• Latest
Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami - cfe1c6e7 1edf 4712 9e7b effa31ab8ffa | #Korban Bencana | Potret Online

Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami

Januari 16, 2026
Ilustrasi dampak media sosial terhadap prasangka dan hate speech di masyarakat

Pemenang Lomba Menulis Maret 2026

April 25, 2026
8fd57d67-b266-4885-bcd8-39fe53b92ce9

Gaylord Nelson dan Tgk. Marzuki Alkendi (Refleksi Hari Bumi)

April 25, 2026
71fe9a28-8a21-4a48-b5d9-fc175ee99c84

Siapa Kartini Masa Kini?

April 25, 2026
1001436738_11zon

Lampouh Cina di Ujong Batee

April 25, 2026
1001436687_11zon

Tangan Berlumur Oli, Hati Berhias Ayat Kejutan SMK 1 Kluet Selatan di Podium Juara

April 25, 2026
52ec1706-de44-4638-9364-d3b561187fe4

Antara Hidayah dan Kesesatan: Tauhid sebagai Cahaya, Kejujuran Hati sebagai Jalan

April 25, 2026
77f9cf68-80b4-4cf6-9ad4-c260b70c466b

Biologi, Bakti, dan Juara

April 25, 2026
3f655983-a4b2-4d0f-b3cb-70246a196b22

Satu Sujud

April 25, 2026
Sabtu, April 25, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami

Redaksi by Redaksi
Januari 16, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Bireun, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 3 mins read
0
Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami - cfe1c6e7 1edf 4712 9e7b effa31ab8ffa | #Korban Bencana | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Nurlita

Siswa SMA Negeri 1 Jangka, Peusangan, Kabupaten Bireun, Aceh

Di desa Ruseb Ara, kecamatan Jangka, Peusangan, Kabupaten Bureun, Aceh  tempat saya dilahirkan, pada tanggal 26 November 2025, saya dan kawan kawan memutar sekitar kampung saya, karena kami ingin melihat kondisi sekeliling kampung kami. Kala itu di desa kami belum terdampak banjir dan lucunya dan juga sedihnya ketika orang orang menanyakan keaadaan kampung kami, kami dengan senang hati menjawab kampung kami gak terjadi apa-apa. Sedangkan kampung lain sudah terdampak banjir. 

Baca Juga
  • Dari Aceh Melihat Dunia: Iran, Ramadan, dan Tatanan Global Baru di Tengah Hegemoni Barat
  • Hilang Sepeda

Sepanjang perjalanan, kami melewati arus air yang sangat deras, dengan bodohnya kami masih memikirkan bahwa kampung kami masih aman aman saja, dan tibalah pada saat kami pulang, kami melihat kampung sendiri sudah penuh dengan air dan orang orang sudah terburu buru ingin mengungsi. Sementara kami,  masih di jalan dan belum mengetahui bagaimana keadaan rumah kami dan keluarga kami. 

Nah, disitulah kami tergesa gesa pulang dengan hati yang sangat risau karena memikirkan keadaan rumah kami yang belum kami ketahui seperti apa yang terjadi.

Baca Juga
  • SEBAIKNYA ANDA TAHU PENGGUNAAN TANDA DIAKRITIK DALAM BAHASA ATJÈH
  • Rahasia di Balik Mundurnya Humas BAS

Setiba  di rumah, saya melihat keadaan rumah yang sangat menyedihkan karena penuh dengan air dan juga keluarga sudah siap untuk mengungsi. Setalah melewati banjir” itu, kami pergi ke tempat yang lebih aman yang tentunya tidak kebanjiran.

Setelah hari itu berlalau,  tibalah pada suatu malam dan pada malam itu hujan yang sangat deras dan listrik padam. Kami semua di pengusian, hati kami  sangat kacau balau. Di luar hujan terus menerus tanpa henti, sehingga malam itu kami tidak bisa tidur sedetik pun.  Pada malam itu kita semua memohon  doa kepada Allah swt. Untuk jauhkan bala yang sangat amat kita takutkan. 

Baca Juga
  • HARAPAN SAYAP DUNIA
  • Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?

Pada paginya,  tepatnya pada tanggal 27 November 2025, kita semua bergegas gegas ingin melihat kondisi  di luar dan alhamdulillah airnya tidak deras lagi, walaupun masih ada. Di situlah pecah tangis kami semua, karena Allah mengabulkan permintaaan kami semalam. 

Bencana banjir ini menjadi bencana tang sangat menyedihkan bagi kami. Banjir bandang itu, membuat rumah kami dipenuhi lumpur, dan juga tumpukan kayu gelondongan yang hanyut dari hutan. Kami tidak bisa langsung pulang menempati rumah, karena banyak yang rusak dan hancur.  Banjir bandang itu juga tragedi yang memilukan. Pokoknya  banjir bandang itu menjadi hari yang paling menyedihkan dan dimana hari itu juga saya sebut sebagai hari yang penuh dengan trauma. Kami trauma melihat peristiwa yang sangat dahsyat tersebut, apalagi pada mulanya kami tidak menyangka kalau kampung kami juga dihantam banjir.

Bencana ini, membuat kami sangat menderita dan kami berhadapan dengan berbagai bentuk kesulitan. Betapa tidak, banjir bandang yang mematikan, ditambah pula padamnya listrik, sulitnya internet serta kesulitan akan segala kebutuhan hidup. Orang-orang yang tidak terkena banjir saja mengalami kesulitan, apalagi kami yang berada di dalam wilayah banjir?

POTRET Gallery Banda Aceh

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Duolingo Shifts to AI-First Model, Cutting Contractor Roles

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com