HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Benang Kusut Masalah Pengemis di Negeri Syariah

Redaksi by Redaksi
Desember 6, 2024
in Artikel, FEB UIN Ar-Raniry
Reading Time: 4 mins read
0
Benang Kusut Masalah Pengemis di Negeri Syariah
630
SHARES
3.5k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Muhammad Fitrah Insani

Mahasiswa Prodi : Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh 

Baca Juga

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026

Di persimpangan jalan yang sibuk seperti Simpang BPKP Banda Aceh, keberadaan remaja pengemis telah menjadi pemandangan yang lazim. Mereka berdiri memegang kardus dengan tulisan tangan yang meminta bantuan. Mereka berusaha menggugah rasa iba siapa pun yang melintas. Sebagai pengguna jalan, sering melewati jalan itu, penulis sering mengamati gerak-gerik mereka. Kadangkala, ketika tidak ada yang memberikan sedekah, wajahnya tampak sangat kecewa. Ia berulang kali, hilir mudik, ketika kendaraan berhenti dengan menjulurkan kotak atau kardus di tangan mereka ke arah pengemudi, dengan wajah memelas.

Sering muncul dalam benak penulis, apakah ia mengemis karena ia membutuhkan uang untuk membiayai hidupnya sehari -hari, atau sebuah modus saja. Ternyata, setelah penulis melakukan pengamatan lebih dalam, dan melakukan wawancara langsung dengan salah satu dari mereka, penulis mendapatkan jawaban bahwa fenomena ini tidak selalu seperti yang terlihat.

Saat diwawancari, ia menceritakan kisah yang mengundang simpati. Pengemis ini mengatakan bahwa ia putus sekolah, karena keluarganya tidak mampu membayar biaya pendidikan. Ia seorang anak yatim, sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang penghasilannya jauh dari cukup.

“Saya harus bantu ibu bang. Kalau nggak, kami nggak bisa makan hari ini” ucapnya dengan suara yang lemas dan sambil menundukkan kepala.

Namun, observasi lebih lanjut yang penulis dilakukan, memberikan gambaran yang berbeda. Penulis mendapati bahwa pengemis itu tidak benar-benar hidup dalam kondisi seperti yang ia ceritakan. Dikatakan demikian, karena Ia diantar oleh seorang bapak bapak tua yang menggunakan sepeda motor yang kedua – duanya menggunakan baju yang sangat rapi, bahkan jika tidak diamati lebih dalam tidak seperti pengemis melainkan seorang bapak dan anak yang sangat berkecukupan.

Nah, ketika ia melakukan aksi mengemis, penulis melihat saat berada di simpang BPKP ia mengganti bajunya dengan yang lebih lusuh di salah satu warung kopi terdekat. Penulis hanya bisa berdecak dan menyimpulkan bahwa pengemis ini telah diajarkan atau terbiasa untuk menggunakan cerita sedih demi menarik perhatian dan belas kasihan orang lain.

Hal ini mencerminkan ada sisi lain dari masalah sosial di Banda Aceh. Penulis melihat bahwa ada pola yang sengaja dibangun untuk membangkitkan empati publik, yang sering kali dimanfaatkan untuk mendapatkan bantuan instan, tanpa usaha yang lebih produktif. Pemberian uang secara langsung oleh masyarakat di jalanan, meskipun dimaksudkan untuk membantu, justru memperkuat pola ini, membuat mereka terus bergantung pada belas kasihan orang lain.

Penulis juga mencermati bahwa fenomena ini tidak terjadi secara spontan. Pengemis tersebut tampaknya memiliki pemahaman mendalam tentang waktu dan tempat terbaik untuk “bekerja.” Mereka hadir di lokasi-lokasi strategis pada saat lalu lintas padat, ketika pengguna jalan tidak punya banyak pilihan selain memberikan uang atau berpaling dengan rasa bersalah. Begitulah, masyarakat  atau kita memang jadi serba salah. Ketika tidak memberikan sedekah pada mereka, muncul rasa bersalah, seolah-olah kita terlalu pelit dan tidak mau bersedekah, namun ketika memberikan sedekah, dampaknya juga sangat besar.

Maka, penulis  sendiri menyadari bahwa ini akan menjadi masalah yang besar untuk ke depannya. Masalah ini tidak hanya sebatas keberadaan pengemis yang memanfaatkan empati publik, tetapi juga mencerminkan eksploitasi anak yang berpotensi merusak masa depan generasi penerus bangsa.  Bayangkan saja, anak-anak yang dilibatkan dalam aktivitas mengemis kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka melalui pendidikan dan keterampilan yang seharusnya menjadi hak mereka.

ADVERTISEMENT

Jika situasi ini terus dibiarkan, tidak hanya pengemis yang terjebak dalam siklus kemiskinan, tetapi masyarakat pun akan semakin skeptis terhadap siapa yang benar-benar membutuhkan. Hal ini akan merugikan orang-orang yang memang sangat membutuhkan bantuan, tetapi kehilangan kepercayaan dan simpati dari masyarakat karena tindakan oknum-oknum yang memanfaatkan situasi.

Masalah ini berpotensi berkembang menjadi isu serius. Ini bukan sekadar tentang pengemis yang memanfaatkan empati publik, tetapi juga menyangkut eksploitasi anak yang mengancam masa depan generasi penerus. Anak-anak yang dilibatkan dalam aktivitas mengemis tidak hanya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan, tetapi juga mengalami kerusakan mental yang menghambat perkembangan mereka.

Ya, bukan hanya pengemis yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan, tetapi masyarakat juga akan menjadi semakin skeptis terhadap mereka yang benar-benar membutuhkan. Kepercayaan publik yang terkikis akibat tindakan manipulatif ini hanya akan merugikan kelompok rentan yang memerlukan bantuan.

Sebenarnya, eksploitasi anak dalam bentuk apa pun merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan menghambat perkembangan masa depan mereka. Anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan dipaksa mengemis, sehingga kehilangan potensi untuk berkontribusi bagi bangsadan negara.

Apalagi, keterlibatan mereka dalam mengemis dapat menimbulkan mentalitas ketergantungan yang sulit diubah, memperburuk siklus kemiskinan yang sudah ada. Selain itu manipulasi semacam ini dapat melemahkan empati masyarakat, mengurangi efektivitas penyaluran bantuan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Untuk menghadapi masalah ini, diperlukan penanganan yang cepat dan komprehensif dengan melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga kesadaran individu. Kiranya, pemerintah setempat dan masyarakat harus bekerja sama secara lebih terstruktur. Pendataan sosial yang akurat harus dilakukan untuk memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Selain itu, perlu ada program pemberdayaan yang berfokus pada memberikan alternatif penghasilan bagi keluarga miskin, seperti pelatihan keterampilan dan dukungan usaha kecil.

Di sisi lain, masyarakat juga harus diajak untuk lebih bijak dalam memberikan bantuan. Menyalurkan donasi melalui lembaga resmi yang terorganisir adalah langkah yang lebih baik daripada memberikan uang langsung di jalanan. Dengan cara ini, bantuan tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga membantu menyelesaikan akar masalah.

Bagi penulis sendiri, hasil wawancara dengan pengemis  ini menjadi pelajaran berharga bagi penulis. Terkadang, cerita yang mengundang simpati tidak sepenuhnya mencerminkan kebenaran. Hal ini tidak hanya tentang kemiskinan atau rasa iba, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat berpikir lebih kritis dan bijak dalam menanggapi situasi sosial. Dengan pendekatan yang tepat, penulis percaya bahwa masalah ini dapat diatasi secara berkelanjutan, membuka jalan bagi perubahan yang lebih baik di masa depan. Masalah pengemis di Aceh, khususnya di kota Banda Aceh menjadi benang kusut yang sulit diurai. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 361x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 274x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 228x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 190x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #pengemis#sedekahanak jalanan
SummarizeShare252
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Zakat untuk Makan Gratis
zakat

Zakat untuk Makan Gratis

Januari 17, 2025
Ia Penyandang Disabilitas
Aceh

Ia Penyandang Disabilitas

Desember 30, 2024
Perempuan – Perempuan Yang Terseret ke Dunia Pengemis
Banda Aceh

Perempuan – Perempuan Yang Terseret ke Dunia Pengemis

Desember 28, 2024
POTRET Senja di SPBU Lamnyong
Essay

POTRET Senja di SPBU Lamnyong

Desember 27, 2024
Next Post
Sistem Demokrasi, Membutuhkan Pemerintah Yang Demokratis

Sistem Demokrasi, Membutuhkan Pemerintah Yang Demokratis

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com