Artikel · Potret Online

Self-Compassion: Kunci Mahasiswa Mengatasi Stres dan Menjaga Kesehatan Mental

Mahasiswa sering terjebak dalam tekanan akademik dan ekspektasi sosial. Penelitian terbaru di Sumatera Utara menunjukkan bahwa self-compassion dapat menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mengurangi stres.
Penulis Ayu Triana Dewi
April 18, 2026
2 menit baca 285
Ilustrasi mahasiswa duduk sendiri dengan wajah murung dan lelah di area kampus, menunjukkan stres dan beban pikiran.
Foto / IlustrasiMahasiswa yang sedang menghadapi tekanan akademik dan pergulatan batin, menggambarkan pentingnya self-compassion dalam menjaga kesehatan mental.
Disunting Oleh

Menjadi mahasiswa bukanlah hal yang mudah. Selain harus menghadapi tumpukan tugas kuliah, banyak mahasiswa mulai merasa cemas memikirkan masa depan atau tertekan oleh ekspektasi keluarga dan lingkungan sosial. Tak jarang, ketika gagal atau melakukan kesalahan, kita justru menjadi orang pertama yang paling keras menghujat diri sendiri.

“Kita sering menjadi hakim paling kejam bagi diri sendiri, bahkan saat kita sedang berjuang.”

Ternyata, kebiasaan “jahat” pada diri sendiri ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan pada mahasiswa di Sumatera Utara mengungkapkan solusi sederhana namun sangat ampuh, yaitu self-compassion atau kemampuan untuk berbelas kasih pada diri sendiri.

Apa Itu Self-Compassion?

Bayangkan jika sahabatmu sedang gagal atau bersedih. Kamu pasti akan menghiburnya dengan kata-kata yang lembut dan penuh pengertian, bukan? Nah, self-compassion adalah melakukan hal yang sama kepada dirimu sendiri.

  • Self-kindness: Berhenti memaki diri sendiri saat gagal dan mulai memperlakukan diri dengan ramah.
  • Common humanity: Menyadari bahwa kegagalan dan penderitaan adalah hal yang manusiawi. Semua orang pernah mengalaminya, jadi kamu tidak sendirian.
  • Mindfulness: Menyadari emosi negatif yang muncul tanpa harus tenggelam atau berlebihan dalam meratapinya.

“Bersikap lembut pada diri sendiri bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk kekuatan untuk bangkit kembali.”

Kenapa Mahasiswa Membutuhkan “Welas Asih” Ini?

Hasil studi menunjukkan bahwa semakin tinggi rasa kasih terhadap diri sendiri, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis (psychological well-being) seorang mahasiswa.

Penelitian yang melibatkan 202 mahasiswa di Sumatera Utara ini menemukan bahwa self-compassion memberikan kontribusi sebesar 43% terhadap kebahagiaan dan ketenangan jiwa mereka.

“Semakin kamu menerima dirimu, semakin kuat kamu menghadapi dunia.”

Tips Sederhana untuk Mulai Menyayangi Diri Sendiri

  • Maafkan diri sendiri: Gagal pada satu mata kuliah bukan akhir dari segalanya.
  • Istirahat sejenak: Jika otak sudah lelah, jangan dipaksakan.
  • Ubah self-talk: Ganti kalimat negatif dengan kalimat yang lebih membangun.

Menjadi sukses secara akademik memang penting, tetapi menjaga kesehatan mental jauh lebih utama.

Penulis: Ayu Triana Dewi
Mahasiswa Psikologi, Universitas Syiah Kuala

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ayu Triana Dewi
Mahasiswa Psikologi, Universitas Syiah Kuala
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...