• Latest
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam? - c58aaf42 aeec 441d a300 c990fcecfd12 | #Korban Bencana | Potret Online

Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?

Januari 11, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam? - 1001348646_11zon | #Korban Bencana | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam? - 1001353319_11zon | #Korban Bencana | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam? - 1001361361_11zon | #Korban Bencana | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?

Frida Pigny by Frida Pigny
Januari 11, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Belanda, Bencana, Hutan, Hutan Nanggroe, Kebencanaan, kerusakan hutan, Mitigasi bencana, Penebangan hutan, Sorotan
Reading Time: 5 mins read
0
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam? - c58aaf42 aeec 441d a300 c990fcecfd12 | #Korban Bencana | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh: @Frida.Pigny

Beberapa waktu lalu, seorang teman, pilot perempuan asal Belanda bernama Fenna, mengirim pesan singkat ketika ia tahu Aceh sedang banjir: “Come move to the Netherlands, hehe.” Kalimat itu mendarat di ponselku tepat saat Aceh kembali dikepung genangan akibat hujan lebat, sebuah siklus yang kini terasa seperti “menu wajib” sejak akhir 2025 dan menyambut awal 2026. Bahkan masih dalam keadaan tergenang saat tulisan ini dimuat!

Aku membalasnya dengan candaan tentang aroma rumput di Giethoorn dan Friesland, dua kota penuh air Belanda. Tapi candaan itu menahan pikiranku lebih lama dari yang kuduga. Mengapa Belanda bisa menjinakkan air dan menjadikannya kemewahan, sementara kita, di Indonesia, khususnya Aceh, menjadikannya bencana berkala yang “disengajai”?

Baca Juga
  • JAK TA MEUSEUDEUKAH
  • Potretonline Menjadi Referensi Generasi yang Cerdas

Belanda hidup dengan ancaman yang jauh lebih ekstrem. Lebih dari seperempat wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Tapi mereka tidak melawan air dengan ‘doa-sabar-ikhlas’ saja. Mereka menatanya. Sejak abad ke-17, mereka membangun sistem kanal, tanggul, dan polder. Hari ini, air bukan musuh, melainkan bagian dari arsitektur hidup. Kota seperti Giethoorn bahkan menjadikan kanal sebagai jalan utama. Tidak ada mobil di kota ini. Air adalah aset, bukan kutukan.

Lalu kita? Negeri yang dikaruniai hutan hujan tropis, pegunungan, sungai, dan tanah subur. Kita seharusnya menjadi bangsa yang paling siap menghadapi air. Tapi justru kita yang paling sering kelabakan.

Baca Juga
  • Budaya bersepeda yang mulai terabaikan
  • Almarhum Drs. Mohd. Kalam Daud. M.Ag., dalam Kenangan….!

Seandainya VOC Menang?


Kadang, dalam kegeraman melihat banjir yang tak kunjung surut dan pemerintah yang tanpa berdosa menganggap Aceh “sudah normal dan baik-baik saja”, muncul pikiran liar: bagaimana jika dulu moyang kita menyerah saja pada Belanda?

Baca Juga
  • Rabu Abeh dan Terapi Air Laut untuk Kesehatan
  • Ramai di Masjid, Sunyi di Struktur: Menghubungkan Spiritualitas dan Tata Kelola Aceh ke Depan


Sangat satir memang. Sejarah mencatat Aceh adalah tanah yang tak pernah benar-benar bisa diduduki VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kongsi dagang raksasa Belanda abad ke-17 yang memonopoli rempah-rempah Asia. Kita punya darah pahlawan yang menolak dijajah demi kedaulatan. Tapi lihat ironinya hari ini. Kita menang melawan Belanda, tapi tampaknya kita kalah melawan “penjajah” dari dalam gudang kita sendiri.

Jika saja Aceh berada di bawah manajemen Belanda seperti Friesland atau Giethoorn, barangkali hutan kita tetap rimbun karena mereka paham pohon adalah “teknologi” penahan air terbaik. Atau, jika hutan pun harus dibuka, mereka akan membangun sistem kanal kelas dunia agar warga tak perlu berendam lumpur setiap kali hujan turun.

Kita bangga tak pernah dijajah bangsa pirang, tapi kita diam saja saat alam kita dikuras secara kolonial oleh bangsa sendiri, yang warna rambutnya sama.

Hutan Kita Dicuri di Gudang Sendiri


Data lapangan dari wawancara warga dengan salah satu penebang pohon berizin resmi dari Kementerian Kehutanan sangat mengerikan. Hampir bisa dipastikan, bapak penggundul hutan Aceh berasal dari luar daerah. Dari pengakuannya: puluhan ribu hektar hutan di Aceh, dari Aceh Timur, Penarun, hingga Aceh Utara, digunduli dengan dalih “jatah kombatan”, “plasma PT”, atau “pembukaan lahan”.

Padahal, riset global sudah lama menunjukkan bahwa deforestasi adalah faktor utama meningkatnya banjir bandang. Hutan tropis bukan sekadar kumpulan pohon; ia adalah spons raksasa yang menyerap air hujan, menahan erosi, dan menstabilkan tanah. Ketika ia hilang, hujan tidak lagi diserap, ia meluncur bebas, membawa lumpur, batu, dan kehancuran.

Kayu-kayu raksasa itu mengalir ke luar: ke kota besar, ke pelabuhan, mungkin ke luar negeri. Lalu apa yang tersisa bagi orang Aceh? Ampasnya, dalam bentuk banjir, rusaknya ekosistem, trauma, dan biaya pemulihan yang harus ditanggung warga lokal dalam jangka waktu puluhan tahun.

Inilah kolonialisme modern. Kekayaan diambil, risikonya ditinggal di depan pintu rumah kita.

Para pelaku di lapangan sering merasa “tidak bersalah”. Mereka merasa bahwa mereka hanya sekrup kecil dalam mesin besar. Tapi di situlah tanda matinya nalar dan moral: ketika manusia terbiasa menjadi pekerja ABS, Asal Bapak Senang, bahkan jika yang disenangkan adalah mesin perusak masa depan. Yang penting ada kerja dan dibayar!

“Aceh City of Canals”?


Kita harus jujur pada realitas. Pohon-pohon yang ditebang hari ini butuh setidaknya dua dekade untuk kembali memiliki akar yang mampu menahan air. Kita tidak punya waktu 20 tahun untuk menunggu.

Jika pemerintah pusat terus menolak eskalasi status bencana dan bantuan internasional tersendat oleh birokrasi, mungkin sudah saatnya kita berhenti sekadar “melawan” air dan mulai hidup bersamanya.
Lupakan slogan ‘The Light of Aceh’. Mungkin saatnya kita mulai menggantinya dengan yang baru: ‘Aceh, The City of Canals’.

Bukan dalam arti romantik belaka. Ini soal survival. Di banyak kota dunia, seperti Amsterdam, Bangkok, bahkan Jakarta mulai terlambat belajar tentang konsep ‘water-based urban design’ yang menjadi keniscayaan. Air tidak lagi dianggap musuh, tapi infrastruktur hidup: jalur transportasi, ruang resapan, buffer bencana.

Namun kanal tercanggih pun akan jebol jika “keran” di hulu, yakni hutan kita, terus dibuka paksa. Teknologi tanpa etika hanya akan mempercepat kehancuran.

Apa yang Harus Kita Lakukan, Sekarang?
Kita tak bisa lagi bersembunyi di balik gelar akademik jika buta membaca tanda alam yang sekarat. Sebagai komunitas intelektual dan warga sadar, kita butuh lompatan konkret:

  1. Kurikulum Hutan
    Pengetahuan ekologi harus menjadi pelajaran wajib. Anak-anak Aceh harus bisa membaca sungai, tanah, dan awan, bukan hanya menghafal definisi.
  2. Ekonomi Pohon Berdiri
    Warga harus mendapat manfaat dari pohon yang tetap hidup, seperti ekowisata, karbon kredit, hasil hutan non-kayu. Mereka harus menjadi garda utama penjaga pohon, bukan penebang.
  3. Citizen Surveillance
    Latih pemuda kampung untuk mendokumentasikan setiap truk kayu, setiap pembukaan liar, dengan GPS dan kamera. Tak boleh ada lagi kejahatan tersembunyi, apalagi yang didiamkan karena akan menjadi kebiasaan.
  4. Izin Lingkungan Rakyat
    Siapa pun yang menyentuh hutan Aceh harus memiliki “izin sosial” dari rakyat dan adat. Jangan biarkan orang luar masuk tanpa pengawasan kita sendiri. Ini harus menjadi salah satu tugas utama ‘Tuha Peut’.

Alam bukan hanya untuk kita tempati tanpa merawatnya. Ia akan bereaksi terhadap bagaimana kita memperlakukannya. Jika kita membiarkan hutan dijarah, jangan heran ketika air datang menagih ruangnya yang sudah dirampok itu.

Aceh butuh arsitek transformasi, bukan sekadar ‘penikmat bencana’.
Sekarang lupakan Friesland dan Giethoorn sejenak, juga lupakan pemerintah dan pejabat zalim, agar kita bisa mulai membangun kedaulatan di atas tanah yang katanya “tak pernah dijajah” ini.

“Alam semesta ini bukan sesuatu yang ‘jadi’ lalu kita tinggal di dalamnya. Alam semesta ini adalah Partisipatori.” ~ John Archibald Wheeler

Pilihan kita sederhana:
menata Aceh di atas air atau menunggu tenggelam bersama kebanggaan kosong? (*)

Share234SendTweet146Share
Frida Pigny

Frida Pigny

Frida Pigny adalah seorang home educator bersertifikat, pembicara transformasional, dan pendiri SuperSchooling, sebuah platform pendidikan keluarga yang membantu orang tua merancang perjalanan belajar yang lebih bermakna, personal, dan selaras dengan nilai keberagaman. Ia menggabungkan ilmu NLP, Time Line Therapy™️, Hipnosis, Psikologi Positif, Psikologi Energi, Kinesiologi, dan Emotional Freedom Technique (EFT) dalam pendekatan pendidikan holistik yang ia bangun. Lewat Axellent Method, pendekatan khas Frida yang santai namun transformatif, ia memberi ruang bagi keluarga untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan menumbuhkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan penuh empati. Frida juga seorang Firewalk Trainer tersertifikasi dan anggota Aceh Australian Alumni. Misinya adalah menghidupkan pendidikan masa depan yang berpijak pada kekuatan keluarga, kemerdekaan belajar, dan keberagaman nilai abad 21. Ayo, connect dengan Frida di Instagram: @Frida.Pigny Frida Pigny is a certified home educator, energy psychology practitioner, and founder of SuperSchooling, a movement that helps families design personalized, diversity-aligned learning experiences. Combining neuroscience, EFT, NLP, kinesiology, and positive psychology, Frida empowers parents to raise confident, creative children beyond the limits of traditional schooling. Through her Superschooling platform and signature Axellent Method, a relaxed yet powerfully transformative learning approach, she guides families to break free from rigid systems and nurture emotionally resilient, empathetic, and curious young learners. Frida is also a certified Firewalk Trainer and a proud member of the Aceh Australian Alumni network. Her mission is to reimagine future education by rooting it in family strength, freedom, and cultural integrity.

Next Post
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam? - a30c0439 4561 4299 b054 2a43aec3bded | #Korban Bencana | Potret Online

Belajar Empati di Tengah  Krisis Ekologis

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com