Artikel · Potret Online

Perjalanan Mengarungi Benua Menuju Miami, Amerika Serikat

Penulis  Tabrani Yunis
Juni 9, 2026
9 menit baca 86
P1010214
Foto / IlustrasiPantai Miami

Oleh Tabrani Yunis

Saat duduk beristirahat sejenak di sebuah bangku terbuat dari kayu di POTRET Gallery, jalan Prof Ali Hasyimi, Pango Raya, Banda Aceh pada sore Minggu, 7 Juni 2026,tiba-tiba ingatan  melayang jauh ke masa lalu, mengenang sebuah kenangan  perjalanan yang sangat berharga dan bisa dikatakan tak terlupakan (unforgetable). Miami, di Florida, Amerika Serikat pada bulan Juni 2007.

Sepulang dari Helsinki, Finlandia, pada bulan Maret 2007, penulis kembali mendapat  sebuah kesempatan emas, yang sangat berhara dan sangat mahal, karena terus terang, perjalanan itu tidak mungkin penulis lakukan dengan menggunakan uang sendiri, apalagi gaji yang kecil, lalu bisa ke luar negeri. Tapi atas bantuan Allah, sepulang dari Helsinki tersebut, kesempatan datang lewat sebuah program mulia, yakni “Program Kepemimpinan Remaja Indonesia yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Youth Leadership for Indonesia (YLIP)”.  Program ini adalah sebuah kursus kepemimpinan dan Community Development di Florida International University (FIU) selama satu bulan berada di Miami, Florida, Amerika.  Program kerjasama The Education and Culture affairs Department of US State Departments, Florida International University dan in country partners sebagai mitra Indonesia, yakni American Corner UGM di Jogjakarta dan Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh yang penulis pimpin.

Terus terang ini adalah kesempatan emas, bukan saja buat penulis, tetapi juga bagi 4 siswa dari Aceh dan 12 siswa dari Jogjakarta serta 4 orang pendaming dari Jagjakarta. Jadi semua berjumlah 22 orang mendapat tiket untuk berangkat ke Miami, serta berbagai fasilitas perjalanan dan logistik selama satu bulan belajar di Miami, Amerika Serikat. Bagi yang sudah pernah ke Miami, pasti bisa membayangkan seperti apa perjalanan itu. Maka, karena ini adalah perjalanan pertama dan satu-satunya perjalanan ke benua Amerika tersebut. Penulis menyebutkan ini adalah perjalanan yang luar biasa. Mengapa demikian?

Ini adalah perjalanan yang cukup Panjang bagi penulis yang berdomisili di Banda Aceh. Kala itu, perjalanan diawali dari bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh menuju Jakarta dan dilanjutkan ke Jogjakarta untuk mendaptakan briefing tentang kegiatan sebelum berangkat dan setelah tiba di Miami. Kegiatan di Jogjakarta berlangsung selama dua hari, lalu Kembali ke Jakarta untuk mengurus visa perjalanan di Kedutaan Amerika, di jalan Medan Merdeka Selatan no.3-5, Jakarta Pusat, tidak jauh dari Monas, Stasiun kereta api Gambir dan Masjid Istiqal. Sebuah Kawasan pusat pemerintahan dan diplomasi di ibu kota Jakarta. Di sini penulis dan semua peserta mengurus visa yang dibantu oleh teman dari pihak kedutaan, sehingga tidak sulit bagi kami mengurus visa ke Amerika. Alhamdulilah siap dalam sehari dan itu adalah bukti kami bisa berangkat menuju Miami.

Perjalanan yang luar biasa itu pun akhirnya terwujud, ketika esok harinya semua peserta menuju bandara Internasional Soekarno- Hatta di Jakarta. Ini adalah perjalan menyeberangi benua dengan rute transit yang cukup panjang dan sudah pasti  memberikan pengalaman tersendiri bagi penulis dan para peserta program ini. Ya, perjalanan di tahun  2007, kami  melewati beberapa hub penerbangan internasional utama di Asia dan Amerika Serikat sebelum akhirnya tiba di Florida.

Rute perjalanan kami saat itu memberikan pengalaman baru serta menambah jumlah negeri yang dapat dan pernah disinggahi. Ya, setelah meninggalkan bandara Soekarno- Hatta, perjalanan dimulai menuju  Bandara Incheon, Seoul, Korea.(Busan, Korea Selatan). Bandara Incheon (ICN)  adalah bandara terbesar di Korea Selatan,  juga sebagai salah satu hub bandara paling modern di dunia, karena terkenal dengan layanan penumpang kelas dunia, memiliki fasilitas canggih dan konektivitas global.  Jadi sangat menajkjubkan bagi penulis dan juga bagi teman-teman yang berangkat bersama. Perjalanan Panjang yang menghabiskan waktu hingga 7 jam, 15 menit. Bayangkan lamanya berada di pesawat. Melelahkan bukan? Tentu saja.

Namun, kelelahan itu pun terobati, karena merasa gembira dan bangga bisa menapaki kaki di bumi Korea itu, juga  selama transit di Incheon, kitab isa bisa menikmati berbagai fasilitaa unik, sepert tur budaya singkat, hingga kalua ada waktu bisa tour ke luar bandara. Konon, kalua kita transit lebih lama di Incheon, kitab isa menikmati transit tour dan berbayar selama 2 sampai 5 jam. Sehinga bisa menunjungi Gyeoyongbokgung palace, Imsa-dong, atau ke pasar local. Apalagi untuk beberapa negara tertentu tidak memerlukan visa. Selain itu, kita juga bisa menikmati Korean Culture Street, sebuah area dengan gazebo tradisional, pertunjukan music dan juga selfie. Tentu sangat banyak yang bis akita nikmati, senadainya kita punya waktu dan uang, karena bagi yang punya uang yang banyak bisa menikati kuliner dan berbelanja serta menikmati berbagai jenis hiburan  di kota modern ini. Sungguh, kesempatan emas ini adalah sebuah anugerah yang sangat bernilai bagi penulis. Apalagi semua biaya, tidak perlu penulis keluarkan. Enak, bukan?

Nah, setelah transit sekitar dua jam di Bandara  Incheon, Seoul, Korea Selatan ini, kami harus melanjutkan lagi perjalanan. Dari Seoul, Korea, perjalanan dilanjutkan ke Jepang. Sekali lagi, Impian untuk bisa menginjakan kaki di Jepang, dapat terwujud dengan adanya perjalanan Panjang menuju Miami ini. Nah, waktu tempuh dari bandara Incheon, Korsel ke bandara Narita di Jepang sekitar 2 jam 10 menit.

Bandara Internasional Narita (Tokyo, Jepang) dikenal juga sebagai salah satu gerbang utama dunia dan hub raksasa untuk penerbangan trans-Pasifik menuju Amerika Serikat. Konon, bandara ini adalah perpaduan antara teknologi modern dan budaya Jepang yang kental. Ketika kita masuk ke bandar ini, kita menemui deretan toko merchandise anime, restoran ramen otentik, serta toko suvenir yang menjual camilan khas Jepang seperti Matcha Green Tea atau Tokyo Banana. Kita juga bisa merasakan kenikmatan pelayanan yang terkenal  sangat ramah dan tepat waktu. Sayangnya waktu transit di bandara Narita sangat singkat. Sehingga tidak punya waktu yang cukup untuk jalan-jalan di bandar aini. Namun, rasa Syukur kepada Allah, tidak boleh putus, karena perjalanan ini juga memberikan nikmat ganda, sekali merangkuh dayung dua tiga bandara bisa disinggahi.

Perjalanan mengarungi dua benua masih belum selesai, kami masih belum menapakkan kaki di negeri Paman Sam, masih berada di bandara Narita, Jepang, menunggu lanjutan perjalana ke bandara Metropolitan Distrik Wayne Detroit, Amerika Serikat sebagai bandara transit ke tiga dalam perjalanan menuju Miami, USA.

Ya, setelah beberapa saat di Bandara Narita, Jepang, waktu untuk check in tiba, kami bergegas masuk ke ruang tunggu dan masuk ke dalam barisan antrean. Penerbangan ke bandara Metropolitan Distrik Wayne, Detroit, USA pun mulai berlangsung ketika pesawat yang kami tumpangi meninggalkan landasan menukik menuju ruang angkasa menuju Detroit. Ini adalah perjalanan Panjang yang harus ditempuh, sebab jarak waktu tempuh dari Bandara Narita (NRT) ke bandara Metropolitan Wayne Detroit, (DTW) itu memakan waktu hingga 11 jam atau 12 jam. Cukup lama bukan?

Ya, cukup lama dan melelahkan, karena kegiatan kita duduk dalam satu kali penerbangan sangat lama. Namun, sekali lagi rasa gembira dan ingin tahu bagaimana Miami dan kehidupan di Miami itu, memupuskan semua rasa lelah itu. Sebab, ini adalah sebuah perjalanan gratis yang sangat mahal bila kita bayar sendiri dengan uang sendiri. Mana mungkin, benar kan?

Alhamdulilah, setelah selama 12 jam dalam pesawat menuju Miami, pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Metropilitan Wayne, Detroit, USA, pertanda destinasi yang dituju semakin dekat, karena destinasi terakhir adalah Miami, USA.  Setelah pesawat mendarat dengan sempurna di bumi Detroit, semua penumpang turun masuk ke Gedung bandara, menuju Imigrasi. Jadi dapat bayangkan seperti apa ketatnya kita masuk ke negara yang kini dipimpin oleh Donald Trump ini.  Lumayan lama dan menegangkan saat mendapat pemeriksaan di bandara ini. Wajah kitab bisa jadi menjadi perhatian serius, mengingat kedatangan kita dari Indonesia. Apa lagibila kita berjenggot, bisa lama pemeriksaannya.

Berada bandara Metropolitan Distrik Wayne Detroit (Detroit, AS), memberikan kesan tersediri karena nuansanya teras begitu beda. Betapa tidak, bandara ini adalah pintu masuk pertama A ke Amerika Serikat (Port of Entry), tempat di mana Anda dan rombongan harus melewati proses imigrasi dan bea cukai yang cukup ketat. Bandara ini merupakan salah satu hub terbesar untuk maskapai Northwest Airlines (yang kemudian bergabung dengan Delta Air Lines).

 Suasana: Bandara ini sangat modern dan luas, terkenal dengan McNamara Terminal-nya yang ikonik. Menurut cerita banyak orang bandara ini juga merupakan bandara yang ikonik, karena memiliki daya tarik utamanya  Light Tunnel, sterowongan bawah tanah futuristik dengan instalasi lampu LED warna-warni yang berubah-ubah mengikuti alunan musik, serta kereta monorel dalam ruangan (ExpressTram) yang melintas di atas kepala penumpang.  Sudah pastilah menarik sekali dan sangat menginsipirasi. Sayangnya, sekali lagi, karena kita hanya transit, tidak banyak fasilitas yang bis akita nikmati. Padahal di bandar aini sebagai bandara  Metropolitan Wayne County  Detroit (DTW) ini dikenal sebagai sebuah bandara transit terbaik dan paling ramah pengguna di Amerika Serikat. Oleh sebab itu, senadainya kita punya waktu yang cukup banyak, ada banyak tempat yang bis akita nikmati.  Salah satu yang sangat menarik adalah keindahan Light Tunnel ( terowongan lampu), yang merupakan salah satu ikon bandara Detroit yang sangat terkenal. Terowongan bawah tanah ini tercatat sepanjang 213 meter yang menghubungkan concourse B dan C di Mc Namara Terminal. Selain itu kita juga bisa bersantai di depan Water Feature, sebuah air mancur sensoris yang berada di Tengah-tengah McNamara Terminal. 

Bagi para pemburu kuliner, katanya  ketika berada di bandara Detroit kitab isa mencicipi kuliner khas Detrit dan Michigan seperi National Coney Island atau Buddy’s pizza, pasta dan lain-lain, sambil juga bisa berbelanja oleh-oleh khas Detroit  di Rebel Nell untuk belanja  perhiasan unik buatan tangan dari pecahan graffiti yang runtuh, juga membeli pakaian merek local yang sangat ikonik, serta bebrburu souvenir.

Semu aitu bis akita nikmati, apabila memiliki waktu yang cukup Panjang dan jumlah dolar yang juga harus banyak. Kalau perjalanan kita yang dibayar oleh pihak sponsor, tentu itu tidak dapat dinikmati, karena kita harus ikut agenda kegiatan yang telah disusun. Akhirnya, masa transit di Detroit berakhir, penulis dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan ke destinasi akhir, Miami. Penerbangan dari bandara Metroplitan Wayne, Detroit dengan penerbangan langsung ke bandara Miami, hanya 3 jam. Dan akhirnya setelah 3 jam perjalanan menembus awan, pesawat mendarat di  bandara Internasional Miami (Miami, AS). Bandara  Bandara Internasional Miami (MIA) yang menjadi gerbang utama yang menghubungkan Amerika Serikat dengan Amerika Latin dan Karibia.

Begitu mendarat, suasananya akan terasa sangat berbeda dengan Detroit. Di bandara ini tampak  sangat sibuk, dinamis, dan multibudaya. Maka, di bandara ini sangat sering mendengar percakapan dalam bahasa Spanyol (Spanish), yang mencerminkan demografi lokalnya yang kaya akan budaya Hispanik.

Di bandara ini, kami dijemput dan dibawa langsung ke tempat penginapan yang sudah disiapkan untuk semua peserta. Ya, kami diinapkan di sebuah hotel legend di dekat pantai di kota Miami. Itulah hari pertama penulis dan para peserta menginjakkan kaki di Miami untuk masa waktu satu bulan.

Berlanjut

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...