Oleh Jengki Sunarta
Seribu Kuli
Di konstruksi pencakar langit
Seribu kuli meniti bilah-bilah besi
Di puncak tower Tuhan duduk santai
Membaca teka-teki
Yang dilontarkan seribu kuli
Ke langit muram
Bertaburan serbuk semen
“Mengapa upah kami murah
Dan peluh kami mengeluh?!”
Teriak seribu kuli
Pada udara tohor
Di ujung crane, Tuhan tersedu
Menyaksikan seribu kuli
Merayapi konstruksi
Di sebidang lahan tak bernama
Bekisting mencetak wajah seribu kuli
Dalam beton-beton beku
Tak ada cahaya
Pada anagram
Hanya bayangan hitam
Mengelupas dinding kaca
Luruh menjadi kata-kata
Kusam
Pada kontrak kerja
Wjs, 2025
-Respon terhadap puisi “Elitz Pertama” dalam buku “Setelah Deru Paku dan Palu” karya Kim Al Ghozali
Diskusi