Selasa, April 21, 2026

Sumbangan Rakyat Aceh untuk Pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta

Sumbangan Rakyat Aceh untuk Pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta - 2025 06 25 07 26 48 | #Sumbangan Aceh | Potret Online
Ilustrasi: Sumbangan Rakyat Aceh untuk Pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Rakyat Aceh memiliki sejarah yang panjang dan kontribusi yang signifikan dalam perjuangan serta pembangunan Indonesia, termasuk dalam pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta. Keikutsertaan Aceh dalam pembangunan masjid megah ini adalah bukti dari semangat kebersamaan dan persatuan bangsa.


Meskipun seringkali tidak secara spesifik disebutkan jumlah nominal atau bentuk sumbangan secara rinci dalam catatan sejarah publik, yang jelas adalah dana pembangunan Masjid Istiqlal sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia dari seluruh penjuru negeri. Aceh, sebagai salah satu provinsi dengan mayoritas penduduk Muslim dan sejarah Islam yang kuat, tentu turut serta dalam gerakan penggalangan dana nasional ini.


Peran Aceh dalam sejarah Indonesia tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik, tetapi juga dalam mendukung kemerdekaan dan menjaga keutuhan Republik Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, rakyat Aceh dikenal sangat mendukung perjuangan nasional, termasuk dengan menyumbangkan pesawat terbang untuk perjuangan kemerdekaan.

Semangat “patungan” untuk kepentingan bangsa ini juga meluas hingga pembangunan Masjid Istiqlal yang menjadi kebanggaan bersama. Masjid Istiqlal sendiri dibangun sebagai simbol kemerdekaan Indonesia dan wujud rasa syukur atas rahmat Tuhan. Ide pembangunannya dicetuskan oleh Presiden Soekarno dan dirancang oleh Frederich Silaban. Pembangunannya memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan partisipasi seluruh rakyat Indonesia.


Bisa dipastikan bahwa rakyat Aceh merupakan bagian integral dari sumbangan kolektif bangsa Indonesia dalam mewujudkan Masjid Istiqlal yang kita kenal sekarang. Ini adalah cerminan dari semangat gotong royong dan keikhlasan rakyat Indonesia, termasuk Aceh, dalam membangun fasilitas keagamaan dan simbol persatuan bangsa.


Pembangunan Masjid Istiqlal dimulai dengan peletakan batu pertama pada 24 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno. Proses pembangunan ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 17 tahun, dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.


Sumbangan dari rakyat Indonesia, termasuk Aceh, untuk pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan selama periode pembangunan tersebut, terutama sejak awal inisiasi dan peletakan batu pertama pada tahun 1961 hingga peresmiannya di tahun 1978. Meskipun ada kendala politik dan ekonomi yang sempat memperlambat pembangunan, penggalangan dana dari masyarakat tetap menjadi bagian penting dari pembiayaan masjid ini.


Ada berita dari kantor berita Antara yang menyebutkan tentang sumbangan emas dari rakyat Aceh untuk pembangunan Masjid Istiqlal. Berita yang saya maksud adalah artikel berjudul “Masjid Istiqlal Dibangun, Rakyat Aceh Sumbang 1,5 Kg Emas Murni” yang diterbitkan oleh Komparatif.ID, sebuah portal berita yang mengutip dari arsip berita atau laporan lama, termasuk yang mungkin berasal dari Antara.


Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa Sumbangan Emas 1,5 Kg dari Rakyat Aceh untuk Masjid Istiqlal. Pada tahun 1961, ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Kotaraja, dikabarkan bahwa rakyat Aceh secara kolektif spontan menyumbangkan 1,5 kilogram emas murni kepada Masjid Istiqlal.


Sumbangan ini menunjukkan komitmen dan dukungan kuat rakyat Aceh terhadap pembangunan masjid kebanggaan bangsa tersebut. Selain sumbangan kolektif ini, artikel tersebut juga menyebutkan bahwa ada sumbangan lain dari berbagai pihak, termasuk perusahaan dan perkumpulan pegawai, seperti PT Murida dari Langsa yang menyumbangkan Rp 500.000. Duit sebanyak itu sangat bernilai ketika itu.


Ini melengkapi informasi sebelumnya bahwa pembangunan Masjid Istiqlal memang didukung oleh berbagai pihak di seluruh Indonesia, baik dalam bentuk uang tunai maupun material, sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan dan persatuan bangsa.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist