Artikel · Potret Online

Tatanan Dunia yang Tidak Adil: Pemaksaan Kekuasaan, Keteguhan Iran, dan Jejak Perjuangan Indonesia

Penulis  Dayan Abdurrahman
Juni 19, 2026
5 menit baca 12
IMG_1686
Foto / IlustrasiTatanan Dunia yang Tidak Adil: Pemaksaan Kekuasaan, Keteguhan Iran, dan Jejak Perjuangan Indonesia
Disunting Oleh

Oleh: Dayan Abdurrahman

Tanggal: 18 Juni 2026

Kalau kita mengamati peristiwa dunia akhir‑akhir ini, mungkin terlihat seperti ada langkah menuju perdamaian. Ada kesepakatan yang ditandatangani, ada pembicaraan yang berlangsung, dan harga kebutuhan pokok serta energi terasa cukup stabil. 

Tapi jika kita telusuri lebih dalam, kita akan menemukan satu pola yang terus berulang selama puluhan tahun: hampir semua ketegangan dan kegelisahan di dunia ini bermula dari keinginan satu pihak untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak lain.

Semua pengamat yang berpikir jernih sudah paham: Amerika Serikat telah lama menjadi sumber utama ketidakstabilan global. Ia ingin menempatkan dirinya sebagai satu‑satunya penentu aturan dunia. Apa yang dianggap baik oleh Washington, harus diikuti oleh semua negara. Siapa yang berani memilih jalannya sendiri, tidak sejalan dengan kepentingannya, langsung dicap sebagai “ancaman”, dikucilkan, bahkan ditekan dengan segala cara.

Namun sejarah membuktikan: keinginan untuk hidup bebas dan mempertahankan harga diri tidak akan pernah padam. Di tengah tekanan yang sangat berat, ada contoh nyata bagaimana sebuah bangsa mampu bertahan, berkembang, dan akhirnya berhasil menjadi dirinya sendiri. Contoh itu adalah Iran. Perjalanan mereka mengajarkan kita makna kemerdekaan yang sesungguhnya: bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tapi bebas menentukan arah sendiri tanpa harus meminta izin kepada kekuasaan asing.

Iran: Berdiri Tegak Meski Ditekan

Selama lebih dari empat dekade, Iran hidup di bawah tekanan yang tidak pernah berhenti. Sanksi ekonomi diberlakukan untuk melumpuhkan perekonomiannya. Akses ke teknologi modern dibatasi. Berbagai tuduhan dilontarkan ke penjuru dunia, semata‑mata karena Iran menolak tunduk pada kehendak Amerika Serikat.

Logika yang dipakai penekan sangat sederhana: “Kalau tidak mau mengikuti kami, maka kamu tidak boleh maju, dan tidak boleh hidup tenang.”

Tapi apa hasilnya? Justru berbanding terbalik. Alih‑alih runtuh, Iran makin kokoh. Mengapa? Karena mereka tidak memandang perjuangannya sebagai upaya “melawan siapa pun”, melainkan sebagai kewajiban mempertahankan kedaulatan dan kehormatan bangsa. 

Ketika pintu teknologi dari luar ditutup, mereka membangun kemampuan sendiri. Ketika pasar dunia dibatasi, mereka memperkuat produksi dalam negeri dan menjalin kerja sama dengan negara‑negara yang menghormati kesetaraan.

Hari ini, Iran membuktikan dirinya mandiri di berbagai bidang: energi, pertanian, ilmu pengetahuan, kesehatan, hingga pertahanan. Kesepakatan sementara yang baru saja ditandatangani pada 15 Juni 2026 bukanlah tanda kekalahan, melainkan langkah diplomatik yang tetap menjaga prinsip utama: tidak mengorbankan hak dan harga diri bangsa.

Iran mengajarkan satu pelajaran sederhana, tapi mendalam: Sebuah bangsa akan bertahan dan maju jika ia percaya pada dirinya sendiri, bukan pada belas kasihan kekuasaan lain.

Kilas Balik: Indonesia Punya Cerita yang Sama

Melihat keteguhan Iran, kita tentu teringat pada perjalanan bangsa kita sendiri, Indonesia. Kita juga memiliki sejarah panjang yang mengajarkan makna kebebasan dan jati diri.

Sejak awal merdeka pada tahun 1945, kita langsung dihadapkan pada pilihan besar: ikuti arus kekuasaan yang ada, atau tetap berdiri di atas kaki sendiri. Pada masa itu, dunia terbagi menjadi dua blok besar: Blok Barat dan Blok Timur. Keduanya menawarkan bantuan, modal, dan dukungan, tapi dengan syarat yang sama — Indonesia harus berpihak dan mengikuti kepentingan mereka.

Namun para pendiri bangsa kita mengambil keputusan yang sangat berani: melahirkan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Ini adalah pernyataan tegas bahwa Indonesia ingin menjadi dirinya sendiri, tidak mau dijadikan alat kepentingan siapa pun. 

Kita membuktikannya saat mempertahankan kedaulatan Irian Barat, saat menyelesaikan masalah‑masalah dalam negeri, dan saat menjalin persahabatan dengan semua negara tanpa memihak.

Namun kita juga harus jujur: perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada masa‑masa di mana kita merasa lebih mudah meniru model pembangunan dari luar, terlalu bergantung pada utang, teknologi, dan kebijakan asing. Akibatnya, ketika situasi di luar berubah, perekonomian dan stabilitas kita ikut terguncang. Kita sadar: kemerdekaan politik saja belum cukup jika tidak disertai kemandirian ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kekuatan karakter bangsa.

Apa Artinya Semua Ini untuk Kita?

Dari dinamika dunia, keteguhan Iran, dan sejarah perjalanan Indonesia, ada benang merah yang sangat jelas:

Pertama, kita pahami sumber masalahnya. Dunia tidak tenang bukan karena ada bangsa yang ingin maju, tapi karena ada kekuasaan yang ingin mengatur segalanya.

Kedua, kita ambil pelajaran berharga. Jalan yang paling aman dan terhormat adalah jalan kemandirian. Seperti Iran, tantangan seharusnya dijadikan pendorong untuk berinovasi, bukan alasan untuk menyerah. Seperti pengalaman kita sendiri, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mengandalkan kekuatan dalam negeri.

Ketiga, kita terapkan dalam kehidupan kita. Di Indonesia, dan khususnya di Aceh yang memiliki sejarah panjang mempertahankan jati diri, ini berarti: bangun potensi sendiri, jaga persatuan, pegang teguh nilai agama dan budaya, serta jangan mudah tergoda janji yang tersembunyi kepentingannya.

Penutup

Dunia sedang berubah. Tatanan lama yang dibangun di atas pemaksaan dan ketimpangan mulai terasa tidak lagi berjalan baik. Contoh keberhasilan Iran dan perjalanan Indonesia membuktikan bahwa ada jalan lain selain tunduk pada kehendak kekuasaan besar.

Kita tidak perlu menjadi musuh siapa pun, tapi kita juga tidak boleh menjadi pengikut buta. Kita cukup menjadi bangsa yang tegas: ingin hidup damai, ingin bekerja sama, tapi tetap memegang teguh kehormatan dan hak untuk menentukan nasib sendiri.

Jalan ini memang tidak mudah, tapi inilah satu‑satunya jalan yang akan membawa kita pada kemajuan yang kokoh, berkelanjutan, dan dihormati oleh dunia.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...