
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Janganlah Engkau Marah: Wasiat Cahaya dari Rasul” Oleh Juni Ahyar Marah itu bara, api tanpa rupa,Menyulut lidah, membakar jiwa.Setan meniupkan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Nyakman Lamjame Dunia menakar wajah yang gemerlap,Bukan luka yang lirih dalam diam menjerat.Percaya pada gaun dan gema,Meninggalkan sunyi yang...
Baca SelengkapnyaDetailsBUNGA HARIM DAN KENANGAN Aku pernah melambai asa bersamamuAda percikan bunga itu yang kini layuAku tak mempermasalahkan hal ituToh juga...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Luhur Susilo, SMPN 1 Sambong – Satupena Blora Di Jumat Legi yang berseri cahaya pagi, 595 jiwa berdiri, menjawab...
Baca SelengkapnyaDetailsCerita Bediding Akhir JuliAngin bediding menyusupiTulang senjakumembuka lembar bukuPada jendela tuaSekolah yang ramahMenyapa lembut pada batin wajah kanakku, adalah segaris...
Baca SelengkapnyaDetailsDelapan Puluh Tahun Menanak Angin Karya Ilhamdi Sulaiman. Kami menanak angin bukan karena ingin tapi karena nasi...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Muslimin Lamongan perawan desa mengukir alis rembulan gerhanamenabur bedak setebal tepian telagalurus rambut kerudung semerbak belalak godalensa mata nyala...
Baca SelengkapnyaDetailsJah; (tentangmu) Jah,Tentangmu apa yang belum kupuisikanMalam-malam yang murungHari-hari yang pucatKata-kata yang menggelepar meregang nyawaAtau puisi kusam di rongga dadaSemua...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi: Muslimin Lamongan Maafkan aku, rerumputan,aku yang melangkah tanpa menyapamu,meninggalkan jejak kotor di tubuhmu,menjadikanmu abu dalam nyala yang angkuh.Gelak tawa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Nurkamari Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya, Alumnus Jabal Ghafur, Pidie Aku tumbuh bukan dari cinta yang utuh, tapi dari...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com