Selasa, April 21, 2026

Garis Waktu yang Hilang

Oleh Redaksi
02 Oktober 2025
2 menit baca
Garis Waktu yang Hilang - 37e31b97 18ef 403d bfa4 fcf831710fc8 | Cerpen | Potret Online
Garis Waktu yang Hilang

Oleh: Kayyisa Elma Mazea

Siswa Kelas 9 SMPN 3 Banda Aceh

Pagi yang cerah, matahari menyirami bumi dengan sinarnya yang lembut dan penuh kasih. Burung-burung memainkan orkestra selamat pagi yang tenang. Aethelburg, kota yang penuh dengan kemajuan teknologi. 

Jika dilihat sekilas, seperti tidak ada satupun bangunan bersejarah ataupun kuno. Tapi jika dilihat lebih teliti lagi,nyatanya di sudut selatan kota tersebut masih terdapat satu perpustakaan yang terlihat kuno dan tua. 

Tidak ada satu manusia pun yang ingin pergi ke sana.

Tapi dia berbeda. Arka, satu dari banyaknya insan di kota itu yang sering menghabiskan waktunya di tempat itu, pustakaillium. 

Tempat yang Arka gunakan untuk menghabiskan banyak waktunya di situ. Membaca buku, larut dalam dunia khayalannya, mengenang masa yang telah berlalu dan masih banyak lagi. 

Tidak ada yang begitu menarik, tapi hari itu berbeda.

Arka menemukan sebuah buku tanpa judul. Halamannya berdebu, namun di dalamnya tertulis sesuatu yang aneh, “Untuk menemukan garis waktu yang hilang, ikuti langkah-langkah dengan hati yang tenang.”

Arka, yang sejak lama mencari jawaban atas kehilangan ayahnya dalam sebuah kecelakaan misterius, merasa buku itu seolah berbicara langsung kepadanya. 

Dengan ragu namun penuh harapan, ia membaca bagian yang terdapat sebuah panduan sederhana, namun memiliki makna yang mendalam.

Duduklah dalam keheningan dan pejamkan mata. Tarik napas perlahan, lalu rasakan setiap detaknya sebagai denyut waktu. Jangan takut pada bayangan masa lalu, karena setiap luka adalah pintu menuju cahaya. Setelah itu, bukalah kembali matamu dengan hati yang siap menerima jawaban.

Arka mengikuti petunjuk itu. 

Dalam keheningan, ia melihat potongan-potongan masa lalu. Senyum ayahnya, percakapan singkat di beranda rumah, dan janji yang tak sempat ditepati. Air mata mengalir, namun kali ini bukan sekadar kesedihan, melainkan pemahaman.

Ia menyadari, garis Waktu yang hilang bukanlah sesuatu yang bisa dikembalikan, melainkan dipahami. Kehilangan ayahnya bukan akhir, tetapi jejak yang membentuk siapa dirinya hari ini.

Saat Arka membuka matanya, buku itu lenyap. Yang tersisa hanyalah rasa damai dan bisikan lembut di hatinya, “Waktu tak pernah hilang, ia hanya berubah menjadi kenangan yang abadi.”

Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist