Aku Lahir di Kota Tak Maju -Maju

Oleh Anies Septivirawan
Aku lahir pada tengah malam Sabtu Pahing di kota yang peta jalannya tidak pernah selesai. Dan penampilan fisik jalan di kotaku tidak berubah. Dari saat aku SD sampai aku dewasa lalu nyaris menjadi manusia lanjut usia, jalan depan rumah begitu- begitu saja. Ketika bolong ditambal, rusak lagi. Seperti janji-janji politik para kontestan pada musim berkampanye.
Bersedihkah aku? Dua kali lipat.
Selain tampilan fisik jalan yang selalu seperti itu saja, kotaku juga tidak punya jati diri seni budaya. Dulu ada tari khas yang gerakannya meniru ombak di pantai selatan. Sekarang ombaknya masih ada, tarinya lenyap. Diganti flashmob, pas ada sponsor datang. Pendopo dibongkar jadi parkiran. Bahasa daerah jadi bahan ledekan: “Nggak gaul ah kalau ngomong gitu,” Anak-anak SD lebih lancar menyebut nama minuman franchise daripada menyebut nama nenek moyang daerahnya sendiri.
Akhirnya aku berkesimpulan dan sering bergumam dalam hati bahwa kota tempat ibuku menanam ari-ariku tidak maju-maju juga.
Tidak maju karena macetnya dari berpuluh-puluh tahun lalu sampai sekarang modelnya sama. Tidak maju karena anak mudanya pinter-pinter, namun ketika lulus sekolah, langsung ngantri kapal ke kota lain.
”Di sini mau kerja apa?” kata mereka. Industri? Tidak ada. Pabrik-pabrik gula? Sebagian sudah pindah ke alam lain alias gulung tikar. Sebagian lagi, megap-megap karena produksi gulanya digempur gula impor. Startup juga tidak ada. Yang ada cuma warung – warung kopi baru yang buka tiap bulan terus tumbuh subur bak jamur di musim hujan, tapi tutup 3 bulan kemudian.
Turis datang, dan bertanya, “Ikon kota kalian apa?” Mereka menjawab: “Bundaran sama patungnya,” Patung siapa? Tidak ada yang tau. Yang penting ada buat foto.
Paling parah, ketika pas pulang kampung temanku dari Jakarta. Dia bilang, “Kota lo adem, Mas. Tapi ademnya kayak kulkas yang mati lampu. Dingin, hening, dan semua makanan di dalamnya basi pelan-pelan,”
Aku marah. Aku kecewa. Tapi tiap malam aku masih melintas di alun-alun. Masih melihat dan mendengarkan seorang lelaki tua yang meniup seruling bambu di pojokan kota. Sumpek, tapi itu satu-satunya suara yang menyeret ingatanku bahwa kota ini pernah punya lagu.
Mungkin kota ini bukan tidak bisa maju. Mungkin kotaku ini cuma lupa mau maju ke mana. Kalau arahnya saja tidak tau, bagaimana mau berjalan? Dan kalau lagunya sudah lupa, mau maju pakai semangat apa?
Aku masih di sini. Menunggu. Sembari mencatat semua yang hampir hilang. Agar nanti, pada suatu masa, kalau ada yang mau membangun kota yang terus seperti ini, tidak ada perubahan setidaknya ada yang bisa berpesan, inilah nadanya. Inilah ceritanya. Terus? Aku lahir di kota apa?












