Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Ilhamdi Sulaiman. (Sesungguhnya Aku akan mengumpulkan kembali tulang belulangmu yang tercecer dan menyempurnakannya.”Al Qiamah Dalam hisab aku menyaksikanumat berbaris...
2028 Karya :Ilhamdi Sulaiman (Lihat aku baik-baik!) Aku pohon. Dulu....
Karya: Sulaiman Juned Jangansalahkan hujan Membawa pohon, batu, beton dan rumah-rumah juga mobil memenuhi sungai menghancurkan ladang serta sawah-sawah. Kenapa...
Oleh. Juni Ahyar Selamat datang di negeri ajaib,tempat suara rakyatditakar dengan sebungkus mi instandan sebotol minyak goreng murah.Delapan puluh tahun...
Oleh Juni Ahyar Dua puluh satu tahun telah berlalu,namun laut masih menyimpan suara jeritannya.Di antara pasir dan nisan tanpa nama,waktu...
aldrinarief di CAFE Buku Reiner Emyot Ointoe Agama tidak datang untuk membuatmu nyaman,ia datang untuk membuatmu jujur.Jujur pada luka,pada kehancuran...
Kala Belantara Bicara Oleh Tabrani Yunis Kala hutan belantara bicara Dengan cara-cara luar biasa Semua bisa terjadi tanpa diduga Mengalir...
Oleh : Pril Huseno Bendera putih ini, naik tinggi sudah Diiringi derai air mata ibu, yang tetes matanya mengalir doa doa ... Inilah...
Oleh Sitti Zahara Tarmizi Reranting pohon bernyanyi dengan kencangnya anginDedaunan berguguran satu persatuTanah dengan senang hati menyambutnyaHujan mulai menjatuhkan rintikannyaSeorang...
PuisiAceh Negeri Hujan Air MataKarya Hamdani MulyaGuru SMAN 1 Lhokseumawe Hujan turun deras, membanjiri jalan-jalanMembawa kenangan, luka yang tak kunjung...
© 2026 potretonline.com