Senin, April 20, 2026

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0
Ilustrasi: Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

Oleh Tabrani Yunis

Konon, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh telah menemukan kembali momentum untuk membangun budaya literasi di Aceh. Hal itu diungkapkan oleh Edi Syahputra H, S.Pd, guru SMA Negeri 13 Banda Aceh yang juga sebagai pemerhati pendidikan di Aceh dalam tulisannya di Acehsiana.com, pada 18 April 2025.

Bila memang Dinas Pendidikan Provinsi Aceh telah menemukan kembali momentum itu, walau sebenarnya sangat terlambat tahu, kabar ini sungguh menjadi berita yang menggembirakan dan layak diapresiasi. Namun, ketika membaca ulasan Edi Saputra H, S.Pd dalam tulisannya, langkah strategis yang diambil oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh itu, memunculkan banyak pertanyaan di benak kita. 

Pertanyaan pertama  apa yang dimaksud membangun budaya literasi. Kedua, seperti apa konsep yang akan dibangun untuk membangun budaya literasi di kalangan Dinas Pendidikan atau di sekolah yah yang berada di bawah payung Dinas Pendidikan?  Ke tiga, apakah Dinas Pendidikan Provinsi Aceh telah melakukan identifikasi terhadap masalah literasi yang akan diintervensi? Ke empat, apakah akar masalahnya yang membuat Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus melakukan upaya membudayakan literasi? Ke enam, program-program atau kegiatan -kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam membangun budaya literasi tersebut?

Masih ada sejumlah pertanyaan penting untuk kita pertanyakan dalam upaya Dinas Pendidikan Aceh membangun budaya literasi tersebut.  Kita belum bisa membaca konsep Semua hal ini, belum tergambar dari apa yang disebut oleh Edi Syahputra dengan program strategis Dinas Pendidikan di dalam tulisannya. 

Namun, ketika membaca tulisan tersebut yang menyebutkan bahwa membangun budaya literasi sebagai sebuah langkah strategis, kiranya terlalu prematur kita mengatakan  ketika baru pada tataran kegiatan focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh sebagai langkah strategis.

Ya, jujur saja kita katakan bahwa itu belum dapat dikatakan sebagai  yang strategis . Apalagi langkah yang diambil belum berdasarkan hasil identifikasi masalah dan belum dilakukan pula  kajian mendalam lewat sebuah proses analisis yang melahirkan strategi penanganan masalah. 

Jadi  sekali lagi kita katakan bahwa  ketika penulis dalam hal ini Wdi Syahputra yang menyebutkan sebagai sebuah strategi membangun literasi, adalah pernyataan yang prematur, apalagi pada level budaya literasi yang cakupannya lebih besar dan kompleks.

Kelihatannya Edi Syahputra  begitu bersemangat dan antusias menyebutkan ini sebagai sebuah langkah strategis. Sehingga tulisannya pun terasa mengayun-ayun, over apresiasi. Padahal, ini hanyalah sebuah langkah dari sebuah strategi yang prematur. 

Program membudayakan literasi masih pada tataran narasi, karena belum terprogram dan terencana dengan baik. Juga  terlihat prematur  dengan melihat apa yang baru dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh menggelar Focus Group Discussion ( FGD) yang terbatas tidak dapat menggali persoalan hingga ke akar masalah yang harus diintervensi atau diperbaiki.

Seharusnya bila Dinas Pendidikan Provinsi Aceh serius untuk membangun budaya literasi di sekolah-sekolah yang bernaung di bawah otoritas Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Pendidikan harus sudah memiliki konsep yang jelas tentang upaya membangun budaya literasi di sekolah- sekolah yang bernaung di bawah wewenang Dinas Pendidikan provinsi Aceh.

Bukan hanya itu, sebagai sebuah program jangka panjang, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus faham benar apa yang menjadi akar masalah pendidikan Aceh, terkait dengan masalah literasi di lingkungan lembaga pendidikan di bawah otoritas Dinas Pendidikan provinsi Aceh. Ini penting agar dalam membangun budaya literasi, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh  tidak salah dan mengulangi kesalahan dalam mencari solusi terhadap masalah literasi.

Tidak hanya, dengan memahami masalah-masalah internal dan faktor eksternal dari masalah literasi, maka Dinas Pendidikan Provinsi Aceh bisa membuat sejumlah strategi untuk mewujudkan mimpi terbangunnya budaya literasi tersebut. Sebab, bila kita  membaca pengalaman program  “ Gerakan Literasi Sekolah (GLS), program itu berjalan secara salah kaprah. Yang dihidupkan bukan kegiatan berliterasi, tetapi diwarnai dengan kegiatan memperindah pojok baca, tetapi tidak ada kegiatan membaca.

Nah, bila benar ingin membangun budaya literasi di sekolah, kiranya pihak  yang diberikan amanah untuk menggerakkan dan membudayakan literasi dapat menyiapkan tenaga-tenaga penggerak yang benar- benar faham mengenai kegiatan program literasi tersebut. Bila tidak, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh tidak ubahnya seperti orang jual kecap.

Sesungguhnya ada banyak cara untuk mewujudkan upaya membangun budaya literasi di sekolah. Oleh sebab itu, semua pihak penyelenggara sekolah harus memilki mimpi dan musuh bersama yang harus dengan segera dapat dilakukan secara bersama dan bersinergi.  Semoga saja Dinas Pendidikan Provinsi Aceh serius membangun budaya literasi, khususnya di lingkungan sekolah yah yang berada di bawah payung Dinas Pendidikan Aceh.  

Bila hal itu tidak dapat dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, maka apa yang ditulis oleh Edi Saputra bahwa FGD yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh sebagai bukti bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Aceh serius membangun budaya literasi adalah hanya aksi jual kecap dan tidak layak diapresiasi.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist