Minggu, April 19, 2026

Kenapa Tidak Berempati pada Gaza?

Kenapa Tidak Berempati pada Gaza? - 037b4033 e12b 44d7 bd84 a41b88f88645 | Amerika | Potret Online
Ilustrasi: Kenapa Tidak Berempati pada Gaza?

 

Oleh Rosadi Jamani

Tiga hari lalu saya menulis tentang kebakaran hebat di Los Angeles, Amerika Serikat. Di dalam tulisan itu ada narasi begini, “Saya tahu banyak tidak senang dengan Amerika Serikat. Tak ada salahnya, kita sedikit berempati pada korban kebakaran.” Narasi ini banyak tak terima. Komentar membanjiri akun saya. “Kenapa kamu tidak berempati pada Gaza. Mana buktinya kamu berempati pada Gaza.” Banyak sekali ungkapan itu ditujukan pada saya.

Sambil bersiap pulang ke Pontianak setelah empat hari di Sambas, yok kita bahas lagi soal empati. Kopi jangan lupa, wak!

Di dunia yang katanya beradab ini, manusia sering lupa caranya menjadi manusia. Mereka berdiri di atas reruntuhan empati, menikmati puing-puing tragedi yang mereka sebut keadilan.

Gaza. Sebuah tanah yang lebih sering jadi kuburan massal dari tempat tinggal. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 46.006 nyawa terenggut. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada bayi yang belum sempat merasakan pelukan ibunya, ada ibu yang menggenggam tangan anaknya yang telah dingin, ada lelaki tua yang menggali makam dengan tangannya sendiri karena tak ada lagi yang tersisa.

Tapi empati itu mahal. Lebih mudah tertawa melihat Los Angeles terbakar. Bila perlu seluruh Amerika terbakar. Menyebutnya karma. Menganggapnya balasan. Seolah api yang melahap rumah-rumah itu bisa membakar dosa-dosa Amerika, seolah teriakan mereka di sana menjadi hiburan pengalihan dari tangisan Gaza.

“Kenapa tidak berempati pada Gaza?” Pertanyaan itu dilemparkan dengan nada getir, diiringi tatapan menuduh. Seolah empati adalah sumber daya yang terbatas, hanya bisa dicurahkan ke satu arah. Jika kau berduka untuk Los Angeles, maka kau pengkhianat Gaza. Jika kau menangisi Gaza, maka kau tak boleh peduli pada kota lain yang terbakar.

Apa empati harus diperebutkan? Apa belas kasih harus dihitung seperti uang receh yang habis sebelum sampai akhir bulan?

Gaza, Los Angeles. Jarak mereka ribuan kilometer, tapi deritanya sama, hilangnya nyawa, hancurnya harapan, langit yang berubah menjadi abu. Bedanya hanya pada siapa yang menonton dan siapa yang diam.

Mereka bilang manusia itu makhluk mulia. Tapi, bukankah kita sering kali lebih seperti binatang? Tertawa melihat penderitaan. Merayakan bencana karena dendam. “Biar saja terbakar,” kata mereka. “Itu balasan.” “Saya lebih berempati pada hewan yang terbakar, bukan manusia.” “Saya kok malah senang.” Ungkapan senang, happy melihat LA terbakar begitu ramai dan massif.

Ah, kalau begitu, mari kita hentikan sandiwara ini. Tak perlu lagi bicara tentang kemanusiaan. Kemanusiaan sudah lama mati, terkubur di bawah reruntuhan Gaza, hangus di dalam api Los Angeles.

Diamlah, kalian yang berteriak tentang empati sambil menonton kebakaran dengan camilan di tangan. Jangan pura-pura peduli, kalian yang memilih tragedi mana yang layak dikasihani.

Gaza menangis, Los Angeles juga. Tapi manusia, mereka hanya melihat. Dengan mata yang kosong. Dengan hati yang sudah lama membeku.

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ketua Satupena Kalbar

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist