Esai · Potret Online

Sastra Populer dan Krisis Otoritas Estetik

Mei 7, 2026
5 menit baca 11
6d6444ff-fbfb-4529-9468-02bab84005f7
Foto / IlustrasiSastra Populer dan Krisis Otoritas Estetik
Disunting Oleh

Oleh Fileski Walidha Tanjung  

Awalnya saya datang ke dunia sastra dari lorong yang disakralkan: halaman koran, meja redaktur, email penolakan, dan keyakinan bahwa sastra adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran. Dalam dunia itu, sebuah karya tidak lahir begitu saja. Ia harus melewati seleksi, pertarungan estetik, bahkan kadang pertarungan ideologis. Namun hari ini,  keyakinan lama saya mulai digoyahkan oleh undangan sebuah acara. Saya diminta menjadi pemantik dalam acara “Sastra Populer di Ujung Jari: Membaca, Menulis, dan Berkarya di Era Digital”, duduk dengan seorang penulis muda yang berhasil menjangkau puluhan ribu pembaca melalui Wattpad.

Di titik itu saya menyadari: sastra sedang berpindah rumah.

Ia tidak lagi sepenuhnya tinggal di perpustakaan, di rak-rak buku yang berdebu, atau di rubrik budaya surat kabar. Ia kini hidup di layar ponsel, bergerak cepat di antara notifikasi, komentar, dan algoritma. Sastra tidak lagi menunggu pembaca datang kepadanya; ia mendatangi pembaca secara langsung, mengetuk kehidupan sehari-hari dengan kecepatan yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

Banyak orang menyebut perubahan ini sebagai kemerosotan. Sastra dianggap kehilangan kesakralannya. Karya-karya populer dituduh dangkal, manipulatif, terlalu mudah dicerna, dan miskin eksplorasi estetik. Kritik semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak abad ke-19, William Wordsworth sudah mengeluhkan karya-karya populer yang menurutnya hanya menawarkan “rangsangan kasar” dan menumpulkan daya pikir manusia. Goethe bahkan menyindir seni yang terlalu tunduk pada selera massa sebagai “rebusan” yang dimasak sekadar untuk memuaskan publik. Dalam pandangan mereka, seni yang terlalu mudah dikonsumsi berpotensi membunuh kedalaman batin manusia.

Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah: mengapa manusia selalu kembali pada cerita-cerita yang dekat, sederhana, dan mudah dipahami?

Barangkali karena hidup modern terlalu melelahkan. Dunia digital membuat manusia dibanjiri informasi, tetapi miskin perenungan. Kita hidup dalam banjir kata-kata, tetapi kehilangan percakapan yang sungguh-sungguh. Di tengah situasi itu, sastra populer hadir seperti ruang bernapas. Ia mungkin tidak selalu menawarkan kompleksitas filosofis, tetapi ia memberi sesuatu yang sering dilupakan sastra serius: keterhubungan emosional.

Di sinilah saya mulai melihat sastra pop bukan sebagai ancaman, melainkan gejala kebudayaan. Ia adalah cermin dari perubahan cara manusia mengalami dunia. Ketika ritme hidup menjadi cepat, sastra pun mencari bentuk yang lebih cair. Ketika manusia semakin kesepian di tengah keramaian digital, cerita-cerita populer menjadi semacam tempat pulang emosional.

Filsuf Walter Benjamin pernah mengatakan, “Setiap dokumen kebudayaan pada saat yang sama juga merupakan dokumen barbarisme.” Kutipan ini terasa relevan ketika kita membaca perubahan sastra hari ini. Di satu sisi, era digital mendemokratisasi penulisan. Siapa pun kini bisa menulis, menerbitkan, dan menemukan pembacanya tanpa harus melewati gerbang institusi sastra yang sering elitis. Namun, di sisi lain, demokratisasi ini juga melahirkan banjir teks yang kadang bergerak terlalu cepat tanpa kedalaman refleksi.

Algoritma akhirnya menjadi redaktur baru.

Ia menentukan cerita mana yang muncul, emosi mana yang dijual, bahkan kesedihan seperti apa yang paling mungkin mendapatkan perhatian. Dalam logika ini, sastra perlahan berisiko berubah menjadi komoditas emosional. Penulis tidak lagi sekadar menulis untuk mengungkapkan kegelisahan, tetapi juga menulis agar tetap relevan di mesin distribusi digital.

Namun, apakah itu berarti sastra telah kalah?

Saya kira tidak sesederhana itu. Kita terlalu sering memandang sastra secara hitam-putih: antara pop dan serius, antara tinggi dan rendah, antara estetik dan pasar. Padahal sejarah sastra sendiri tidak pernah sesederhana itu. Banyak karya yang hari ini dianggap kanon, pada masanya justru dibaca secara populer. Kanonisasi hanyalah hasil dari waktu dan kekuasaan budaya. Apa yang kini dianggap “agung” sering kali dulunya hanyalah bacaan biasa yang kebetulan bertahan lebih lama.

Karena itu, mungkin masalah terbesar kita bukan pada sastra pop, melainkan pada cara kita memandang nilai. Kita terlalu terbiasa mengukur kualitas dari kerumitan. Seolah sesuatu baru dianggap bermakna jika sulit dipahami. Padahal, kesederhanaan juga bisa menjadi bentuk kedalaman.

Albert Camus pernah menulis, “Tugas besar seni bukanlah membuat hukum atau memerintah, melainkan memahami terlebih dahulu.” Sastra yang baik, dengan demikian, bukan hanya sastra yang rumit, tetapi sastra yang mampu memahami manusia secara utuh—termasuk kerentanannya, kesepiannya, dan keinginannya untuk merasa dimengerti.

Di acara yang diadakan HMPS Lingua PBSI UNIPMA itu, saya melihat sesuatu yang menarik: para pembaca muda tidak sedang membunuh sastra. Mereka hanya membaca dengan cara yang berbeda. Mereka mencari cerita di tempat yang berbeda. Mereka mengekspresikan diri melalui medium yang berbeda. Dan mungkin, alih-alih sibuk menghakimi, kita perlu mulai belajar memahami perubahan itu.

Sebab sastra, pada akhirnya, bukan benda mati. Ia selalu bergerak mengikuti manusia. Ketika manusia berpindah ke ruang digital, sastra ikut berpindah. Ketika manusia berbicara lewat layar, sastra pun belajar hidup di sana. Yang berubah hanyalah medium; kegelisahannya tetap sama: tentang cinta, kehilangan, kesepian, ketidakadilan, dan harapan.

Mungkin benar bahwa kita sedang hidup di zaman ketika sastra kehilangan sebagian kesunyiannya. Tetapi bukankah justru di tengah kebisingan itu kita semakin membutuhkan cerita yang mampu membuat manusia berhenti sejenak dan melihat dirinya sendiri?

Di titik ini, saya mulai percaya bahwa sastra pop dan sastra serius tidak perlu dipertentangkan. Keduanya hanyalah cara berbeda manusia mencari makna. Yang satu bergerak cepat seperti arus kota, yang lain berjalan lambat seperti seseorang yang merenung di perpustakaan. Namun keduanya sama-sama lahir dari kebutuhan manusia untuk memahami hidup.

Dan mungkin, pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi “apakah sastra pop layak disebut sastra?”, melainkan: apakah kita masih mampu membaca manusia di balik semua perubahan ini?

Sebab bisa jadi, di tengah dunia yang semakin digital, yang perlahan hilang bukanlah sastra, melainkan kemampuan kita untuk benar-benar hadir sebagai manusia.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...