Selasa, April 21, 2026

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5
Ilustrasi: Misogini Genital (Di) Kartini Digital

Oleh Reiner Emyot Ointoe

“Perempuan didefinisikan sebagai kekurangan, sebagai defisiensi, sebagai bukan laki-laki, dan jenis kelaminnya direduksi menjadi satu organ tunggal, yaitu vagina, yang hanya dilihat dalam kaitannya dengan falus.” — Luce Irigaray(95), The Other Voice(1993).

Kartini, feminisme mutakhir, tubuh perempuan, dan keterbatasan tradisi adalah simpul sejarah yang terus membalut pesona perempuan, baik di ruang privat maupun publik.

Tak berhenti di situ. Ada juga misogini genital dari kerangka dan algoritme digital.

Berikut, sedikit refleksi historis Surat-surat Kartini yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang untuk memperlihatkan bagaimana pergulatan batin seorang perempuan Jawa yang berusaha menembus dinding hukum adat dan tradisi kolonial di tengah kolonialisme yang ketat dan keras.

Kartini menekankan pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir bagi perempuan agar mereka tidak sekadar menjadi objek dalam struktur patriarki.

Namun cita-cita itu kandas oleh realitas sosial: pernikahan, adat, dan hukum kolonial yang mengekang ruang gerak perempuan.

Ia menyadari bahwa tubuh dan pikiran perempuan dikonstruksi sebagai milik keluarga dan masyarakat, bukan milik dirinya sendiri.

Tinggalkan Kartini di tahun awal abad-20(1900) bersama segala pernak-pernik keraton dan tradisi perempuan di dalamnya.

Sejarah tumbuh, berganti dan berevolusi.

Mari tengok, perempuan alumni Yale University(BA), New College Oxford(DPhil), kelak berkiprah penulis, jurnalis, konsultan politik

Ia juga terkenal dengan karya-karyanya: The Beauty Myth(1991), Fire with Fire (1993), Misconceptions(2001), dan The End of America (2007).

Namun, dalam Vagina: A New Biography(2012), Wolf menyoroti tubuh perempuan sebagai pusat identitas, kreativitas, dan kesadaran.

Ia mengkritik bagaimana vagina direduksi menjadi objek kontrol, padahal secara historis pernah dianggap sakral.

Perspektif Wolf memperluas gagasan Kartini: jika Kartini menekankan pendidikan sebagai jalan emansipasi, Wolf menambahkan bahwa tubuh perempuan sendiri harus direbut kembali sebagai sumber kekuatan.

Emansipasi tidak lengkap tanpa pengakuan atas tubuh sebagai ruang otonomi.

Dengan demikian, perjuangan Kartini dapat dibaca ulang sebagai fondasi yang kini diperluas oleh feminisme kontemporer ke ranah seksualitas.

Selain itu, Simone de Beauvoir dalam The Second Sex(1949) menegaskan bahwa perempuan secara historis diposisikan sebagai “yang lain” dalam relasi sosial.

Tubuh perempuan dipandang hanya sebagai organ reproduksi, bukan subjek otonom.

Kritik Beauvoir relevan dengan pengalaman Kartini: ia melihat perempuan Jawa dikurung dalam peran domestik, dikorbankan demi keluarga, dan ditolak kesempatan untuk menjadi individu bebas.

Dengan pendekatan eksistensialis, Beauvoir menekankan bahwa perempuan harus “menjadi” melalui pilihan dan tindakan.

Kartini, dalam surat-suratnya, sebenarnya sudah mengartikulasikan keresahan serupa: perempuan harus diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya, bukan sekadar menerima peran yang diwariskan.

Sementara itu, Fatima Mernissi, intelektual feminis asal Maroko yang lahir pada 27 September 1940 di Fez dan wafat pada 30 November 2015 di Rabat, dikenal luas melalui karyanya Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry yang pertama kali terbit pada 1991.

Buku ini menjadi salah satu tonggak penting dalam feminisme Islam karena berani mengkritik tradisi keagamaan yang melanggengkan misogini.

Istilah misogini sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu misos yang berarti kebencian dan gyne yang berarti perempuan.

Secara etimologis, misogini berarti kebencian terhadap perempuan, dan dalam perkembangan modern istilah ini digunakan untuk merujuk pada sikap, pandangan, atau sistem sosial yang merendahkan, menolak, atau menindas perempuan, baik secara eksplisit maupun implisit.

Misogini dapat hadir dalam bentuk stereotip, diskriminasi, hingga legitimasi kekuasaan yang menempatkan perempuan sebagai subordinat.

Dalam Women and Islam, Mernissi menyoroti bagaimana teks-teks klasik Islam sering ditafsirkan secara patriarkal sehingga melanggengkan misogini.

Ia mengkritik penggunaan hadis-hadis tertentu yang dijadikan dasar untuk membatasi peran perempuan di ruang publik.

Baginya, misogini bukanlah bagian asli dari wahyu Islam, melainkan hasil konstruksi politik dan sosial yang menempatkan perempuan sebagai ancaman terhadap stabilitas laki-laki.

Dengan analisis historis dan teologis, Mernissi menunjukkan bahwa banyak tafsir keagamaan yang menyingkirkan perempuan dari ruang publik sebenarnya lahir dari konteks politik tertentu, bukan dari ajaran Islam yang murni.

Ia menekankan bahwa sejarah Islam juga mengenal tokoh perempuan berpengaruh, seperti Sukayna binti al-Husayn atau Sultana Radiyya, yang menantang dominasi laki-laki dan membuktikan bahwa perempuan memiliki ruang untuk berperan aktif dalam masyarakat.

Ulasan berupaya kritis dari Mernissi mau menandaskan bahwa misogini dalam Islam adalah hasil tafsir patriarkal yang bisa dan harus dikritisi.

Tema utama karyanya adalah dekonstruksi tafsir misoginis dalam tradisi Islam, pembelaan terhadap hak perempuan, serta penekanan bahwa Islam awal memberi ruang lebih luas bagi perempuan dibanding tafsir patriarkal yang muncul kemudian.

Dengan demikian, ia mengungkap bahwa misogini bukanlah takdir atau bagian esensial dari Islam, melainkan konstruksi sosial-politik yang dapat diubah.

Etimologi yang menandakan kebencian terhadap perempuan menjadi pijakan bagi Mernissi untuk melancarkan kritik tajam terhadap cara tafsir keagamaan digunakan untuk mengekang perempuan.

Karya ini tetap relevan hingga kini sebagai rujukan penting dalam studi feminisme Islam dan perjuangan kesetaraan gender, sekaligus membuka ruang refleksi bahwa tafsir agama tidak pernah netral, melainkan selalu terkait dengan relasi kuasa yang bisa ditantang dan diubah.

Terakhir, Michel Foucault(1926-1981) dalam Sejarah Seksualitas(1997) menolak hipotesis represif dan menunjukkan bahwa seksualitas justru menjadi pusat produksi wacana.

Tubuh perempuan dijadikan objek pengetahuan medis, moral, dan demografis, sehingga menjadi titik pusat biokekuasaan.

Perspektif ini memperkaya pembacaan atas Kartini: perjuangannya kandas bukan hanya karena tradisi, tetapi karena tubuh perempuan telah dijadikan arena kontrol sosial oleh negara, agama, dan adat.

Kartini menulis tentang keterbatasan perempuan dalam memilih, dan Foucault membantu kita memahami bahwa keterbatasan itu bukan sekadar represi, melainkan bagian dari strategi kekuasaan yang mengatur populasi.

Dengan menggabungkan perspektif Kartini, Wolf, Beauvoir, dan Foucault, perjuangan emansipasi perempuan dapat dibaca sebagai kritik feminis yang lebih luas.

Kartini membuka pintu bagi gagasan bahwa perempuan harus bebas, sementara feminisme mutakhir menegaskan bahwa kebebasan itu mencakup tubuh, seksualitas, dan konstruksi sosial yang membentuk perempuan.

Emansipasi perempuan Indonesia, jika hanya berhenti pada pendidikan, akan tetap timpang tanpa pengakuan atas tubuh sebagai sumber kekuatan dan tanpa dekonstruksi atas wacana kekuasaan yang mengikat mereka.

coversongs:

Michael Bolton(73), versi terkenal lagunya. When a Man Loves a Woman dirilis pada 19 April 1991, sebagai bagian dari albumnya Time, Love & Tenderness.

Versi Michael Bolton dari lagu When a Man Loves a Woman sukses secara komersial, menduduki puncak tangga lagu Billboard Hot 100 dan membuatnya meraih Penghargaan Grammy untuk Penampilan Vokal Pria Pop Terbaik.

credit foto dari Youtube @tehbotolsosroID

SubscribeSELAMAT HARI KARTINI #TehbotolSosro;
@PhilosophicalFlix Subscribe The Most Beautiful Quotes of Simone de Beauvoir; Naomi Wolf interview(1997) @ManufacturingIntellect dan PHILOSOPHY – Michel Foucault
The School of Life.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Reiner Emyot Ointoe
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist