POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh Selatan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Redaksi by Redaksi
Juli 1, 2022
in Aceh Selatan, Biografi, Edukasi, Literasi, Pendidikan
0
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 4E9860F5 EBCB 4027 B403 0FABA4824196 | Aceh Selatan | Potret Online

Bagian 3

Bussairi D. Nyak Diwa

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 2025 06 10 19 20 08 | Aceh Selatan | Potret Online
    Aceh Selatan
    Teuku Cut Ali: Pejuang yang Terlupakan dari Sejarah Nasional
    03 Jul 2025
  • 02
    Edukasi
    SMKN 1 Simpang Ulim, Aceh Timur, Rancang Penyelarasan Kurikulum Bersama PT Astra Daihatsu Motor
    28 Apr 2024

Tahun pertama aku menjadi siswa SMP adalah tahun tersulit dalam hidupku. Bayangkan, sekolah yang terletak di ibukota kecamatan itu jauhnya kurang lebih 12 kilometer dari kampung tempat kelahiranku. Waktu itu jalan-jalan masih sangat jelek, karena jangankan beraspal, aspal pun belum dikenal. Jika musim hujan jalan-jalan becek seperti berjalan di dalam lumpur. Sedangkan apabila di musim kemarau, maka tanah-tanah mengeras dan jalan-jalan bergelombang serta berlubang-lubang. Jika menaiki sepeda sama-sama susah, baik di musim hujan maupun di musim kemarau.

Memang, untuk memudahkan aku ke sekolah, ayah membelikan aku sebuah sepeda. Sepeda perempuan, sebut teman-temanku. Dikatakan sepeda perempuan karena sepeda seperti itu sering digunakan oleh kaum perempuan. Teman-temanku memberinya gelar ‘sepeda unta’. Tapi dengan keadaan jalan seperti itu, sepeda itu seperti tidak berfungsi.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - unnamed 93a448d24513805e3338b55d2dae0cfb | Aceh Selatan | Potret Online
    Literasi
    Bertahan dan Bergerak
    06 Mar 2025
  • 02
    Anak
    Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
    12 Mar 2018

Agar jangan terlambat sampai di sekolah aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat ke sekolah. Biasanya setiap malam sebelum tidur, ibu menyiapkan nasi untuk sarapan pagi sebelum aku berangkat. Jadi setiap pagi perutku diganjal oleh nasi dingin sebelum berangkat menembus pagi yang dingin. Sebagai kawan nasi, ibu cukup merebus telur ayam kampung sebutir setiap pagi.

Ada keasyikan tersendiri ketika kami bergerombol menembus pagi berangkat ke sekolah. Di pagi yang masih remang-remang, aku dan teman-teman berangkat bersama-sama. Demikian juga sorenya ketika sekolah bubar, kami pulang juga bersama-sama. Jika ada teman yang tertinggal atau ketelatan, kami pasti menuggunya hingga bersama-sama memasuki pintu gerbang sekolah atau bersama-sama pulang meninggalkan pekarangan sekolah hingga sampai di rumah masing-masing. Kecuali jika ada di antara kami yang berhalangan atau dalam keadaan sakit.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - IMG_2485 | Aceh Selatan | Potret Online
    Artikel
    Pengawas Sekolah Sang Lebah
    31 Des 2024
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 5C5777DE 04A8 4F4E 87D0 6B5FBB807BD2 | Aceh Selatan | Potret Online
    Aceh Selatan
    Siswi SMKN 1 Tapaktuan Raih 2 Medali Emas di Ajang OSPAM
    31 Okt 2022

Dari kampungku ke sekolah ada dua sungai yang harus kami seberangi dengan rakit bambu karena belum ada jembatan. Jika rakitnya di seberang, maka di pagi yang dingin itu di antara kami siap berjibaku berenang ke seberang sungai untuk mengambil rakit agar semua teman-teman dapat menyeberang dengan selamat. Tidak pernah kami berdebat, siapa yang akan terjun ke sungai berenang menyeberang mengambil rakit. Yang pasti, khususnya bagi kami anak laki-laki adalah merupakan kebanggaan jika dapat mengambil rakit dan menyebarangkan teman-teman. Begitu tingginya rasa sosial dan kesetiakawanan kami di masa itu.

Teman-teman yang perempuan selalu penuh perhatian. Mereka sering mentraktir kami di jalan pulang dengan sepotong ‘tebu betung’ yang manis seperti gula atau dengan sebuah ‘pisang brat’ yang besarnya sebesar lengan orang dewasa. Anak-anak perempuan tahu bahwa kami anak laki-laki senantiasa melindungi mereka. Itulah sebabnya mereka, anak-anak perempuan itu dengan sukarela berbagi dengan sedikit rezeki yang mereka punya. Mereka sering menyisihkan sedikit jajan mereka untuk kami anak laki-laki, terutama bagi kami yang terkadang tidak memiliki uang jajan. Tidak hanya berbagi uang jajan, para cewek-cewek itu juga sering berbagi jawaban ‘pe-er’ terutama diantara kami yang satu kelas. Mereka tahu bahwa di antara kami ada yang malas atau tidak sempat mengerjakan ‘pe-er’ karena sibuk membantu orang tua di sawah atau di kebun. Atau kelupaan mengerjakannya karena hal-hal lain. Begitulah keseharian kami kala itu dalam berjuang untuk meraih cita-cita.

(bersambung)  

Previous Post

Kulukis Wajahmu di Angan

Next Post

Angkara

Next Post
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - F4906A06 B06F 4C60 8AE8 1224FD466F15 | Aceh Selatan | Potret Online

Angkara

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah