Esai · Potret Online

AI Tidak Pernah Menulis Lagu dan Novel

Juni 4, 2026
4 menit baca 15
192b5161-9146-498a-b22d-ed7eb45b80ed
Foto / IlustrasiAI Tidak Pernah Menulis Lagu dan Novel

Oleh Fileski Walidha Tanjung

Setiap zaman melahirkan kecemasan baru. Ketika mesin ketik mulai menggantikan tulisan tangan, sebagian orang khawatir sastra akan kehilangan jiwanya. Ketika komputer hadir, muncul ketakutan bahwa proses kreatif akan menjadi terlalu mekanis. Hari ini, kegelisahan yang sama kembali muncul dalam wujud yang lebih canggih: kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Saya memahami kegelisahan itu. Bahkan saya menganggapnya wajar. Namun yang mengganggu saya justru bukan AI itu sendiri, melainkan kesalahpahaman publik terhadap AI. Di tengah derasnya perbincangan tentang teknologi ini, muncul anggapan bahwa menulis novel dan menciptakan lagu kini menjadi perkara mudah. Seolah-olah siapa pun dapat menghasilkan karya besar hanya dengan mengetik beberapa perintah.

Pandangan semacam itu mengandung kekeliruan mendasar. Ia mengabaikan satu fakta yang paling penting dalam sejarah kebudayaan: alat tidak pernah menciptakan kualitas. Manusialah yang menciptakannya.

Kalkulator dapat menghitung jutaan angka dalam hitungan detik, tetapi tidak pernah melahirkan seorang matematikawan. Mesin ketik membuat tulisan lebih rapi dibanding tulisan tangan, tetapi tidak pernah melahirkan seorang sastrawan. Demikian pula AI. Ia dapat mempercepat proses kreatif, membantu eksplorasi ide, bahkan menyusun alternatif kalimat dan melodi. Namun kualitas sebuah karya tetap ditentukan oleh kapasitas intelektual, pengalaman estetik, dan kedalaman batin manusia yang menggunakannya.

Polemik ini menjadi menarik ketika sejumlah tokoh kreatif yang telah terbukti kemampuannya justru menunjukkan keterbukaan terhadap AI. Addie MS, Yovie Widianto, dan Eka Gustiwana adalah contohnya. Mereka bukan kreator yang lahir dari AI. Sebaliknya, mereka telah menghasilkan karya-karya berkualitas jauh sebelum teknologi ini berkembang. Karena itulah, ketika mereka memandang AI sebagai alat bantu, pandangan tersebut lahir dari posisi yang kuat, bukan dari ketergantungan.

Seorang komposer yang memahami harmoni, kontrapung, struktur lagu, dan psikologi pendengar akan tetap menjadi komposer, baik menggunakan piano akustik maupun perangkat AI. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki pemahaman musikal yang memadai tidak akan otomatis menjadi maestro hanya karena memiliki akses ke teknologi paling mutakhir.

Dalam konteks ini, saya teringat ucapan Marshall McLuhan, filsuf media asal Kanada: “Kita membentuk alat-alat kita, lalu alat-alat itu membentuk kita.” Kutipan ini sering dipahami secara setengah-setengah. Padahal maknanya bukan bahwa alat menggantikan manusia, melainkan bahwa hubungan manusia dan teknologi selalu bersifat timbal balik. Teknologi memperluas kemampuan manusia, tetapi arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia itu sendiri.

Pandangan serupa tampak dalam tulisan Tere Liye yang menyebut AI sebagai mesin dan memilih untuk tidak memusuhinya. Saya melihat ada pelajaran penting dari sikap tersebut. Kita tidak perlu menjadi pemuja teknologi, tetapi juga tidak perlu menjadi pahlawan kesiangan yang memerangi sesuatu yang sesungguhnya hanyalah alat. Persoalan utamanya bukan AI, melainkan kualitas manusia yang menggunakannya.

Masalah muncul ketika masyarakat mulai mengaburkan perbedaan antara alat dan kemampuan. Ketika seseorang menghasilkan lagu dengan bantuan AI, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah “Apakah ini dibuat oleh AI?”, melainkan “Apakah penciptanya memahami musik?” Ketika seseorang menulis novel dengan bantuan AI, pertanyaan yang relevan bukan “Apakah ia memakai AI?”, melainkan “Apakah ia memahami seni bercerita?”

Albert Einstein pernah mengatakan, “Teknologi hanyalah alat. Dalam hal memotivasi manusia dan menginspirasi mereka, guru jauh lebih penting.” Dalam dunia seni, guru itu bisa berupa pengalaman hidup, kepekaan batin, kedalaman membaca, latihan bertahun-tahun, dan pergulatan kreatif yang panjang. Semua hal tersebut tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Pada akhirnya, AI mungkin akan mampu menghasilkan jutaan lagu dan jutaan novel. Namun yang tetap dicari manusia bukan sekadar produk, melainkan makna. Kita membaca novel bukan hanya untuk mengetahui akhir cerita. Kita mendengarkan lagu bukan hanya untuk mendengar bunyi. Kita mencari jejak kemanusiaan yang tersembunyi di baliknya: keraguan, luka, cinta, harapan, dan pergulatan eksistensial yang membuat kita merasa tidak sendirian di dunia.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah apakah AI akan menggantikan seniman. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: ketika teknologi semakin mampu melakukan banyak hal, apakah manusia masih bersedia mengasah kepekaan, memperdalam pengetahuan, dan memperkaya jiwanya?

Sebab jika kualitas karya pada akhirnya ditentukan oleh kualitas penciptanya, maka masa depan seni bukan bergantung pada kecerdasan buatan, melainkan pada kecerdasan manusia yang menggunakannya. (*) 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...