Minggu, April 19, 2026

2028

Januari 2026


2028

Karya :Ilhamdi Sulaiman

                    (Lihat aku baik-baik!)

Aku pohon.

Dulu.

Sekarang aku bernomor.

Ada yang memotretnya.

lihat!

angka di tubuhku!

viral katanya.

Tapi tak satu pun

memotret

siapa yang menuliskannya.

Aku menunggu setahun.

Kenapa?

Karena pemilu.

Karena rakyat harus sibuk.

Karena backing belum pasti.

Aku disimpan

seperti dosa

yang belum waktunya dibuka.

Saat hujan datang aku jatuh.

Aku dorong apa pun

di depanku.

Lalu kalian bertanya:

“Kenapa bisa begini?”

Karena kalian menebang

lalu pura-pura lupa.

Karena kalian memberi nomor

agar tak perlu menyebut nama.

Aku minta maaf

atas nyawa.

Tapi kalian

harus minta maaf

atas sistem.

Karena aku hanya kayu.

Sedangkan kalian

tahu betul

apa yang sedang kalian lakukan.

30 Desember 2025.

2028

Karya : Ilhamdi Sulaiman.

Aku pohon yang kehilangan nama

lalu diberi angka 

agar mudah diberi harga.

Setahun aku rebah di bukit 

tak bernama 

disembunyikan peta 

menunggu musim yang tak bisa direkayasa 

menunggu pemilu selesai pemenangnya.

Ketika janji sudah dikunyah

ketika sorak berubah jadi lupa ketika rakyat lengah 

aku akan dihanyutkan ke samudra 

sebagai komoditi kantong penguasa.

Kini aku dibiarkan 

seperti tanah retak tanpa doa.

Dengan cat merah tubuhku

diberi angka netizen bersuara

lalu viral sebentar saja sebab tertimbun gosip tumbler yang membalikan priuk petugas kereta.

Aku jatuh ke sungai

bukan karena ingin,

melainkan karena akar

sudah dicabut dari makna.

Jika aku menghantam rumah

karena aku didorong waktu.

Jika aku menelan nyawa

karena aku terlalu lama dipaksa menunggu.

kalian bernama

Badanku diberi angka 

aku bersalah

kalian permasalah.

5 Desember 2025

2028

Karya : Ilhamdi Sulaiman

Aku tidak tumbang.

Aku ditidurkan.

Setahun penuh

di perbukitan

tanpa akar,

tanpa makan,

tanpa hak bertanya buat apa.

“Jangan angkut dulu,

Tunggu pemilu selesai.”

Aku menunggu

spanduk diturunkan

janji dilipat

rakyat disibukkan.

Aku menunggu

siapa yang membeking nanti

Siapa yang berani

menarikku keluar

tanpa takut kamera.

Di badanku

ada nomor.

Lalu hujan turun

tanpa izin.

Bukit yang kalian lubangi

menyerah.

Aku meluncur.

Ribuan  orang mati.

Dan aku disebut biang.

Padahal aku hanya barang bukti

yang terlalu lama

disembunyikan.

Aku bernomer

karena kalian tak mau

menyebut nama

siapa yang menebang.

18 Desember 2025

Tentang Penulis
Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist