Artikel · Potret Online

Blackout Sumatera, Bukti Rapuhnya Infrastruktur Kelistrikan di Luar Jawa

Penulis Ir. Azhar, M.T
Mei 25, 2026
4 menit baca 10
f0731339-474d-413f-b7c0-79e021bd2e23
Foto / IlustrasiBlackout Sumatera, Bukti Rapuhnya Infrastruktur Kelistrikan di Luar Jawa
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.

Dosen Pada Faultas Teknik Universitas Lampung

Ketika aliran listrik di jaringan transmisi Sumatra terputus sejak Jumat malam, 22 Mei 2026, yang ikut padam bukan sekadar lampu. Pemadaman massal (blackout) ini dengan cepat memicu efek domino yang melumpuhkan urat nadi kehidupan jutaan warga, sekaligus memicu penurunan produktivitas dunia usaha dengan prediksi nilai kerugian finansial yang fantastis.

Di lini masa media sosial, internet berubah menjadi ruang kepanikan dan ketidakpercayaan kolektif. Hanya dalam hitungan jam, kenyamanan hidup modern menguap: sinyal telepon genggam lenyap karena baterai cadangan menara pemancar habis, sistem pembayaran digital (QRIS) dan mesin ATM eror, hingga lampu lalu lintas mati yang memicu kemacetan parah di jalanan kota.

Kerugian paling mendasar langsung memukul sektor domestik melalui krisis air bersih setelah listrik padam hingga 20 jam. Akibat pompa air elektronik mati dan pasokan tangki habis, warga di berbagai wilayah tidak bisa memasak, mencuci, maupun mandi. 

Di Kelurahan Damai, Kecamatan Binjai Utara, warga bahkan terpaksa mengantre panjang demi mendapatkan air bersih dari satu-satunya pompa sumur manual milik tetangga. Sektor rumah tangga juga harus menanggung kerugian akibat rusaknya peralatan elektronik dan risiko kriminalitas, seperti kasus pembobolan toko swalayan bahan pangan di Medan Marelan yang memanfaatkan matinya kamera CCTV dan sistem alarm di tengah kegelapan.

Bagi dunia usaha, krisis ini adalah mimpi buruk akibat anjloknya output barang dan jasa. Di pusat industri regional, mesin-mesin pabrik manufaktur terpaksa bungkam. Memakai genset bukanlah solusi murah karena pengusaha harus menanggung biaya operasional tambahan (extra cost) untuk membeli bahan bakar nonsubsidi yang mahal. Dampak serupa membuat bisnis kuliner lokal terpaksa menutup beberapa cabangnya dan membatalkan massal pesanan pelanggan. 

Sektor budidaya pun menjerit; petambak udang vaname di Desa Sialang Buah, Kabupaten Serdang Bedagai, terpaksa merogoh kocek dalam-dalam membeli bahan bakar nonsubsidi demi menjaga kincir air tetap berputar agar komoditas mereka tidak mati massal.

Di tengah situasi darurat ini, ketiadaan daya memaksa warga Kota Medan melahirkan adaptasi yang unik sekaligus ironis. Galeri ATM yang memiliki pasokan listrik genset diserbu warga bukan untuk mengambil uang, melainkan untuk mengisi daya ponsel hingga membawa blender demi menghaluskan cabai untuk memasak.

Namun, di atas semua kerugian materi, sistem kelistrikan Sumatra kini disorot tajam karena telah menelan korban jiwa akibat penggunaan genset yang tidak aman di ruang tertutup. Dua karyawan toko aksesori ponsel di Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, serta dua orang pelajar di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, ditemukan meninggal dunia akibat menghirup gas beracun karbon monoksida dari mesin genset yang dinyalakan selama pemadaman.

Blackout Sumatra menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Peristiwa kelam ini menegaskan adanya ketimpangan nyata dalam keandalan dan kedalaman mitigasi infrastruktur kelistrikan antara Pulau Jawa dan luar Jawa. 

Ketika aliran listrik terputus dalam waktu lama, kenyamanan, komunikasi, air bersih, mata pencaharian, keamanan lingkungan, hingga nyawa manusia ikut dipertaruhkan dalam kegelapan. Jika jaringan interkoneksi di pulau sebesar Sumatra saja masih seringan ini goyahnya, maka jargon “Indonesia Sentris” dalam pembangunan infrastruktur rasanya masih menjadi jargon di atas kertas.

Melihat dampak skala kerusakan pada jalur transmisi utama yang menjadi tulang punggung interkoneksi se-Sumatra, proses pemulihan total tidak bisa terjadi dalam semalam. PLN membutuhkan waktu berkisar antara tiga hingga lima hari sejak pemadaman pertama untuk membangkitkan kembali sistem secara bertahap. 

Hingga Senin malam (25/5/2026), pasokan listrik belum pulih seratus persen secara merata. Sementara area pusat kota dan objek vital mulai menyala, kawasan pemukiman dan wilayah penyangga masih harus menghadapi pemadaman bergilir (biar pet) demi menjaga stabilitas jaringan yang baru bangkit agar tidak kembali kolaps. 

Berdasarkan estimasi teknis di lapangan, seluruh sistem kelistrikan di pelosok Sumatra diproyeksikan baru akan normal total tanpa gangguan susulan paling lambat pada Rabu, 27 Mei 2026.

Kontras dengan kelumpuhan berhari-hari di Sumatra, catatan historis pemadaman massal di Pulau Jawa menunjukkan performa pemulihan yang jauh lebih gesit. 

Sebagai perbandingan, ketika krisis major blackout terbesar melumpuhkan wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat beberapa tahun lalu, PLN hanya membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 12 jam untuk menormalisasi sebagian besar wilayah terdampak, dengan area terjauh pulih sepenuhnya dalam kurun waktu maksimal 24 jam. 

Kecepatan ini bukan tanpa alasan; Jawa ditopang oleh sistem interkoneksi Jawa-Bali yang sangat rapat dengan jalur transmisi berlapis (redundancy), sehingga jika satu jalur kolaps, beban listrik dapat segera dialihkan melalui rute alternatif tanpa harus mematikan seluruh pulau.

Perbedaan durasi pemulihan yang sangat jangkung ini menjadi penegas utama atas ketimpangan infrastruktur kelistrikan antara Jawa dan luar Jawa. Di saat Jawa didukung oleh densitas pembangkit raksasa yang berdekatan dan skema sistem proteksi otomatis (island operation) yang mapan untuk mengisolasi gangguan, Sumatra justru masih bergantung pada satu garis tulang punggung transmisi yang membentang panjang dan rapuh dari selatan ke utara. 

Akibatnya, ketika jalur utama Sumatra terganggu, proses sinkronisasi ulang antar-pembangkit yang berjauhan membutuhkan waktu hingga lima hari—sebuah rentang waktu kritis yang harus dibayar mahal oleh masyarakat dengan kelumpuhan ekonomi, krisis sosial, hingga hilangnya nyawa manusia di dalam kegelapan. 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ir. Azhar, M.T
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...