguhnya.
Hal ini mengarahkan kita kepada konsep sederhana: Sebuah sumber daya alam jangan hanya dinilai dari apa yang diproduksi, tetapi apa yang ditinggalkan di belakang hari.
Ini yang kita sebut sebagai Uji Warisan.
Ia tidak rumit, dan ia membuat kita perlu menjawab pertanyaan sederhana:
Sesudah 20 atau 30 tahun berproduksi, apa yang masih dimiliki wilayah tersebut?
Ia merubah fokus, dari sekedar indikator produksi jangka pendek ke hasil pembangunan jangka panjang. Ia tidak menafikan efisiensi ekonomi. Namun ia menambah dimensi kedua yang sering terlewat dalam pengambilan keputusan (decision making) yaitu: nilai yang bertahan lama.
Mengapa ini penting?
Karena sumber daya alam itu terbatas – termasuk gas. Ia akan habis suatu masa. Ia tidak bisa terus diproduksi selamanya. Tetapi dampak suatu proyek bisa lebih lama dari cadangan gas itu sendiri.
Analisis ekonomi proyek biasanya berfokus pada masa operasional lapangan yang ada (sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun misalnya). Namun masyarakat wilayah itu tetap hidup melampaui cakrawala waktu itu. Sebuah wilayah tidak lenyap begitu saja ketika produksi berakhir.
Infrastrukturnya tetap ada. Tenaga kerjanya tetap ada. Struktur ekonominya tetap ada.
Itu sebabnya Uji Warisan itu pada dasarnya merupakan pertanyaan jangka panjang. Ia mempertanyakan apakah keuntungan dan keenomian jangka pendek dapat diubah menjadi kemampuan (capability) jangka panjang.
Dan pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang abstrak. Ia adalah indikator praktis untuk mengetahui apakah pengembangan sumber daya alam berkontribusi pada perubahan ekonomi jangka panjang atau pada dasarnya hanya berfungsi sebagai kegiatan ektraksi (pengambilan) sementara.
Maka proyek yang berhasil itu, meninggalkan di belakangnya:
– Tenaga kerja yang bertambah pengetahuan dan keahliannya.
– Lembaga dan ketrampilan bertahan melampau siklus hidup proyek.
– Generasi yang bertambah kualitas pendidikannya dan daya saingnya.
– Perusahaan lokal yang lebih kuat.
– Infrastruktur yang lebih baik dan terus menghasilkan nilai.
– Bertambahnya pengalaman dalam menangani industri besar di wilayah itu.
– Ekonomi lokal yang terus berkembang dan meningkat.
Proyek yang lemah itu, meninggalkan di belakangnya:
– Sangat sedikit peningkatan keahlian dan kemampuan lokal.
– Sedikit sekali perubahan ekonomi lokal.
– Wilayah itu kembali lagi kepada keadaan sebelum adanya proyek itu dan bahkan bisa jadi lebih buruk.
Konsep Kunci
Bahwa sebenarnya gas itu sendiri bukanlah kekayaaan. Ia hanya potensi.
Karena kekayaan sebenarnya tergantung kepada apa yang terjadi dan apa yang diperbuat dengan adanya gas tersebut.
Dua wilayah bisa memproduksi gas yang sama, tetapi bisa berakhir dengan keadaan yang sangat berbeda.
Perbedaan itu bukan ada pada cadangan gas di bawah tanahnya.
Tetapi perbedaannya adalah bagaimana proyek itu dirancang dan apa yang dibangun ketika sesudah beroperasi.
Sederhananya begini
Bayangkan dan anggap proyek untuk mengambil sumber daya alam gas ini seperti proyek konstruksi yang memakan waktu yang lama di suatu wilayah.
Satu versi hanya mengambil hasil lalu kemudian mengekspornya. Proyek selesai.
Satu versi lainnya juga membangun:
• Peningkatan keahlian bagi tenaga kerja lokal.
• Kemampuan bisnis lokal yang bisa bertahan melampau masa proyek itu.
• Infrastruktur yang terus menghasilkan nilai.
• Lembaga dan ketrampilan bertahan.
• Kualitas pendidikan masyarakat dan daya saingnya.
• Ekonomi lokal yang berkembang, meluas dan meningkat.
Dan membangun dan mendatangkan semua kebaikan buat wilayah tersebut.
Kedua wilayah itu sama-sama menghasilkan gas.
Tetapi hanya satu wilayah yang meninggalkan sesuatu di belakangnya, sesudah gas habis dan proyek itu tidak ada lagi.
Pertanyaan Utamanya
Jadi, pertanyaannya bukan hanya:
• Seberapa cepat kita bisa memproduksi?
• Seberapa efisien dan ekonomis proyeknya?
• Apakah ini opsi pengembangan dengan biaya terendah?
• Seberapa banyak uang yang dihasilkan?
• Apakah ini konfigurasi dengan tingkat pengembalian(return) yang paling tinggi?
Pertanyaannya juga adalah:
• Ketika proyek ini berakhir, dan gaspun habis, apa yang masih tinggal?
• Apa yang tersisa bagi masyarakat pada saat itu?
Karena pada akhirnya, semua ladang gas akan ditutup.
Namun, tidak semua wilayah mengalami nasib yang sama.
Dan perbedaan itulah yang yang sesungguhnya menjadi tolok ukur kesuksesan.










