Rumah Tangga Bocor

Oleh Saiful Bahri
Rumah tangga bocor itu bukan atapnya, peilaku penghuni di dlmnya, dlm hal ini ya pasangan suami isteri
Pernahkah anda lihat genteng bocor? Pertama menetes sedikit. Dibiarkan oleh pemilik rumah , lama-lama jadi banjir seisi rumah.
Rumah tangga juga begitu. Yang bikin hancur bukan masalah besar yang datang tiba-tiba. Tapi “kebocoran-kebocoran kecil” yang tiap hari kita abaikan.
Bocor dalam Komunikasi
Pernah tidak , niatnya bertanya kepada pasangan anda “sudah makan belum?” tapi keluarnya jadi nada interogasi “Kamu makan di mana saja , maka dengan siapa?” dan sebagainya dan sebagainya denga pertanyaan yang mengandung kecurigaan.
Nabi saja memanggil Aisyah “ya humaira ” – artinya yang pipinya kemerahan kemerahan Nabi pakai panggilan sayang. Rumah jadi dingin bukan karena AC, tapi karena omongan kita seperti es batu. Tajam, menusuk, meninggalkan luka, luka di hati jadi terbawa perasaan.
Bocor karena lunturnya Kepercayaan.
Kepercayaan itu sungguh sangat penting di mana pun , kapan pun dan denga siapa pun ada berinteraksi itu wajib dijaga dan dipelihara. Ada pepatah lawas mengatakan “ Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak kan percaya lagi” ibarat kaca, sekali retak, susah balik bening lagi.
Ada kasus nyata yang pernah ditangani langsung oleh penulis, waktu masih jadi Senior Manager Personalia.
Seorang karyawan bilang ke istrinya bahwa ia pulang telat karena alasan di pabrik. Istrinya curiga, iseng bertanya ke bagian personalia. Jawabannya? ” tidak ada lembur mas hari ini”.
Detik itu juga pondasi rumah tangga mereka mulai bocor. Bukan bocor air, tapi bocor kepercayaan. Mulai hari itu, tiap suami bilang “rapat”, istrinya mikir “rapat dengan siapa?”. Tiap HP berbunyi, istrinya berpikir “chat dari siapa?”.
Penulis cuma bisa jawab apa adanya: “Ibu, maaf. Bapak memang tidak lembur hari ini”.
Ingat … , hancurnya rumah tangga kadang cuma gara-gara 1 kebohongan kecil. “Lembur” 2 jam saja bisa bikin retak rumah tangga 20 tahun pernikahan.
Bocor karena kurang bersyukur
Suami hanya melihat kekurangan istri: “Masakanmu tidak seenak masakan si Anu “.
Istri melihat gaji suami orang: “Lihat tuh Pak RT, istrinya tiap bulan ganti HP”. Kamu tidak pernah beli HP baru untukku”
Padahal di rumah sebelah, orang doa tiap malam “Ya Allah, kasih aku rumah tangga kayak si Fulan. Sederhana, tapi adem”.
Kita sibuk nnengeluh pada hal hal ang tidak ada, lupa menyukuri yang sudah ada. Itu namanya kufur nimat , atap rumah sudah bocor, tapi kita malah menyalahkan hujan, bukannya panggil tukang untuk memperbaiki atap yang bocor
Rumah tidak akan roboh karena genteng bocor, akan tetapi Rumah roboh karena pondasi akhlak / prilaku pemilik rumah atau penghuni rumah yang sudah keropos. Mau ditambal pakai semen paling mahal juga percuma kalau pondasinya retak.
Tambalnya bagaimana ? Gampang.
Minta maaf duluan walau tidak salah. Itu namanya “ngelem kaca” sebelum retaknya menyebar.
Puji duluan walau cuma ” terima kasih ya sudah masak”. Itu namanya “ngecat ulang” biar rumah tidak kusam.
Rangkul dia duluan , walau lagi ngambek. Itu namanya “nambal genteng” sebelum hujan turun deras.
Rumah tangga tidak butuh yang sempurna. Rumah tangga butuh yang mau “nambal” tiap hari. Karena bocor kecil kalau dibiarkan, bisa membuat satu keluarga tenggelam.
Wassalqm
Saiful Bahri











