Oleh Muslimin Lamongan
renik ini masih keliaran sangkal
indera sekadar alat tanpa nurani
lugas semesta ini adaNya
mati logika terkapar rasa
labirin mencari sanggah eksistensi
lahir biak alamiah sendiri
Dia dibenam purba hikayat tak berarti
nun disukun dianggap imaji
Ibrahim mencariNya disangka alibi
renik melantang dalam tempurung majasi
Dia memanggil semakin jauh berlari
mengelanai sia-sia duniawi
mengendarai sifana renta tanpa sadari
layat itu usai menolak perjalanan abadi
hingga tangis kelayung menjemput
hingga sekarat meronta jerit langit
hanya sunyi waktu telah berlalu
teman sejati pergi, renik tersungkur sesal tiada arti
Lamongan, 26 Juli 2025
Diskusi