Oleh Tabrani Yunis
Orang-orang desa yang meninggalkan desa mereka, melanjutkan pendidikan ke kota, sering enggan dan bahkan tidak kembali ke desa setelah mereka meraih sukses menjadi sarjana. Mereka cendrung mencari pekerjaan di kota dan kemudian hidup dan bermukim di kota.
Mereka bahkan tidak peduli sama sekali terhadap desa dimana mereka dilahirkan. Padahal mereka dilahirkan di desa. Hal ini membuat orang berkata, tidak ubahnya seperti kacang lupa pada kulitnya. Seharusnya, setelah mereka berhasil menjadi orang sukses di kota, mereka mau sedikit peduli untuk membantu membangun fasilitas desa, seperti membantu sekolah-sekolah agar kualitas sekolah bisa meningkat. Namun, mereka tentu punya alasan sendiri, misalnya hijrah untuk mengubah nasib, tidak harus kembali ke desa atau tanah kelahiran.
Terlepas dari alasan itu, ada banyak cara untuk bisa membantu desa, asal mereka mau. Sayangnya banyak pula yang kembali ke desa, tanpa mau berbuat sesuatu yang bisa mendatangkan manfaat bagi kemajuan masyarakat desa mereka . Padahal, mereka sudah menjadi sarjana. Ya mereka cendrung menunggu peluang kerja di pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil. Sementara peluang untuk menjadi PNS saat ini sangat kecil dan sangat kompetitif.
Sering seorang sarjana kehilangan hampir semua ilmu yang dimilikinya di bangku kuliah karena terus mencari pekerjaan. Bukan hanya itu, tetapi juga lebih memilih menjadi penganggur intelektual di desa mereka dari pada mendorong diri untuk berkarya dengan potensi yang dimiliki.
Maka, tentu saja tidak salah, ketika orang-orang desa yang keluar dari desa untuk belajar ke kota, meraih kesuksesan hidup di kota, tidak kembali lagi ke desa asal mereka. Memilih menetap di kota, karena lapangan kerja yang tersedia untuk bidang ilmu yang dimiliki mereka serapannya ada di kota. Yang penting ketika mereka berhasil di kota, tidak lupa akan nasib desa mereka sendiri.
Namun banyak juga yang kembali ke desa, karena kebetulan peluang kerjanya memang ada di desa, misalnya menjadi guru, penyuluh pertanian, serta menjadi PNS di ibu kota kecamatan. Nah, mereka pun hidup dan berdomisili di desa dan ikut membangun kemajuan desa mereka.
Jadi, untuk membantu memajukan desa tempat kelahiran, tidak harus dengan kembali ke desa.
Ya. Sebenarnya, untuk membangun desa tempat kelahiran dan tempat kita dibesarkan, tidak harus dengan kembali tinggal dan bermukim di desa, tetapi bisa dilakukan dimana saja kita berdomisili. Yang penting, ketika sesorang sudah berhasil membangun diri dan karier di luar desa, ia memiliki kepedulian (aware) komitemen (commitment ) dan usaha (efforts) untuk membantu dari luar selalu ada.
Oleh sebab itu, sangat banyak cara untuk bisa membantu memajukan desa atau gampong, tanah kelahiran kita. Banyak hal yang bisa kita buat.
Taman Bacaan Masyarakat
Bagi anggota masyarakat yang ingin ikut berpartsipasi secara aktif membangun dan meajukan desa, bisa melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan masyarakat. Salah satunya adalah membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau Taman Bacaan Rakyat, atau apalah namanya. Taman Bacaan Masyarakat ini sangat penting untuk membantu masyarakat mengakses informasi dan pengetahuan lewat aktivitas membaca di desa.
Apalagi selama ini di desa, kita sulit mendapatkan sumber bacaan, seperti majalah dan buku-buku lainnya, karena di desa, kita tidak menemukan toko buku. Kalaupun ada toko buku, belum tentu ada yang mau membeli buku-buku yang dijual di toko buku tersebut.
Oleh sebab itu, agar masyarakat mudah mengakses bacaan, kita bisa menggagas dan membuka sebuah taman bacaan tersebut. Caranya, bisa gampang-gampang susah. Tergantung orang yang menggagasnya. Bagi orang yang berfikir praktis dan aplikatif, untuk membuat taman bacaan masyarakat ini tidak membutuhkan dana yang sangat besar, namun dibutuhkan kemauan yang kuat.
Juga tidak harus dibuat di sebuah bangunan megah, cukup dengan memanfaatkan rumah sendiri. Mungkin di salah satu serambi rumah atau juga dengan menggunakan ruang-ruang yang ada di meunasah atau surau yang ada di desa. Ruang-ruang ini bisa dijadikan sebagai tempat awal untuk mewujudkan cita-cita membuat taman bacaan tersebut.
Barangkali kita bisa mempelajari pengalaman Agus Munawar seperti yang dceritakan oleh Nyai Endit di Kompasiana 12 Agustus 2012. Taman Bacaan Arjasari dibangun oleh Agus Munawar dengan menggunakan ruang dapur yang hanya berukuran 3 x 3 meter. Dengan kegigihan Agus, TBM ini berkembang pesat hingga sekarang menjadi salah-satu TBM percontohan.
Agus mengatakan dulu saat dia merintis Taman bacaan Masyarakat, sepulang kerja dengan menggunakan motor vespa, dia selalu membawa buku bekas layak baca yang dibelinya dari pasar loak buku. Lalu, melihat reaksi anak-anak yang begitu antusias untuk membaca dan mengikuti kegiatan di TBM, masyarakatpun mendukung apa yang dirintis Agus.
Dukungan masyarakat dan kebersamaan mereka menjadikan TBM ARJASARI menjadi Taman bacaan yang maju dan memiliki kegiatan tetap yang edukatif.
Kiranya, pengalaman Agus Munawar tersebut, dapat kita jadikan sebagai sebuah pelajaran bahwa apa yang sering menjadi alasana orang tidak berbuat, karena tidak punya tempat untuk taman bacaan tidaklah selamanya menjadi hambatan yang begitu berarti.
Begitu pula dengan kebutuhan akan bahan bacaan. Banyak cara bisa dilakukan untuk mengisi kelengkapan buku bacaan. Pengalaman penulis sendiri kala membuka taman bacaan Iqra di Manggeng, maupun di Aceh Selatan, juga tidak terlalu sulit untuk mendapatkan bahan bacaan berupa buku atau majalah dan Koran serta bacaan lainnya itu, asalkan mau aktif melakukan banyak hal untuk membangun desa itu sendiri.
Misalnya mengumpulkan buku-buku bekas yang masih layak untuk dibaca oleh khalayak ramai dari teman-teman yang ada. Kedua, mengajak orang-orang desa yang kini berdomisili di luar desa untuk secara bersama dan sukarela menyumbankan buku. Misalnya sumbangan satu orang satu buku bacaan. Bahkan juga mencari orang-orang yang mau mewakafkan buku kepada taman bacaan tersebut.
Ketiga, tentu saja kita bisa membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang menerbitkan buku (penerbit). Apalagi zaman sekarang, media komunikasi semakin canggih, maka kemudahan–kemudahan untuk membangun komunikasi semakin mudah dan cepat bahkan sangat murah. Yang pasti banyak pihak akan mau membantu, temasuk pihak penerbit buku yang ada di kota provinsi maupun di ibukota Negara ini, bahkan di luar negeri pun akan selalu mau membantu.
Di samping itu, permohonan buku juga bisa dialamatkan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan instansi-instansi pemerintah yang memiliki koleksi buku dan majalah. Para aktivis LSM dan juga mahasiswa juga bisa membantu. Kita bisa hubungi komunitas 1001 buku yang selama ini giat menggalang pengumpulan buku dari berbagai sumber. Mereka sering mengirimkan buku-buku kepada taman bacaan atau pustaka rakyat di seluruh Indonesia.
Bukan hanya, itu, ketika taman bacaan sudah memiliki kepengurusan yang lengkap, TBM semacam ini bisa mengajukan bantuan di Dinas Pendidikan Provinsi, yakni di Bidang Pendidikan Luar Sekolah. Mereka biasanya menyediakan dana untuk PKBM yang bisa diminta oleh masyarakat untuk memberikan pelayanan PKBM tersebut. Bisa pula dengan meminta bantuan di perpustaakan-perpustakan pemerintah seperti pustaka wilayah yang ada di setiap provinsi.
Jadi, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk membantu membangun taman bacaan atau pustaka desa di banyak desa di Indonesia. Karena memang banyak jalan dan cara yang bisa ditempuh. Yang penting ada kemauan dan keseriusan untuk mewujudakannya. Pengumpulan buku bisa dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Ini bisa dilakukan demikian, karena biasanya akan selalu ada yang bersedia untuk menyumbang.
Hal yang terpenting dilakukan setelah itu adalah meningkatkan minat baca masyarakat desa atau gampong yang indikatornya adalah peningkatan jumlah pengunjung taman bacaan itu, peningkatan pengetahuan masyarakat dan juga banyaknya jumlah pinjaman buku dan koleksi buku yang tersedia setiap saat.
Hal ini penting, agar Taman Bacaan yang sudah dibangun tidak ini tidak mati dan sepi dari pengunjung dan bisa berjalan dengan lancar. Oleh sebab itu, diperlukan beberapa upaya untuk menghidupkannya. Taman bacaan ini harus ada orang yang seharian menjaga dan merawat buku, serta memberikan pelayanan untuk membaca dan meminjam buku sesuai dengan waktu atau jadwal yang dibuat setiap harinya.
Karena pada awal-awal pembentukan taman bacaan masih kesulitan dengan pendanaan, maka tenaga pengelola taman bacaan bisa dicari dari mereka yang mau menjadi pengelola sukarela atau volunteer. Untuk merekrut tenaga volunteer tersebut bisa pula dilakukan dengan cara mengajak beberapa remaja desa untuk magang di taman bacaan ini.
Tidak ada salahnya pula Taman bacaan membuka kotak amal atau sumbangan di Taman Bacaan sebagai bentuk partisipasi masyarakat desa dan pihak-pihak tertentu untuk membantu seiklasnya. Karena dengan adanya kotak amal tersebut, bisa membantu sedikit pendanaan untuk operasional. Lalu, untuk mendapatkan biaya operasioanl, tidak salah bila pihak pendiri dan pengurus Taman bacaan mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah.
Nah, dengan demikian, ketika taman bacaan sudah tersedia di desa, hal-hal yang sering menjadi kendala seperti rendahnya partisipasi masyarakat untuk meramaikan taman bacaan tersebu, dapat diatasi. Apalagi kalau pihak pengelola mau bergerak lebih aktif untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat desa, lewat perangkat desa, pihak kecamatan atau pihak-pihak yang peduli untuk mengajak masyarakat memanfaatkan taman bacaan yang sudah disediakan tersebut dengan optimal.
Hal ini perlu dilakukan agar tingkat kunjungan masyarakan ke taman bacaan atau pustaka desa tersebut bisa lebih banyak. Banyaknya pengunjung taman bacaan atau pustaka itu penting, karena ketika pustaka itu banyak dikunjungi, maka akan bisa mengundang perhatian banyak orang untuk bisa membantu lebih banyak lagi. Jadi, sesungguhnya selalu ada jalan dan kemudahan untuk sebuah aktivitas kebaikan.
Sekarang, tunggu apalagi? Sudah saatnya orang –orang desa yang kini bergiat di desa dan orang desa yang telah sukses di kota duduk bersama untuk membantu memajukan desa, membangun desa dengan menyediakan ruang baca seperrti taman bacaan atau pustaka desa.
Apabila hal ini tidak bisa dilakukan, pihak pemerintah desa sesunggunya bisa mengajukan permohonanan kepada pemerintah agar dibangun pustaka desa di desa masing-masing. Bukankah selama ini sudah banyak pihak yang mau dan berhasil membuat taman bacaan di desa? Sekali lagi, semua orang bisa ikut berpatisipasi membangun ruang baca, atau Tamanan Bacaan dan pustaka di desa. Tunggu apalagi? Silakan dimulai sekarangu juga. Jangan biarkan minat membaca masyarakat kita layu sebelum berkembang atau meningkat.






















Komentar