Filsuf

Oleh M. Azril Ihksan
Mahasiswa UIN-Ar-Raniry Banda Aceh
Filsuf. Kata yang sering terdengar di antara kita. Ada yang mengatakan Filsuf itu seseorang yang suka menekuni Ilmu pikiran. Beberapa orang mengatakan bahwasanya, Filsuf adalah seorang yang bijak.
Filsuf dalam artian bahasanya, orang yang gandrung¹ ataupun cinta ke arah kebijaksanaan. Dalam Diskusi kami di Majelis Dalwa², Saya dan Prof. Fuad Mardhatillah memberi arti yang khas untuk satu pertanyaan:
“Siapa yang benar-benar dikatakan seorang Filsuf?”
“Filsuf adalah seorang yang memiliki pemikiran yang mengakar dan mendasar terhadap sesuatu hal hingga menyentuh hakikat/esensi dari sesuatu hal.”
Lanjutnya, dengan kata-kata yang mengalir seperti Air Krueng Lamnyong:
“Pemikiran sang Filsuf itu lestari, dalam artian lebih lanjut relevan dengan masa yang akan datang. Walaupun sang Filsuf harus menerima, jika pada suatu zaman nanti pemikirannya, tidak lestari dan relevan lagi.”
Lebih dari itu, bagi saya untuk tugas utama sang Filsuf itu satu:
“Menenun pemikiran-pemikiran yang segar, baru dan relevan dengan zaman.”
Sifat Berpikir Sang Filsuf
Sekitar seminggu, sebelum lebaran yang lalu, saya dan Prof. Fuad Mardhatillah melanjutkan obrolan lagi mengenai pengertian lebih lanjut soal sang filsuf. Pertemuan malam itu disertai pemadaman listrik di daerah Banda Aceh dan sekitarnya yang berakhir memaksa kami berpindah ke Majelis Zakir.³
Saya mengajukan pertanyaan pemantik, awal-awal:
“Kemarin kan sudah unggah tulisan soal sang filsuf. Bagaimana kalau tulisan selanjutnya membahas tentang sifat sang filsuf itu sendiri?” Pak Fuad Mardhatillah menjawab, “Sifat yang mana?”
“Sifat pemikirannya. Mungkin radiks, logis, ataupun sistematis!”
“Ya sudah, mari kita bahas!”
Dasar-dasar sifat pemikiran sang filsuf sebenarnya terdiri dari banyak hal. Namun, yang menjadi inti utamanya adalah:
Rasional: Sifat pemikiran, tindakan, atau keputusan yang didasarkan pada logika, akal sehat, dan bukti objektif. Lebih lanjut, sang filsuf dituntut mampu membedakan mana asumsi, kebohongan, dan fakta.
Radiks: Berpikir mendasar hingga ke akar persoalan suatu hakikat. Secara etimologi, berasal dari bahasa Latin radix atau radicis yang berarti “akar”. Artinya, sang filsuf dapat menyentuh makna murni dan paling dasar dari suatu hal.
Sistematis: Sifat berpikir yang disusun secara teratur, berurutan, dan terencana menurut pola tertentu. Sederhananya, ada “hulu” dan “hilir” yang jelas dalam memandang sesuatu.
Universal: Sifat berpikir yang menghasilkan kebenaran umum dan dapat diterima secara luas. Contohnya, penemuan teori gravitasi oleh Sir Isaac Newton yang menjadi kebenaran universal.
Dari sifat-sifat berpikir ini, siapa saja dapat mengambil hikmah tentang bagaimana tata pikir seorang filsuf. Harapannya, pengamalan sifat berpikir ini dapat diketahui, dirasakan, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, hingga mampu melahirkan jiwa yang tenang dan bahagia.
Keterangan
¹ Kata “gandrung” berasal dari bahasa Jawa yang berarti tergila-gila atau cinta.
² Majelis Dalwa, kedai kopi Aceh, bernama Dalwa. Tepatnya di daerah Darussalam.
³ Majlis Zakir: Kedai kopi Zakir di dekat Jembatan Lamnyong, Darussalam, Banda Aceh.












