Artikel · Potret Online

Membaca Profesor Dengan Tiga Cermin

Penulis Saiful Bahri
Juni 10, 2026
3 menit baca 18
9d96e58e-d637-41dd-a474-0f472d6db677
Foto / IlustrasiMembaca Profesor Dengan Tiga Cermin

Oleh Saiful Bahri 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh_

Beberapa hari ini saya membaca tulisan berjudul “Profesor Enggan Menulis di Koran”. Tulisan yang ditulis oleh Prof. Dr. Jarjani Usman, Ph.D di Potretonline.com, edisi  3 Juni 2026. Saya baca berulang. Jujur, saya mengangguk. Tapi setelah itu saya termenung panjang. 

Tulisan yang logis, akademik, penuh data. Intinya: profesor sibuk, beban kerja tinggi, KUM koran kecil, risiko sosial besar.

Saya hormat pada penulisnya. Saya paham kegelisahannya. Tapi izinkan saya, masyarakat biasa, bertanya dengan adab: Sejak kapan “KUM” jadi tujuan? Bukankah KUM itu jejak, bukan tujuan?

Izinkan saya bedah 3 “alasan” itu dengan 3 cermin:

*1. CERMIN PRESIDEN: “SIBUK”*  

Presiden yang mengurus 279 juta rakyat. Rapat dari Subuh sampai tengah malam. Tapi beliau masih sempat memberikan gagasan di koran, masih sempat bicara langsung ke rakyat, tidak melulu di forum DPR/MPR.

Kalau Presiden yang “paling sibuk sedunia” masih bisa, masa kita yang “sibuk mengajar 3 kelas” bilang tidak sempat?

Dan ini “big question”-nya: Kalau ada profesor lain yang masih bisa nulis koran, apakah mereka tidak membimbing mahasiswa?  

Apakah mereka tidak sibuk mengajar?  

Apakah mereka tidak sibuk menyusun kurikulum?  

Apakah mereka tidak sibuk mengadakan penelitian?

Ternyata mereka bisa. Berarti masalahnya bukan “sibuk”. Masalahnya adalah skala “prioritas”.

*2. CERMIN GURU NGAJI: “KUM KECIL”*  

Guru ngaji di kampung saya KUM-nya nol. Tidak ada angka kredit. Tapi tiap Maghrib, 40 anak desa berebut cium tangannya.

KUM koran memang “0 koma sekian”. Tapi 1 tulisan koran bisa dibaca 300 ribu orang. 1 tulisan koran bisa bikin Bupati malu lalu perbaiki jalan rusak.

Mana yang lebih “berkredit”: 40 KUM yang dibaca 3 reviewer, atau 0,5 KUM yang dibaca 300 ribu rakyat?

*3. CERMIN NABI: “RISIKO SOSIAL”*  

Wajar takut dikritik, takut diserang netizen. Manusiawi.

Tapi Nabi Ibrahim dilempar ke api. Nabi Muhammad dilempari batu di Thaif. Guru mengaji dicibir “ustadz YouTube” karena kritik dana desa.

Kalau semua takut risiko, siapa yang bicara untuk rakyat kecil?

Profesor itu “pewaris para Nabi”. Tugasnya bukan cuma numpuk KUM di Scopus. Tugasnya menyampaikan kebenaran walau pahit.

*PENUTUP UNTUK KITA SEMUA:*

Saya setuju: kita perlu sistem insentif yang adil. Kita perlu kampus yang hargai tulisan populer. Kita perlu pelatihan menulis.

Tapi sambil menunggu sistem berubah, mari kita mulai dari diri sendiri.

30 menit sehari. 1 paragraf. 1 gagasan untuk rakyat. Tidak usah pakai teori. Pakai bahasa emak-emak di pasar juga jadi.

Mulai malam ini, mari kita coba. HP kita matikan 30 menit. Laptop kita buka. Tulis 1 paragraf untuk rakyat.

Karena kelak di akhirat, Allah tidak akan tanya: “Berapa KUM-mu?” 

Allah akan tanya: “Ilmu-Ku yang Aku titipkan kepada kamu, sudah kamu sampaikan ke umat-Ku belum?”

_Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh_  

Saiful  Bahri

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Motivator, berdomisili di Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...