POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Pendidikan

Pendidikan di Persimpangan Makna

Redaksi by Redaksi
Mei 1, 2026
in #Pendidikan, Kualitas pendidikan, Pendidikan, Pendidikan karakter, Politik Pendidikan
0
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Oleh: Suko Wahyudi 

Pendidikan kita hari ini, jika dibaca dengan kejernihan batin dan kejujuran intelektual, menghadirkan semacam kegelisahan yang tidak selalu terucapkan, tetapi terasa dalam denyut kehidupan sehari hari. Ia berjalan dalam irama yang tampak pasti, bahkan meyakinkan, namun menyimpan pertanyaan sunyi tentang arah dan makna. Kurikulum disusun, evaluasi dirancang, teknologi dihadirkan, tetapi di tengah semua itu, pendidikan kerap kehilangan sesuatu yang justru paling mendasar, yakni ruh yang menghidupinya.

Kita menyaksikan bagaimana proses belajar semakin terjebak dalam logika instrumental. Pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai jalan menuju kebijaksanaan, melainkan direduksi menjadi alat untuk mencapai tujuan tujuan pragmatis. Siswa belajar untuk lulus, bukan untuk memahami. Mereka mengejar angka, tetapi sering kehilangan makna. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak lagi menjadi ruang pembentukan kesadaran, melainkan sekadar mekanisme yang berjalan dalam rutinitas yang kering.

Baca Juga
  • Pendidikan di Persimpangan Makna - 7d57eb15 b4ae 4030 8f3b d4753603edda | #Pendidikan | Potret Online
    #Cerpen
    Derita Guru Agama Dianiaya Kepala Sekolah
    08 Feb 2026
  • 02
    Pendidikan
    Memimpin Bangsa, Buku, Visi dan Pendidikan
    29 Mar 2021

Di titik inilah, pendidikan kita bersentuhan dengan apa yang oleh Friedrich Nietzsche disebut sebagai nihilisme, suatu kondisi ketika nilai nilai kehilangan daya hidupnya. Nilai masih diajarkan, bahkan dilembagakan, tetapi tidak lagi menjadi orientasi yang sungguh sungguh dihayati. Dalam ruang pendidikan, gejala ini tampak ketika moralitas hanya menjadi materi pelajaran, bukan pengalaman hidup; ketika kejujuran hanya diucapkan, tetapi tidak dibiasakan; ketika pengetahuan hanya dihafal, tetapi tidak dipahami sebagai bagian dari pencarian makna.

Namun kegelisahan ini sesungguhnya bukan tanpa jawaban. Dalam tradisi kita sendiri, terdapat suatu pandangan yang begitu jernih tentang bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan. Falsafah yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yakni “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, tidak hanya merupakan semboyan, tetapi suatu kerangka kesadaran tentang relasi antara pendidik, peserta didik, dan proses menjadi manusia.

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    Minder Menghambat Kreatifitas
    22 Nov 2016
  • IMG_1095
    Artikel
    Kampus yang Tersesat di Jalan Terang: Sebuah Alegori tentang Ambisi, Kebodohan, dan Senat yang Terlambat Bangun
    08 Mei 2026

“Ing ngarso sung tulodho” mengandung kesadaran bahwa pendidikan bermula dari keteladanan. Nilai tidak cukup diajarkan, tetapi harus dihadirkan dalam laku. Dalam konteks krisis makna yang kita hadapi, keteladanan menjadi titik balik yang menentukan. Ketika guru hadir sebagai pribadi yang utuh, yang hidup dalam nilai yang diajarkannya, maka pendidikan tidak lagi berhenti pada wacana, tetapi menjelma menjadi pengalaman yang menghidupkan. Tanpa keteladanan, pendidikan mudah terjatuh pada formalitas yang kosong.

Sementara itu, “ing madyo mangun karso” menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses membangkitkan kehendak dari dalam diri manusia. Guru tidak berdiri sebagai otoritas yang memaksa dari luar, tetapi hadir sebagai bagian dari proses yang menumbuhkan kesadaran. Dalam situasi pendidikan yang sering menekankan pada tekanan eksternal, falsafah ini mengingatkan bahwa makna belajar tidak akan lahir dari paksaan, melainkan dari kesadaran yang tumbuh. Di sinilah pendidikan menemukan dimensi eksistensialnya, sebagai proses menemukan diri dan tujuan hidup.

Baca Juga
  • 3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109
    Artikel
    Menggoyang Kursi Kepala Sekolah
    01 Mei 2026
  • 02
    Olimpiade TIK
    Olimpiade TIK-Informatika (OTN) ke-VI 2024
    06 Okt 2024

Adapun “tut wuri handayani” mengandung penghormatan yang mendalam terhadap kebebasan manusia. Pendidikan bukanlah proses penyeragaman, melainkan penuntunan. Peserta didik diberi ruang untuk bertumbuh sesuai dengan potensinya, untuk menemukan jalannya sendiri, dengan tetap mendapatkan dorongan dan arah yang bijak. Dalam konteks ini, pendidikan tidak menciptakan manusia yang seragam, tetapi manusia yang autentik, yang mampu memberi makna pada kehidupannya.

Jika kita membaca falsafah ini secara utuh, tampak bahwa ia merupakan antitesis dari nihilisme. Ketika nihilisme membuat nilai kehilangan makna, falsafah ini justru menghidupkan nilai melalui keteladanan, membangkitkan kesadaran melalui partisipasi, dan memberi ruang bagi kebebasan untuk menemukan makna. Ia mengembalikan pendidikan pada hakikatnya sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar membentuk keterampilan atau memenuhi tuntutan sistem.

Persoalannya kemudian bukan pada ketiadaan konsep, melainkan pada keberanian untuk menghidupkan kembali kesadaran tersebut dalam praktik pendidikan kita. Selama pendidikan masih dipahami semata sebagai urusan teknis, maka ia akan terus berjarak dari makna. Pendidikan membutuhkan pijakan filosofis yang kuat, yang mampu menghubungkan antara pengetahuan, nilai, dan tujuan hidup manusia.

Dalam masyarakat yang memiliki akar spiritual yang kuat, pendidikan seharusnya tidak tercerabut dari dimensi transendental. Ilmu bukan hanya alat untuk memahami dunia, tetapi juga jalan untuk menemukan makna keberadaan. Ketika dimensi ini dihadirkan, pendidikan tidak lagi sekadar mencerdaskan, tetapi juga mencerahkan. Ia menjadi proses yang menyatukan akal, hati, dan tindakan dalam satu kesadaran yang utuh.

Akhirnya, pendidikan kita hari ini berada pada sebuah pilihan yang menentukan. Ia dapat terus berjalan sebagai sistem yang mengatur, atau kembali menjadi proses yang menuntun. Jika ia memilih yang pertama, maka nihilisme akan terus mengintai, menjadikan pendidikan sebagai aktivitas tanpa makna. Namun jika ia kembali pada semangat menuntun, sebagaimana diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, maka pendidikan akan menemukan kembali jiwanya.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan semata tentang apa yang diketahui, tetapi tentang kesadaran apa yang dibangun. Dan di sanalah, manusia tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga menjadi utuh dan bermakna.

Previous Post

Sajak-Sajak Tanpa Judul Din Saja

Next Post

Menggoyang Kursi Kepala Sekolah

Next Post
3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109

Menggoyang Kursi Kepala Sekolah

Please login to join discussion
POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah