Esai · Potret Online

Rumah Tangga Bocor

Penulis Saiful Bahri
Juni 1, 2026
3 menit baca 33
d2851421-ed8d-490e-93f9-af1231db7d67
Foto / IlustrasiRumah Tangga Bocor

Oleh Saiful Bahri

Rumah tangga bocor itu bukan atapnya, peilaku penghuni di dlmnya, dlm  hal ini ya pasangan suami isteri 

Pernahkah anda  lihat genteng bocor? Pertama menetes sedikit. Dibiarkan oleh pemilik  rumah , lama-lama jadi banjir seisi rumah. 

Rumah tangga juga begitu. Yang bikin hancur bukan masalah besar yang datang tiba-tiba. Tapi “kebocoran-kebocoran kecil” yang  tiap hari kita abaikan.

Bocor dalam  Komunikasi

Pernah tidak , niatnya bertanya kepada pasangan anda  “sudah makan belum?” tapi keluarnya jadi nada interogasi “Kamu makan di mana saja , maka dengan  siapa?” dan sebagainya dan sebagainya denga pertanyaan yang  mengandung kecurigaan.

Nabi saja memanggil Aisyah “ya humaira ” – artinya yang pipinya kemerahan kemerahan Nabi pakai  panggilan sayang. Rumah jadi dingin bukan karena AC, tapi karena omongan kita seperti es batu. Tajam, menusuk, meninggalkan luka, luka di hati jadi terbawa  perasaan.

Bocor karena lunturnya  Kepercayaan.

Kepercayaan itu sungguh sangat penting di mana pun , kapan pun dan denga siapa pun  ada berinteraksi itu  wajib  dijaga dan dipelihara. Ada pepatah lawas mengatakan “ Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak kan percaya lagi” ibarat kaca, sekali  retak, susah balik bening lagi.

Ada kasus nyata yang pernah ditangani langsung oleh penulis, waktu masih jadi Senior Manager Personalia. 

Seorang karyawan bilang ke istrinya bahwa ia pulang telat karena alasan di pabrik.  Istrinya curiga, iseng bertanya ke bagian personalia. Jawabannya? ” tidak ada lembur mas  hari ini”. 

Detik itu juga pondasi rumah tangga mereka mulai bocor. Bukan bocor air, tapi bocor kepercayaan. Mulai hari itu, tiap suami bilang “rapat”, istrinya mikir “rapat dengan  siapa?”. Tiap HP berbunyi, istrinya berpikir  “chat dari siapa?”.

Penulis cuma bisa jawab apa adanya: “Ibu, maaf. Bapak memang tidak lembur hari ini”. 

Ingat  … , hancurnya rumah tangga kadang cuma gara-gara 1 kebohongan kecil. “Lembur” 2 jam saja bisa bikin retak rumah tangga  20 tahun pernikahan.

Bocor karena kurang bersyukur  

Suami hanya melihat  kekurangan istri: “Masakanmu tidak seenak masakan si Anu “. 

Istri melihat   gaji suami orang: “Lihat tuh Pak RT, istrinya tiap bulan ganti HP”. Kamu tidak pernah beli HP  baru untukku”

Padahal di rumah sebelah, orang doa tiap malam “Ya Allah, kasih aku rumah tangga kayak si Fulan. Sederhana, tapi adem”.

Kita sibuk nnengeluh pada hal hal  ang tidak ada, lupa menyukuri  yang sudah ada. Itu namanya kufur nimat , atap rumah sudah bocor, tapi kita malah menyalahkan hujan, bukannya  panggil  tukang untuk memperbaiki atap yang bocor

Rumah tidak akan roboh karena genteng bocor, akan tetapi Rumah roboh karena pondasi akhlak / prilaku pemilik rumah atau penghuni  rumah yang sudah  keropos. Mau ditambal pakai  semen paling mahal juga percuma kalau pondasinya retak.

Tambalnya bagaimana ? Gampang. 

Minta maaf duluan walau tidak salah. Itu namanya “ngelem kaca” sebelum retaknya menyebar.

Puji duluan walau cuma ” terima kasih ya sudah masak”. Itu namanya “ngecat ulang” biar rumah tidak kusam.

Rangkul dia duluan , walau lagi ngambek. Itu namanya “nambal genteng” sebelum hujan turun deras. 

Rumah tangga tidak butuh yang sempurna. Rumah tangga butuh yang mau “nambal” tiap hari. Karena bocor kecil kalau dibiarkan, bisa membuat  satu keluarga tenggelam.

Wassalqm

Saiful Bahri

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Motivator dan berdomisili di Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...