Artikel · Potret Online

“ Awas POTRET” Jangan (hanya) Dibaca

Penulis  Tabrani Yunis
Oktober 17, 2016
4 menit baca 297
1001475704_11zon
Foto / Ilustrasi“ Awas POTRET” Jangan (hanya) Dibaca
POTRET
Oleh Tabrani Yunis

“Awas POTRET, jangan (hanya) dibaca.” Itulah tulisan yang tertera di bagian belakang mobil atau armada majalah POTRET yang sering lalu-lalang di jalan raya. Banyak mata tertuju pada tulisan itu. Banyak pula yang bertanya, apa maksudnya? Mengapa tidak boleh dibaca? Padahal, setiap orang yang melihatnya pasti membaca tulisan tersebut.

Maka, dapat dipastikan ungkapan itu melekat di benak banyak orang dan membuat mereka ingin tahu, sembari bertanya-tanya sendiri. Wajar saja jika banyak orang mengingat POTRET karena kalimat “Awas POTRET, jangan (hanya) dibaca” tersebut. Selain itu, POTRET memang satu-satunya majalah perempuan yang terbit di Aceh dan beredar hingga nasional.

Kami sangat bersyukur karena banyak orang mengingat majalah POTRET yang, alhamdulillah, pada tanggal 11 Januari 2016 berulang tahun ke-13 dan kini memasuki tahun ke-14. Ibarat seorang anak manusia, usia 13 menuju 14 tahun adalah masa menuju balig. Untuk ukuran manusia, tentu masih di bawah umur dan belum dewasa. Namun, bagi sebuah media, usia ini tergolong panjang.

Fakta membuktikan bahwa, terutama di Aceh, banyak majalah hanya terbit beberapa kali lalu berhenti. Sementara itu, POTRET hingga hari ini masih hadir dan menginspirasi pembaca.

Alhamdulillah, majalah POTRET tidak demikian. Berkat komitmen, ketekunan, konsistensi, dan semangat kerja keras, majalah ini genap 13 tahun dan melaju ke tahun ke-14. Pada usia ini, semua pihak yang terlibat sejak awal hingga kini perlu melakukan kontemplasi, refleksi, evaluasi, serta menatap masa depan eksistensi POTRET.

Pada masa lalu, ketika media cetak masih menjadi andalan, mungkin kami merasa bahwa POTRET sangat penting sebagai media alternatif—media yang memotivasi, mengajak, dan menyediakan ruang ekspresi bagi perempuan, pelajar, guru, dan masyarakat umum.

Sejak awal, melalui Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, POTRET berupaya memberdayakan dan mencerdaskan perempuan melalui pelatihan serta publikasi karya tulis. Namun, di era digital ini, muncul pertanyaan: apakah POTRET masih dibutuhkan?

Kehadiran POTRET dilandasi oleh mimpi besar, yaitu membangun gerakan menulis di kalangan perempuan, dari Aceh hingga seluruh nusantara. Mimpi ini tentu tidak mudah. Tanpa kapasitas, potensi, dan dukungan, sulit membangun budaya menulis.

Namun, berkat kepedulian, kemauan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, serta komitmen yang konsisten, langkah-langkah menuju mimpi itu telah terwujud, meskipun belum sepenuhnya sesuai harapan. Yang terpenting, upaya nyata telah dilakukan dan kontribusi, sekecil apa pun, tetap bermakna.

Sebagai media di daerah dengan budaya baca yang masih rendah, banyak hambatan yang dihadapi. Di antaranya adalah keterbatasan dalam menampilkan majalah secara elegan, rendahnya minat baca, daya beli masyarakat, serta minimnya perhatian dari pihak berwenang. Banyak media di Aceh yang berhenti terbit karena berbagai alasan.

Namun, POTRET tetap bertahan, belajar, dan berkembang meski dalam keterbatasan. Dari awalnya berfokus pada perempuan akar rumput di enam kabupaten di Aceh, kini POTRET berkembang menjadi media edukasi, kreativitas, dan inovasi bagi pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat luas, bahkan hingga mancanegara.

Memasuki usia ke-13, POTRET perlu menjadikan momentum ini sebagai sarana introspeksi: apakah masih layak untuk terus terbit atau harus berhenti? Tantangan di era digital sangat besar dan telah memengaruhi keberlangsungan media cetak.

Dari sisi finansial, POTRET memang belum memberikan keuntungan karena tidak berorientasi bisnis murni. Minimnya dukungan iklan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, karena idealisme dan cita-cita membangun budaya menulis, POTRET akan terus diupayakan terbit. Tidak ada niat untuk berhenti, kecuali jika masyarakat benar-benar tidak lagi membutuhkan literasi.

“Cogito ergo sum”—aku berpikir, maka aku ada—seperti yang dikemukakan oleh filsuf Prancis, René Descartes, menjadi inspirasi bagi kami untuk terus berkarya. POTRET tidak hanya mengajak orang untuk menulis, tetapi juga menyediakan ruang nyata untuk berkreasi, baik melalui media cetak maupun digital di www.potretonline.com.

Kami juga berusaha memberikan apresiasi kepada para kontributor atas karya mereka. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung.

Doakan agar POTRET tetap menjadi teman setia di tahun-tahun mendatang. Ingat POTRET, ingat “Awas POTRET, jangan (hanya) dibaca.”

Dirgahayu POTRET. Dirgahayu untuk kita semua.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...