Sabtu, Mei 2, 2026

Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri

Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri - 193b78f5 b0c2 4c81 8fd9 008c2224ecfa | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri

Oleh : Ririe Aiko

Awal tahun 2026 datang tanpa ritual lama.
Kali ini, saya tidak lagi menuliskan harapan di secarik kertas. Tidak ada daftar target, tidak ada barisan resolusi yang dulu saya susun rapi sebagai penanda ambisi dan pencapaian hidup. Padahal, selama bertahun-tahun, menulis harapan adalah kebiasaan yang nyaris sakral, cara halus sekaligus keras untuk memaksa diri bergerak lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih cepat.

Namun, ritual itu berhenti di awal 2026.

Bukan karena saya kehabisan mimpi. Bukan pula karena hidup kehilangan arah. Tidak ada peristiwa besar yang menjadi pemicunya. Perubahan ini lahir dari refleksi yang sunyi. Saya mulai menyadari bahwa target besar yang terus dikejar tanpa ruang bernapas, perlahan menjelma ambisi yang menekan, bukan lagi penunjuk jalan.

Harapan yang terlalu tinggi, ketika tak terpenuhi, rasanya seperti terlempar dari gedung tinggi. Jatuhnya bukan sekali atau dua kali, melainkan berulang. Di antara harapan dan pencapaian, terbentang jarak yang semakin terasa mustahil dijangkau. Di sanalah saya memilih berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengubah cara memandang hidup.

Saya masih memiliki mimpi. Saya tetap menyimpan target. Tetapi kali ini, saya menempuh jalan yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan pencapaian besar sebagai satu-satunya tolak ukur nilai diri. Saya mulai belajar menghargai proses, sekecil apa pun langkahnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Sebab tidak semua nilai harus dibuktikan lewat piala, jabatan, atau deretan angka.

Disadari atau tidak, kita sering terlalu keras pada diri sendiri. Kita menekan diri dengan perbandingan yang melelahkan, dengan pertanyaan yang terus berulang: “Mengapa setiap tahun berlalu, aku masih berada di posisi yang sama?”
Pertanyaan itu membuat kita merasa gagal, hanya karena standar yang kita tetapkan terlalu tinggi dan kerap menyiksa diri.

Padahal dunia tidak selalu bekerja sesuai rencana. Kadang kita harus menerima kegagalan. Kadang pula menyadari bahwa kebahagiaan hanyalah jeda singkat di antara masalah berikutnya. Hidup memang tidak selalu adil, dan tidak semua kerja keras berbuah sesuai harapan. Menerima kenyataan itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk kedewasaan.

Ketika sampai pada pemahaman tersebut, kita akan belajar satu hal penting: mencintai diri sendiri adalah syarat utama untuk bisa tetap bertahan dan bahagia.

Mulailah dari yang paling sederhana. Rayakan bahwa sepanjang 2025 kita diberi kesehatan. Rayakan bahwa kita masih bisa menyisihkan uang untuk menikmati jajanan enak, meski dengan gaji yang sangat terbatas. Rayakan obrolan dan tawa receh bersama teman-teman, meski hanya bisa kumpul di warung pecel lele pinggir jalan. Rayakan upaya kita menerapkan pola hidup sehat, meski nyatanya timbangan belum juga bersahabat. Rayakan hal-hal kecil sebagai penghargaan atas upaya yang sering luput kita akui.

Rayakan juga semua hal kecil yang membuat kita tetap berdiri kuat hingga hari ini.

Jika kita tidak meraih hal besar di tahun lalu, bukan berarti kita adalah pecundang. Kita tetap hebat, bahkan sangat hebat, karena mampu bertahan tanpa panggung, tanpa sorotan, dan tanpa tepuk tangan. Kita adalah mereka yang tetap hidup meski babak belur.

Maka, rayakan awal 2026 dengan penuh rasa syukur dan bahagia, meski nyatanya tahun lalu tak membawa pencapaian apa-apa. Karena penghargaan tidak selalu berbentuk piala. Kadang, cukup dengan mengakui bahwa diri kita berharga, hidup sudah menjadi jauh lebih bermakna.

POTRET Gallery Banda Aceh

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist