Oposisi Itu Terhormat

Seperti yang dikatakan Nurcholish Madjid, oposisi seharusnya menjadi bagian terhormat dalam demokrasi. Oposisi bukan sekadar lawan, tetapi juga mitra yang membantu menjaga keseimbangan politik. Dalam sistem yang sehat, kritik bukanlah ancaman, melainkan bagian dari proses untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap berada dalam kendali rakyat.
Namun, melihat kondisi politik saat ini, harapan itu terasa seperti utopia. Partai-partai lebih tertarik menjaga pundi-pundi mereka daripada mengawal kepentingan publik. Oposisi menjadi barang langka, kritik semakin lirih, dan demokrasi semakin kehilangan ruhnya. Kita sedang menyaksikan demokrasi yang berjalan dengan satu mata tertutup—dan jika kita tidak berhati-hati, bisa jadi kita akan terbangun di pagi hari menemukan bahwa demokrasi yang kita kenal telah berubah menjadi hantu tanpa nyawa.
Satu hal yang juga memprihatinkan adalah dua ormas terbesar, NU dan Muhammadiyah, yang seharusnya menjadi pengawal demokrasi, kini juga menjadi bagian dari pemerintahan, dengan banyak kader mereka masuk dalam struktur kekuasaan. Tak hanya itu, mereka juga menerima izin konsesi tambang yang kontroversial, yang tentu membuat kedua ormas ini sulit berperan sebagai penjaga demokrasi. Seharusnya kedua ormas ini tetap berada di luar pemerintahan agar bisa menjalankan fungsi kritik dan kontrol secara lebih bebas. Dengan situasi seperti ini, oposisi dan sikap kritis akan semakin melemah, demokrasi kehilangan penyeimbangnya, dan rakyat tak lagi memiliki suara yang mampu menekan pemerintah agar tetap berpihak pada kepentingan umum.
Pondok Cabe Udik 3 Maret 2025
Elza Peldi Taher




















