• Latest
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel - 2025 05 08 06 17 33 | # Ironi | Potret Online

Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel

Mei 8, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel - 1001348646_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel - 1001353319_11zon | # Ironi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel - 1001361361_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel

Redaksi by Redaksi
Mei 8, 2025
in # Ironi, Perempuan, Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel - 2025 05 08 06 17 33 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Mila Muzakkar

Suatu malam, lamunanku melayang ke masa kelas lima SD, di kampungku dulu. Pagi itu, dengan wajah kaget, tetanggaku menghampiri memberitahu bahwa ada darah di rok putih yang aku pakai. Seketika aku kaget dan takut. Aku baru saja kelas lima, tapi sudah mengalami menstruasi.

Di kampungku, menstruasi masih dianggap tabu, yang mengalaminya dianggap sudah mulai “besar” atau remaja. Jika yang mengalaminya adalah anak kecil, apalagi masih SD, itu di luar kewajaran, katanya. Mereka akan dianggap “centil, kegatelan, dan aneh”. Itulah yang aku alami, juga dialami banyak perempuan di berbagai belahan dunia.

Baca Juga
  • HABA Si PATok
  • Edukasi Anti Penipuan Online Pada Ibu Rumah Tangga 

Masih di masa SD di kampungku, tiga orang adik kelasku, tak lagi muncul ke sekolah karena dipaksa menikah oleh orangtuanya. Beberapa tahun kemudian, kudengar kabar duka, anak-anak yang dinikahkan itu mengalami KDRT, ada yang bercerai, ada pula yang meninggal saat melahirkan. Ternyata, bukan hanya teman-temanku yang mengalami, tapi juga anak anak lain, di berbagai belahan dunia.

Tahun 2017-2019, hampir tiga kali seminggu, aku mendampingi perempuan deportan yang diduga terafiliasi dengan jaringan teroris Islamic State of Iraq & Suriah (ISIS). Pada mereka, aku mendengar banyak cerita menyayat hati. Misalnya, beberapa di antara mereka tak tahu bahwa suaminya adalah teroris, atau sebagian mengaku terpaksa ikut dalam jaringan teroris sebagai bentuk kepatuhannya pada suami. Ada juga yang merasa tertipu karena dinikahkan oleh jaringan teroris secara online dengan laki-laki, yang ternyata telah memiliki beberapa istri.

Baca Juga
  • BENGKEL OPINI RAKyat
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Di Tiktok, seorang driver ojek online (ojol) perempuan curhat, sejak menjadi single parent dan menjadi driver ojol, hidupnya semakin sulit karena sering ditolak (dicancel), hanya karena ia perempuan. Sementara mereka adalah pencari nafkah utama yang harus membiayai anak, bahkan keluarga besarnya. Bukan lima orang, tapi puluhan perempuan mengaku mengalami hal yang sama.

Empat fakta di atas hanya secuil dari tumpukan penderitaan yang dialami perempuan di berbagai dunia, dari pelosok desa hingga di keramaian kota besar.

Baca Juga
  • LINDUNGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DI ACEH
  • Kartini Bangkit Lagi, Tapi Kini Ia Sibuk di Instagram

Kumpulan Puisi Esai dalam buku ini mengangkat enam belas kisah dramatis dan tragis yang dialami perempuan, yang masih jarang atau masih tabu dibicarakan di ruang publik. Sebagian aku tulis dalam bentuk Puisi Esai umum, sebagian lainnya ditulis menggunakan bantuan Artificial Intelegence (AI). Ilustrasi dalam buku ini juga aku buat menggunakan AI.

Secara berkala, hampir tiap hari, keenam belas Puisi Esai itu telah aku sebarluaskan di berbagai grup Whatsapp dan sudah dimuat di berbagai flatform media online.

Beberapa puisi aku tuliskan di rumah sakit, ketika sedang mendampingi suami terbaring sakit. Meski tak mudah, namun semua terbayar kepuasan dan kebahagiaan, karena ternyata Puisi Esai yang kusebarkan ini menuai banyak respons positif.

Beberapa mengaku terharu sampai menangis membaca Puisi Esai yang aku bagikan. sebagian menjapri mengucapkan terima kasih karena aku telah menuliskan kisah-kisah perempuan dalam alunan satra yang indah. Bahkan, ada yang mengirim pesan pribadi meminta nomor telepon dari salah satu tokoh yang kuceritakan dalam Puisi Esai itu. “Mbak, boleh minta nomor Bu Sutinah, perempuan driver ojol seperti dalam tulisan Mbak Mila? Ada teman yang mau berbagi sedikit rejeki ke Bu Sutinah,” katanya.

Dari situ, aku meyakini dan bersaksi, kisah-kisah nyata perempuan yang ditulis dalam balutan fakta dan imajinasi puitis, yang bernama Puisi Esai, menjadi penting dan darurat dilakukan. Perpaduan fakta dan balutan fiksi dalam Puisi Esai nyatanya lebih menyentuh hati dan empati, bahkan menggerakkan pembaca mengambil aksi nyata untuk membantu sesama perempuan korban budaya patriaki.

Puisi Esai menjadi cara baru yang lebih asyik dalam menyuarakan kisah-kisah kemanusiaan, seperti isu perempuan, dalam sajian yang lebih indah, mudah dipahami, menyentuh hati, dan mengandung call to action bagi pembaca.

Semoga Buku Puisi Esai ini menjadi saksi abadi bahwa dunia akan lebih indah jika semua manusia hidup kolaboratif dan harmonis.

Salam

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel - 2025 05 08 06 32 28 | # Ironi | Potret Online

Mediasi Deadlock, Jokowi Siap Hadir di Pengadilan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com