Artikel · Potret Online

Jubah Agama dan Kebusukan Moral

Penulis Suko Wahyudi
Mei 7, 2026
4 menit baca 9
IMG_1089
Foto / IlustrasiJubah Agama dan Kebusukan Moral
Disunting Oleh

Oleh: Suko Wahyudi

Pegiat Literasi 

Di negeri yang begitu gemar memuliakan simbol simbol agama ini, kita kembali dipaksa menelan kenyataan pahit tentang tokoh agama yang terseret kasus pencabulan. Peristiwa semacam itu bukan sekadar berita kriminal biasa. Ia adalah luka sosial, sekaligus ironi kebudayaan yang memantulkan wajah keberagamaan kita sendiri. Sebab pelakunya bukan orang asing dalam kehidupan moral masyarakat, melainkan mereka yang selama ini berdiri di mimbar, mengutip ayat suci, menasihati umat tentang akhlak, dan dipandang sebagai penjaga nilai nilai ketuhanan.

Di titik inilah masyarakat sesungguhnya sedang berhadapan dengan tragedi yang lebih dalam daripada sekadar pelanggaran hukum. Yang runtuh bukan hanya nama baik seseorang, melainkan juga kepercayaan sosial terhadap otoritas moral agama. Sebab agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia bukan hanya sistem keyakinan, tetapi juga ruang psikologis tempat orang mencari keteduhan, makna hidup, dan rasa aman batin. Ketika ruang itu dicemari oleh tindakan bejat yang dilakukan atas nama kesalehan, maka yang terluka bukan hanya korban secara pribadi, melainkan juga kesadaran kolektif masyarakat.

Kita sering terlalu cepat menyebut kasus semacam ini sebagai ulah oknum. Padahal pengulangan peristiwa di berbagai tempat menunjukkan adanya persoalan yang lebih struktural dan kultural. Ada budaya diam yang diwariskan, ada relasi kuasa yang tidak sehat, dan ada kecenderungan masyarakat untuk terlalu mudah menyakralkan manusia. Dalam situasi seperti itu, kritik dianggap ancaman, sedangkan kepatuhan dipandang sebagai ukuran kesalehan.

Psikologi agama membantu kita memahami bahwa keberagamaan manusia tidak selalu identik dengan kematangan moral. Orang dapat menguasai pengetahuan agama, fasih berbicara tentang surga dan neraka, tetapi pada saat yang sama gagal menundukkan hawa nafsunya sendiri. Agama lalu berhenti sebagai simbol sosial dan kehilangan daya transformasinya sebagai energi pembebasan jiwa.

Karena itu, masalah utama kita sesungguhnya bukan kekurangan ceramah, melainkan krisis penghayatan keberagamaan. Agama terlalu sering diajarkan sebagai hafalan, bukan kesadaran batin. Orang diajak mengingat dalil, tetapi tidak cukup dibimbing untuk memahami makna kemanusiaan dari dalil itu sendiri. Akibatnya, lahirlah pribadi pribadi yang tampak saleh di ruang publik, tetapi rapuh dalam ruang batin.

Dalam perspektif psikologi agama, keadaan seperti itu dapat melahirkan keterbelahan kepribadian religius. Di satu sisi seseorang membangun citra kesalehan sosial, tetapi di sisi lain menyimpan dorongan gelap yang tidak pernah diselesaikan secara jujur. Kesalehan kemudian berubah menjadi panggung simbolik. Jubah agama dipakai untuk memperoleh penghormatan sosial, sementara nurani perlahan kehilangan kepekaannya terhadap penderitaan orang lain.

Fenomena ini menjadi semakin berbahaya ketika masyarakat membangun relasi yang terlalu feodal terhadap tokoh agama. Banyak orang tidak lagi melihat mereka sebagai manusia biasa yang mungkin salah, melainkan sebagai figur yang hampir tak tersentuh kritik. Dalam situasi seperti itu, korban sering kehilangan keberanian untuk melawan. Mereka takut dianggap durhaka kepada guru, takut dicap melawan orang alim, bahkan takut dikucilkan oleh lingkungan sosialnya sendiri.

Di sinilah agama kehilangan ruh etiknya. Sebab agama sejatinya hadir untuk membela mereka yang lemah, bukan melindungi pelaku yang memiliki kuasa simbolik. Ketika korban justru dibungkam demi menjaga nama baik lembaga, maka sesungguhnya yang sedang dipertahankan bukan kesucian agama, melainkan gengsi sosial manusia.

Kita perlu membedakan secara jernih antara agama dan perilaku pemeluknya. Kesalahan tokoh agama tidak boleh dijadikan alasan untuk membenci agama. Tetapi pada saat yang sama, simbol agama juga tidak boleh dipakai untuk menutupi kebusukan moral. Sebab agama yang kehilangan keberanian melakukan otokritik hanya akan berubah menjadi institusi yang sibuk merawat citra, tetapi gagal menjaga nurani.

Pendidikan agama karena itu perlu dibangun kembali dengan orientasi yang lebih manusiawi. Anak didik tidak cukup hanya diajari membaca teks suci, tetapi juga harus dibimbing untuk memiliki empati, kesadaran moral, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Sebab inti agama sesungguhnya bukan pada seberapa tinggi seseorang berbicara tentang Tuhan, melainkan pada seberapa dalam ia memuliakan kehidupan.

Orang yang sungguh dekat dengan Tuhan tidak akan mudah menyalahgunakan kekuasaan atas tubuh dan jiwa orang lain. Semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin lembut pula nuraninya. Sebaliknya, ketika agama dipakai untuk memanipulasi, menindas, dan mengeksploitasi mereka yang lemah, maka yang tampak bukan cahaya ketuhanan, melainkan kegelapan moral yang bersembunyi di balik simbol simbol kesalehan.

Kasus pencabulan oleh tokoh agama akhirnya menyadarkan kita bahwa masyarakat religius belum tentu menjadi masyarakat yang matang secara moral. Keberagamaan tanpa kedalaman jiwa dapat berubah menjadi topeng sosial. Dan di balik topeng itulah, kadang manusia menyimpan sisi paling gelap dari dirinya sendiri.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Suko Wahyudi
Pegiat Literasi Berdomisili di Jogjakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...